Cerpen: Khianat
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 5 Jul 2025
- visibility 1.738
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Istrinya disuruhnya untuk resign dari pekerjaan administrasi pabrik. Dia ingin istrinya mengurusi anak dan rumah. Umur Parta dan istrinya terpaut tujuh tahun lebih tua Parta. Selama lima tahun pernikahan rumah tangga mereka baik-baik saja. Saling mesra dan penuh kepedulian ketika mereka sedang merindu.
***
Parta tiba di kampus sesudah mengendarai motornya selama berjam-jam. Pantatnya panas karena kelamaan duduk di atas jok motor. Sesekali dia berhenti istirahat di pom bensin untuk duduk melepas penat dalam perjalanan. Dirapikannya bajunya dengan memakai dasi dan sepatu hitam.
“Selamat pagi pak Parta.”
“Selamat pagi pak Juli. Bagaimana kabarnya hari ini, baik?”
“Baik dan penuh semangat pak.”
“Saya pun juga begitu.”
“Pasti habis dari Temanggung kan?”
“Iya, tadi subuh saya dari rumah.”
Baru bersapa dengan teman sesama dosen, telepon Parta berdering. Dikeluarkannya telepon dari saku jaketnya. Ternyata Nadia yang menghubunginya. Dia segera tidak basa-basi dan mengangkat telpon dari istrinya.
“Sayang, sudah sampai kampus?”
“Baru saja sampai sayang.”
“Bagaimana perjalanan tadi, aman kah?”
“Aman sayangku. Aman!”
“Semangat mengajar ya, sayang.”
“Iya, terimakasih sayang.”
Parta menutup telepon dan bersama temannya masuk ke gedung. Parta menyiapkan beberapa materi perkuliahan yang akan dia ajarkan. Parta adalah dosen sastra Indonesia. Dia mengajar mata kuliah psikologi sastra. Setelah menyiapkan beberapa power point untuk perkuliahan mahasiswa-mahasiswanya, dia segera masuk ke gedung sebelah untuk mengajar.
Parta terkenal sebagai dosen yang asyik dan kalem. Dia tidak pernah marah ketika mengajar. Bahkan mahasiswa-mahasiswanya tertarik untuk mengikuti materi perkuliahannya sampai selesai. Walaupun ada pula yang tidak betah duduk di ruang dan memilih keluar. Parta menjelaskan materi tentang studi psikologi sastra zaman kolonial. Di dalam pengajaran yang dia berikan, dia menyisipkan salah satu puisinya untuk dibaca oleh salah satu perwakilan mahasiswa.
Selama dua jam mengajar, kini selesai sudah pembelajaran. Dia segera mencari teleponnya dan menghubungi Nadia. Dia tidak bisa untuk tidak bucin. Dia sangat mencintai istrinya. Sehingga dia sangat effort kepada istrinya. Dia menghabiskan waktu selain untuk mengajar juga untuk menelpon istrinya setiap saat. Parta tidak mau kehilangan istrinya yang dia cintai sangat-sangat itu.
“Halo sayangku.”
“Iya sayang. Sudah selesai mengajarnya?”
“Sudah. Bagaimana Lasmi, dia sudah pergi ke sekolah?”
“Sudah, tadi naik sepeda bersama dengan Rudi tetangga kita.”
“Sudah makan belum?”
“Sudah. Kamu sudah makan belum?”
“Belum. Suapin dong yang!”
“Jauh, bagaimana menyuapinya?”
“Ya begitulah. Kamu janji ya?
“Janji apa sayang?”
“Jangan pernah tinggalkan aku!”
“Sudah berapa kali kamu bilang begitu, tentu aku tidak akan tinggalkan kamu.”
“Janji?”
“Iya, janji.”
Begitu sayangnya Parta kepada istrinya. Sampai-sampai cincin emas pernikahan mereka selalu dipakai Parta. Dia sudah dewasa tapi masih bucin. Hatinya selalu dibayangi ketakutan. Setiap hari gelisah, takut istrinya pergi meninggalkannya dan selingkuh dengan lelaki lain.
Tetapi apa yang dipikirkan Parta dalam kegelisahannya itu memang benar-benar terjadi. Nadia yang jauh dari suaminya selalu menelpon Sukra mantan kekasihnya. Nadia tidak bisa menghilangkan bayang-bayang Sukra. Karena cinta pertama Nadia adalah Sukra. Sukra yang pertama kali meniduri Nadia ketika mereka masih berpacaran.
Bahkan di hadapan Parta, Nadia pernah bercerita kalau dia dulu sangat mencintai Sukra. Setiap kali Sukra butuh uang Nadia akan memberikannya berapapun juga secara cuma-cuma. Bahkan Nadia rela pergi ke rumah Sukra ketika usai seharian bekerja. Hanya demi bertemu Sukra dan mengajak Sukra pergi makan dan jalan-jalan. Sukra tidak pernah mengeluarkan uang sama sekali. Pasti Nadia yang selalu membiayainya. Karena memang Nadia yang sangat cinta pada Sukra.
Hari ini, tepat siang hari Sukra berjanji akan menemui Nadia di sebuah kedai. Mereka biasa berpacaran seperti dulu. Sungguh amat keji dan nista perbuatan Nadia. Nadia sudah bersuami dan beranak pula. Tapi tega menghianati janjinya pada Parta. Sedangkan Parta adalah lelaki yang baik dan tulus mencintai Nadia. Dia bekerja banting tulang hanya untuk kebahagiaan Nadia. Tetapi uang yang dikasih Parta justru digunakan Nadia untuk selingkuh dengan Sukra.
Sudah beberapa kali Nadia dan Sukra keluar-masuk hotel yang sama hanya untuk melakukan hubungan badan. Perbuatan itu dilakukan Nadia karena dia dalam hati tidak pernah mencintai Parta. Dia hanya cinta pada Sukra seorang. Tiada yang lain di dalam hatinya selain Sukra.







Saat ini belum ada komentar