Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Melacak Genealogi Sapi Peranakan Ongole Kebumen dan Sejarah Tradisi Baritan di Era Hindia Belanda

Melacak Genealogi Sapi Peranakan Ongole Kebumen dan Sejarah Tradisi Baritan di Era Hindia Belanda

  • account_circle Kebumen Update
  • calendar_month Kam, 23 Okt 2025
  • visibility 862
  • comment 0 komentar
Teguh Hindarto

TANGGAL 18 Oktober lalu, media lokal menurunkan berita perihal kontes sapi unggul di Kampung Sapi PO (Peranakan Ongole) Kebumen yang juga Eduwisata Peternakan Terintegrasi di Desa Sitiadi, Kecamatan Puring. Sebanyak 140 ekor sapi peserta dari seluruh wilayah Kebumen mengikuti kegiatan ini. Jika tahun 2019 lalu kegiatan semacam ini diiniasi oleh Dinas Pertanian Kebumen maka di tahun 2025 diselenggarakan secara mandiri oleh kelompok peternak sapi.

Kontes Sapi PO Kebumen 2025 dimenangkan oleh seekor sapi bernama “Slamet” dari Benggolo Putro Farm milik Ahmad Ardiansyah. Sapi “Slamet” mencatatkan bobot fantastis, mencapai 981 kg dengan raihan 1.215 poin.

Populasi sapi lokal Peranakan Ongole (PO) terus berkembang di Kabupaten Kebumen. Saat ini sudah sekitar 54.000 ekor, tersebar di 26 desa yang ada daerah Urutsewu, yakni Kecamatan Puring, Petanahan, Klirong, Buluspesantren, Ambal, dan Mirit (www2.kebumenkab.go.id, 2014)

Keberadaan sapi-sapi Ongole ini ternyata telah memiliki akar historisnya sejak era kolonial khususnya di Kecamatan (onderdistrict) Mirit Kabupaten (regentschap) Kebumen. Sebagaimana layaknya masyarakat tradisional yang merayakan syukur terhadap alam melahirkan sejumlah tradisi seperti sedekah bumi (masyarakat pertanian) dan sedekah laut (masyarakat nelayan) maka mereka yang menggantungkan kehidupannya pada peternakan melahirkan tradisinya masing-masing.

Aktivitas tradisi pemuliaan dan kejayaan peternakan di Mirit terekam dalam laporan berita Koran Bataviaasch Neuwsblad (3 November 1915) sbb, “Pesta yang dirayakan di Mirit adalah apa yang disebut baritan, yaitu pesta para gembala (het feest der herders). Di masa lalu, kebiasaan itu menyiratkan bahwa setahun sekali semua desa memberikan baritan kepada para gembala, yang dikenal sebagai bocah angon”.

Baritan, sebuah pesta dan upacara tradisional di Mirit yang telah punah bukan sekadar mengisahkan keberadaan sebuah ekspresi budaya dalam mensyukuri hasil ternak melainkan sebuah kisah kejayaan peternakan sapi di Kebumen yang merupakan hasil perkawinan silang antara sapi Jawa dengan Sapi Benggala, India yang dikenal dengan sapi Ongole.

Mengenai Kecamatan (onderdistrict) Mirit di era Hindia Belanda, Koran Bataviasch Nieuwsblad mengatakan, “Kecamatan ini sangat penting untuk peternakan, karena mengandung ternak terbaik di Jawa (het beste vee van Java vindt). Selain itu, menurut penilai resmi, peternakan bahkan lebih baik dan lebih didorong daripada di Madoera”

Frasa, het beste vee van Java vindt (ternak terbaik di Jawa) cukup menggambarkan peran dan kontribusi serta kualitas peternakan sapi perkawiann silang di Mirit terhadap kebutuhan pasokan daging Hindia Belanda pada waktu itu. Namun demikian menurut laporan pendek dalam koran tersebut menyatakan bahwa ketersediaan sapi hasil perkawinan silang ini baru mencapai 50% (pada tahun 1915) sementara kebutuhan ditargetkan 75%.

Perayaan Baritan di Mirit. Nampak Bupati Kebumen Arung Binang VII (berjas dan topi koboi) dan sejumlah pejabat Hindia Belandaa serta para bocah angon. Sumber: Indie: Geillustreerd Weekblad voor Nedeland en Kolonien

Yang tidak kalah menarik dari laporan koran tersebut adalah keterlibatan Tuan Cochius (cucu Mayor Jendral Frans David Cochius, yang namanya dilekatkan dengan sebuah benteng di Gombong yaitu Fort Cochius sejak 1838) yang pada saat itu menjabat Administrateur Suikerfabriek “Remboen” di Prembun. Tuan Cochius merangkap tugas sebagai ketua dalam asosiasi untuk promosi peternakan di Bagelen Selatan, khususnya Mirit.

