Garam Kebumen Mulai Dikenalkan ke Pasar Eropa
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 8 Sep 2021
- visibility 3.624
- comment 0 komentar

Petani di Kampung Garam Kebumen memanen garam. (Foto: Istimewa)
KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Petani garam di Desa Mirit Petikusan, Kecamatan Mirit Kebumen terus mengembangkan pemasaran produk mereka. Tidak hanya di tingkat lokal, mereka mencoba menjajaki pasar mancanegara.
Pengurus Kelompok Petambak Garam Jagad Kidul Widodo (39) menjelaskan, produk garam mereka jual ke toko organik, pabrik kecap organik, pabrik sabun di wilayah Yogyakarta dan Purwokerto. Saat ini mereka juga mencoba mengirim sampel ke eropa termasuk Turki.
“Semoga bisa lolos dan kirim ke sana,” kata Widodo, Selasa 7 September 2021.
Baca Juga: Menteri Kelautan dan Perikanan Dorong Petambak Garam Kebumen Pasarkan Secara Digital
Para petani di pesisir selatan Kebumen ini sukses memproduksi garam dengan kualitas tinggi. Kelompok Jagad Kidul sudah mulai memproduksi garam sejak tahun 2018 dengan memanfaatkan lahan bengkok desa seluas 40 meter x 70 meter di Desa Mirit Petikusan, sekitar 600 meter dari Pantai Petikusan.
“Kapasitas produksi saat ini rata-rata enam ton per bulan,” ujar Widodo.
Kelompok Jagad Kidul beranggotakan 11 orang. Mereka telah terbagi dalam pengelolaan tambak, tiga orang mengurusi bagian produksi. Sisanya bagian pemasaran dan membantu sewaktu-waktu dalam proses mengisi tandon dan saat panen.
Baca Juga: Kampung Garam Kebumen Menuju Top 45 Inovasi Pelayanan Publik Nasional
Lahan tembak garam dulunya adalah tanah bengkok yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Setelah melihat peluang, warga kemudian membentuk kelompok dengan dukungan penuh dari pemerintah desa memutuskan untuk memproduksi garam.
Jika dibandingkan dengan pertanian, hasilnya hampir sama menguntungkan. Akan tetapi tingkat kegagalan atau kerugiannya aman untuk memproduksi garam.
“Kalau di bilang menguntungkan yang mungkin sama. Cuma garam kemungkinan rugi kecil. Asal dikelola dengan baik panen maksimal hasilnya jelas. Beda dengan pertanian yang kadang kalau gagal bisa rugi total,” jelasnya.
Top 45
Disinggung perhatian pemerintah daerah saat ini, Wododo mengaku sejauh ini Pemkab Kebumen kemungkinan sudah memantau. Namun dalam kebijakan masih dinilai kadang belum merata.
“Contohnya kemarin ada hadiah dari top 45 yang dimasukan ke DED kabupaten. Kami gak kebagian, padahal anggarannya kalau tidak salah mencapai Rp 8 miliar. Sementara dulu objek yang diambil kelompok kami,” ucapnya.
Baca Juga: Laut Belum Tercemar, Kualitas Garam Kebumen Jauh Lebih Baik
Pengurus Kelompok Jagad Kidul lainnya, Wahyu Widi Wicaksana (35) mengungkapkan, sejauh ini harga garam produksi kelompok dijual dengan harga Rp 4.000 hingga Rp 5.000/kg. Khusus untuk garam yang digunakan untuk spa harganya bahkan bisa mencapai Rp 30.000/kg.
“Garam dari Mirit Petikusan ini banyak dimanfaatkan untuk kosmetik, terapi dan garam ikan. Di masa pandemi Covid-19 ini banyak yang menggunakannya untuk terapi, biasanya dicampur dengan air hangat untuk mandi, belakangan ini banyak permintaan dari Jakarta via online,” ungkapnya.







Saat ini belum ada komentar