Cerpen: Khianat
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 5 Jul 2025
- visibility 1.739
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Hari itu seusai mengajar, Parta merasa hatinya cemas. Ada perasaan khawatir yang tidak biasa. Dia menelpon istrinya berulang kali tapi tidak diangkat. Berulangkali Parta mengirim pesan kepada istrinya tapi tidak dibalas. Sudah tiga hari telepon tidak diangkat dan pesan Parta tidak dibalas Nadia. Karena resah dan cemas, dia tidak bisa berpikir. Dia memutuskan untuk pulang ke Temanggung dengan ijin lebih dulu kepada kaprodi.
Dalam perjalanan pulang, hati Parta sangat kesal dan marah. Dia berpikir apa yang telah dilakukan Nadia kenapa tidak mengangkat teleponnya dan tidak mau diajak berkomunikasi. Biasanya Nadia lah yang mengajak komunikasi lebih dulu dan selalu perhatian kepada Parta. Setelah berjam-jam berkendara, dia sampai di rumah. Didapati rumahnya sepi. Parta mengetuk pintu dan mengucap salam berulang kali, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Tidak ada yang membuka pintu.
“Siapa itu?”
“Ini ayah nak.”
“Ayah.”
Lasmi membuka pintu. Dan dia menangis. Tidak ada Nadia di dalam rumah. Semestinya Nadia menjaga rumah dan Lasmi. Tapi dibiarkannya Lasmi sendirian di rumah. Parta semakin tambah curiga dan dicarinya istrinya ke seluruh isi rumah, tapi tidak dia temukan keberadaan istrinya.
Tiba-tiba Nadia datang dengan mengendarai motor. Dia beralasan kepada suaminya kalau dari belanja daging dan sayur di rumah. Parta mau marah tapi tidak bisa. Dia takut istrinya akan sakit hati dan pergi meninggalkannya.
“Dari pasar apa darimana, jujur saja!”
“Aku belanja dan aku tidak mau mengulangi lagi perkataanku. Apa kamu tuli?”
“Lasmi kamu tinggalkan sendiri di rumah?”
“Itu urusanku. Kenapa, tidak suka?”
“Kamu itu, sungguh…”
“Begitu ya ternyata kamu, marah dan selalu memarahiku. Jadi ini sifat aslimu.”
“Astagfirllah. Sadar sayang. Kapan aku pernah marah padamu. Ini saja aku tidak berani marah.”
“Sudahlah, lebih baik kita berpisah. Aku sudah muak denganmu.”
“Ingatlah janji yang pernah kamu ucapkan padaku!”
“Aku sudah lupa, kamu yang membuatku sakit hati. Aku kamu bikin sakit hati setiap hari.”
“Jangan pergi sayang!”
“Jangan panggil aku sayang. Aku bukan siap-siapamu lagi. Kita resmi berpisah.”
Sungguh sangat dalam kesedihan hati Parta. Hatinya bagai ditusuk belati ditambah dirobek dengan pisau yang tajam. Parta hanya bisa menangis. Dia tidak berani marah. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hanya dipeluknya Lasmi. Lasmi menangis dipelukan Parta sambil memanggil ibunya agar tidak pergi meninggalkannya. Nadia sudah menyiapkan pakaian dan tas lalu pergi meninggalkan rumah.
Ternyata Nadia sudah berjanji akan pergi hidup bersama Sukra. Nadia menciumi bibir Sukra dan memeluknya erat. Sukra juga memeluk Nadia dengan erat. Mereka berdua tersenyum dan saling mencium pipi.
“Sudah kamu tinggalkan lelaki tua itu?”
“Sudah, biarkan saja. Aku jijik tiap kali mengingat wajahnya. Wajahnya tua dan jelek. Bucin pula.”
“Iya sayangku.”
“Dasar Parta, lelaki tua tidak tahu diri. Maunya memiliki gadis yang cantik dan muda. Mimpi dia itu.”
Nadia dan Sukra akhirnya pergi bersama dan hidup bersama. Sedangkan Parta dan anaknya menaggung malu. Jadi gunjingan tetangga dan bahan ejekan tetangga. Bahkan Parta diejek oleh teman-temannya sesama dosen karena sudah ditinggalkan istrinya secara hina.
Pati, 6 Juni 2025
Tentang Penulis
Muhammad Lutfi, kelahiran Pati, 15 Oktober 1997. Semasa kuliah sastra di UNS mendalami dunia drama melalui teater di fakultas. Kemudian tertarik mendalami dunia seni drama melalui pementasan teater rutin di TBJT Surakarta. Buku naskah drama: ASUH, ELEGI, MURTAD.







Saat ini belum ada komentar