Sekalipun dalam laporan surat kabar dan majalah, istilah baritan didefinisikan sebagai festival/perayaan para gembala (het feest der herders), Martine Barwegen dalam bukunya, Gouden Hoorns: De Geschiedenis van de Veehouderij op Java 1850-2000, memberikan penjelasan dalam catatan kakinya,

“Setelah meneliti berbagai sumber, disimpulkan bahwa ‘Slamatan Baritan’ tidak dapat diterjemahkan sebagai ‘Pesta Gembala’ (herdersfeest). Baritan adalah serangkaian ritual terkait yang berbeda secara lokal tetapi memiliki kesamaan yang dikaitkan dengan keberhasilan panen pertanian, peternakan dan atau budidaya ikan. Baritan yang dirayakan sebagai wujud syukur atas kesejahteraan sapi masih terjadi di Banyumas dan diadakan setiap hari ke-10 di bulan Muharram” (2005:173).

E.Schmulling dalam artikelnya berjudul Veetelt in Keboemen yang dimuat dalam Indie: Geillustreerd Weekblad voor Nedeland en Kolonien (2 Jaargang No 4, 24 April 1918) memberikan uraian panjang lebar perihal genealogi pengembangan sapi Ongole di di wilayah Karesidenan Kedu dengan membuka artikelnya sbb, “Di Afdeeling Keboemën yang padat penduduk, relatif makmur dan sangat progresif, yang meliputi Kabupaten Karanganjar dan Keboemen, peternakan merupakan fokus terpenting setelah Madura”

Menurut Schmuling, pencetusnya adalah mantan Residen Bagelen (yang kemudian berganti menjadi Kedu) yaitu Burnaby Lautier yang memilii ketertarikkan terhadap peternakan sapi kemudian berkonsultasi dengan dokter hewan serta mengatur agar pejantan Bengali dari ras Bengal Mysore diperkenalkan ke wilayahnya sebelum tahun 1900.

Sejak tahun 1906 orang dapat berbicara tentang dimulainya pembiakan ternak secara sistematis, yang telah menemukan penobatan sementaranya dalam pra-pendaftaran komprehensif dalam buku kawanan ternak yang diperkenalkan untuk Bagelen Selatan pada tahun 1915. Keberadaan sapi Ongole tersebar luas di Karesidenan Banyumas dan eks Karesidenan Bagelen yang kemudian berganti nama Karesidenan Kedu, termasuk di kecamatan Ambal, yang berbatasan dengan Mirit di sebelah barat. Schmuling menyebutkan bahwa Mirit merupakan pusat pembibitan dan stasiun distribusi ternak sapi, yang disebut “Sapi Mirit”.

Berkaitan dengan tradisi tahunan perayaan Baritan, kita mendapatkan deskripsi berharga perihal bagaimana ekspresi budaya tersebut dilaksanakan pada tahun 1915 sbb, “Setelah jamuan makan, maksudnya slamatan, di mana kesejahteraan ternak dimohonkan kepada roh pelindung dan penjaga, dan setelah itu para petani dan pejabat desa pulang ke rumah, para penggembala, baik laki-laki maupun perempuan, tetap tinggal dan menghabiskan malam dengan bermain gamelan dan beksa (sebuah tarian tandak), dan masih berkumpul dengan gembira keesokan harinya, dan kemudian semuanya berakhir; luar biasa, perayaan ini berlangsung selama tiga hari”

Pameran ternak dimana sapi jantan dan betina jenis Ongole dipertontonkan. Sumber: Indie: Geillustreerd Weekblad voor Nedeland en Kolonien.

Melalui artikel Schmulling kita bisa melihat sejumlah kegiatan perayaan Baritan pada tahun 1915 jika mengikuti alur penjelasan Schmulling yang menyebutkan peran besar dan keterlibatan Bupati Kebumen Arung Binang VII (Maliki Soerjomihardjo, bupati Kebumen yang menjabat dari tahun 1909-1935) yang telah merencanakan sejak tahun 1914 sebuah perayaan Baritan yang dipusatkan di Bulupesantren dan bukan hanya di desa-desa sehingga berbiaya lebih murah namun mendatangkan peserta lebih banyak (termasuk beberapa pejabat Belanda) serta lebih modern.

Peran Arung Binang VII di bidang peternakan dan keberlangsungan tradisi perayaan baritan ini masih diingat oleh Residen Kedu, bernama Linck saat memberikan sambutan perayaan perak pemerintahan Arung Binang VII dengan menyebutkan, de groote verbetering inden veestapel (peningkatan besar dalam peternakan) yang dimuat dalam surat kabar De Locomotief, 6 Maret 1934 (Teguh Hindarto, Bukan Kota Tanpa Masa Lalu: Dinamika Sosial Ekonomi Kebumen Era Arung Binang VII,2020:27)

Demikianlah sekilas gambaran perkembangan keberadaan sapi peranakan Benggala dan Jawa yang dikembangkan di Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Karanganyar saat masih berada di bawa Karesidenan Kedu (pengganti Karesidenan Bagelen). Melacak genealogi historis peternakan sapi Peranakan Ongole (PO) di Kebumen dan ekspresi kultural yang pernah berkembang dan kemudian hilang yaitu Baritan membantu memahami dua hal penting. Pertama, memahami nilai historis peternakan sapi PO dan memahami keterkaitan dan keterputusan antara masa lalu dan masa kini serta membuka sebuah kemungkinan baru menghidupkan kembali ekspresi kultural yang lebih kontekstual di masa kini. Makin Tahu Indonesia

