Cerpen: Khianat
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 5 Jul 2025
- visibility 1.737
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Karya: Muhammad Lutfi
JAM pagi berdetak. Bersiap segala manusia mencari pundi-pundi uang. Rasanya baru semalam Parta bertemu dengan anak dan istrinya. Baru semalam Parta dapat mencurahkan gelisah rindunya selama bekerja di perantauan. Tentulah lelaki yang sudah berbini apalagi beranak tak dapat melepaskan kenangan rumahnya.
“Sayangku Nadia, jaga anak kita dan dirimu!”
“Itu sudah pasti, Mas.”
“Aku kerja dulu.”
“Jangan lupa telepon kalau sudah sampai.”
“I love you.”
“I love you too.”
Dengan mengendarai sepeda motor tuanya, Parta bergegas pergi. Dalam benaknya susah melepas kepergiannya sendiri. Dibayang-bayangi oleh wajah istrinya dan jeritan tangis anaknya. Tapi dikibaskan semua itu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga.
“Ayah, ayah.”
“Sudah bangun ya. Ayah sudah berangkat.”
“Kenapa Lasmi tidak dibangunkan ayah?”
“Ayahmu buru-buru. Jarak dari Temanggung ke Semarang kan jauh.”
Anak Parta yang bernama Lasmi bangun dan memanggil ayahnya. Begitu juga dengan anaknya, rindu pada ayah ketika ditinggal pergi bekerja membuatnya bersedih. Nadia pun membopong anaknya masuk ke kamar dan segera menyuruhnya untuk segera mandi dan persiapan pergi ke sekolah.
Lasmi anak yang rajin dan baik. Dia kini kelas 5 SD. Prestasinya di bidang olahraga taekwondo tidak diragukan lagi. Sudah beberapa piala dia peroleh. Selain prestasi di bidang olahraga, Lasmi juga berprestasi di bidang akademik. Dia selalu mendapat peringkat pertama di kelas mengalahkan teman-temannya. Apalagi dalam mapel bahasa Indonesia yang sangat dia kuasai. Nilainya selalu bagus.
Parta memang mendidik anaknya untuk selalu mendapat juara pertama dalam bidang akademik dan berprestasi di bidang non akademik. Parta sendiri seorang lulusan doktoral dari salah satu universitas ternama dan populer di Yogyakarta. Dia bekerja sebagai salah satu dosen di universitas di Semarang. Jarak rumahnya di Temanggung yang jauh itu memutuskannya untuk berpisah dari keluarganya dan pulang seminggu sekali.
Cita-cita Parta sejak muda dulu memang menjadi seorang dosen. Rela ditinggalkannya pekerjaan guru negeri untuk meraih cita-citanya itu. Dia terkenal pandai. Dia tidak perlu tes lagi untuk masuk ke universitas ketika kuliah karena dia mendapatkan undangan untuk masuk ke universitas yang dia pilih.







Saat ini belum ada komentar