Puasa Ramadan: Penuhi Kebutuhan Rohani, Gapai Kebahagiaan Hakiki
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 15 Mei 2019
- visibility 5.292
- comment 0 komentar

Gus Fachrudin Achmad Nawawi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hasani Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
Berapa Besar Pahala Puasa?
Tidak ada yang tahu secara pasti seberapa besar pahala yang dijanjikan Allah SWT kepada hamba-Nya yang melakukan ibadah puasa Ramadan. Rasulullah SAW pernah bersabda; “Allah Azza wa Jalla berkata; Puasa itu untukku dan aku sendiri yang akan membalasnya.”
Ramadan memberikan peluang yang sangat besar untuk mengubah jatidiri manusia. Dalam hal akhlak, jatidiri manusia akan bisa lebih baik sebab Ramadan melatih nilai kejujuran. Ibadah puasa yang sehari-hari dijalankan, memiliki potensi dalam mendarmabaktikan kejujuran pada Allah.
Oleh sebab itu, nilai pahala puasa yang berlipatganda hanya menjadi otoritas Allah. Tidak ada satu pun manusia yang tahu pahalanya.
Sejenak perlu merenung hadits dari sahabat Ibnu Mas’ud yang tertulis dalam kitab Bulughul Maram. Bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Hendaklah kalian selalu melakukan kejujuran, karena kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Jika seorang hamba berbuat jujur dan membiasakan sifat ini hingga dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur.
Jauhkanlah diri kalian dari dusta, karena dusta akan membimbing kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan akan membimbing ke neraka. Jika seorang hamba selalu berdusta dan membiasakan berbuat dusta hingga Allah mencatatnya sebagai pendusta.”
Hakikat kejujuran adalah dari usaha manusia menyatakan kondisi apa adanya-tanpa harus berdusta. Nilai kejujuran ada pada pesan hidupnya untuk menyebutkan bahwa kondisi nyata dengan tidak mengada-ada. Sebab dusta adalah awal dari kehancuran.
Maka salah satu pesan Ibnu Hazim kepada Sulaiman yang dilukiskan oleh Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin adalah: “Datanglah dirimu kepada kitab Allah yang mempunyai pesan bahwa sesungguhnya orang-orang yang baik berada dalam kesenangan. Dan orang yang jahat berada di neraka”.
Ini menunjukkan bahwa posisi orang yang benar akan hidup tenang baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebaliknya, orang yang jahat dan berdusta akan terasa tidak nyaman sejak di dunia dan di akhiratnya menjadi penghuni neraka.
Wajar sekali dalam menggambarkan manusia yang baik ini, Syaikh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nashaihul Ibad mengutip hadits Nabi: “Orang yang paling aku cintai diantara kamu adalah orang yang paling baik budi pekertinya, yang mudah disuruh, yang jinak dan mudah dijinakkan”.
Usaha Mengubah Diri Menjadi Lebih Baik
Ramadan menjadi bulan yang tepat dalam melakukan usaha mengubah diri menjadi lebih baik. Kemauan positif itu akan tetap terwujud baik manakala ada usaha yang sungguh-sungguh dengan penuh keikhlasan. Sebab orang yang baik budi pekertinya dengan kejujuran akan selalu senang dan membuat rasa nyaman bagi orang sekelilingnya. Sedangkan orang yang selalu berdusta akan membuat orang di sekitarnya merasa terteror bahaya.
Demi menumbuhkan spirit semangat ibadah puasa Ramadan, hendaklah umat Islam mengetahui dan memahami berbagai karakteristik yang dapat mengenalkannya kepada ibadah puasa Ramadan. Menjalankan ibadah puasa bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan sebagai usaha diri untuk memenuhi kebutuhan rohani demi kebahagiaan di hari esok.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat ia berbuka dan kebahagiaan saat bertemu Tuhannya”. (***)
Fachrudin Achmad Nawawi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hasani Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen.







Saat ini belum ada komentar