Teguh Hindarto
Founder Historical Study Trips (HST) dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kebumen

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News

Penulis

News & Inspiring

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tumbuhkan Kreativitas Peserta Didik, SD N Kaligending Adakan Gelar Karya P5

    Tumbuhkan Kreativitas Peserta Didik, SD N Kaligending Adakan Gelar Karya P5

    • calendar_month Kam, 26 Jan 2023
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 3.773
    • 0Komentar

    KARANGSAMBUNG (KebumenUpdate.com) – Dalam rangka menumbuhkan soft skill dan karakter peserta didik, SD Negeri Kaligending mengadakan kegiatan bertajuk Gelar Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kegiatan yang berlangsung Rabu 25 Januari 2023 dihadiri Sekretaris Camat Karangsambung, jajaran forkopimcam, Kepala SD se-Kecamatan Karangsambung, dan fasilitator sekolah penggerak. Baca juga: Gabung 23 SD, Hapus Korwil Pendidikan, Bupati […]

  • Edarkan Sabu, Pemuda 29 Tahun Asal Pituruh Ditetapkan Tersangka

    Edarkan Sabu, Pemuda 29 Tahun Asal Pituruh Ditetapkan Tersangka

    • calendar_month Rab, 11 Sep 2024
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.498
    • 0Komentar

    GOMBONG (KebumenUpdate.com) – Pemuda 29 tahun inisial DN warga Desa/Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, yang bekerja di salah satu koperasi simpan pinjam di wilayah Gombong ditetapkan sebagai tersangka karena dugaan kasus peredaran narkotika jenis sabu. Kapolres Kebumen AKBP Recky melalui Kasat Resnarkoba AKP Heru Sanyoto saat konferensi pers mengungkapkan, tersangka diamankan Kamis 22 Agustus 2024, sekitar […]

  • Alumni HMI

    Jelang Hari Tenang, Barisan Alumni HMI Kebumen Mujahadah untuk Kemenangan Arif-Rista

    • calendar_month Ming, 24 Nov 2024
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 372
    • 0Komentar

    KLIRONG (KebumenUpdate.com) – Menjelang hari tenang Pilkada 2024, Barisan Alumni HMI Kebumen menggelar mujahadah untuk kemenangan pasangan calon bupati dan wakil bupati Kebumen nomor 02 Arif Sugiyanto-Ristawati Purwaningsih. Acara berlangsung di kediaman Koordinator Barisan Alumni Himpinan Mahasiswa Islam Kebumen Muhammad Baehaqi di Desa Kedungwinangun, Kecamatan Klirong, Sabtu 23 November 2024 malam. Dalam kesempatan itu, Barisan […]

  • Kebumen jadi Kota Penutup Karnaval SCTV 2025, Hadirkan Sederet Musisi Papan Atas

    Kebumen jadi Kota Penutup Karnaval SCTV 2025, Hadirkan Sederet Musisi Papan Atas

    • calendar_month Rab, 17 Des 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 2.776
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Sebagai puncak penutup rangkaian tur di tahun 2025, Karnaval SCTV siap menyapa warga Kebumen, Jawa Tengah. Acara yang menghadirkan deretan musisi papan atas serta bintang sinetron favorit ini akan berlangsung selama dua hari, Sabtu 20 Desember hingga Minggu 21 Desember 2025 di Alun-Alun Pancasila Kebumen. Kemeriahan panggung akan dipandu oleh trio host […]

  • Balita Mengambang di Sungai

    Balita Mengambang di Sungai, 30 Menit Sebelumnya Masih Bermain di Halaman

    • calendar_month Kam, 2 Mar 2023
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.793
    • 0Komentar

    GOMBONG (KebumenUpdate.com) – Seorang balita ditemukan mengambang di Sungai Lowereng, Desa Klopogodo, Kecamatan Gombong, Kebumen, Rabu 1 Maret 2023 sekitar pukul 15.30 WIB. Bocah laki-laki yang diketahui berinisial FH berusia empat tahun itu ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Kapolres Kebumen AKBP Burhanuddin melalui Kasie Humas AKP Heru Sanyoto menjelaskan korban ditemukan mengambang di sungai […]

  • Lima Pelajar Penerima Beasiswa S1 Universitas Pertamina, Salah Satunya dari SMAN 1 Kebumen

    Lima Pelajar Penerima Beasiswa S1 Universitas Pertamina, Salah Satunya dari SMAN 1 Kebumen

    • calendar_month Sab, 7 Sep 2024
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.924
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Didampingi orang tuanya, lima pelajar penerima program beasiswa S1 di Universitas Pertamina dilepas Bupati Arif Sugiyanto di Pendopo Kabumian, Jumat sore 7 September 2024. Kelima pelajar tersebut yaitu Paskarina Alfalahsea dari SMAN 1 Petanahan, Iman Dwi Satrio dari SMK Taman Karya Madya, Oktaviana Nabila Putri dari SMAN 1 Rowokele, Cristofer Panjaitan SMAN […]

expand_less