Puasa Ramadan: Penuhi Kebutuhan Rohani, Gapai Kebahagiaan Hakiki

  • Whatsapp
Gus Fachrudin Achmad Nawawi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hasani Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)

Oleh: Fachrudin Achmad Nawawi

Penetapan tanggal 1 Ramadan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dalam sidang isbat merupakan titik awal dalam menapaki indahnya bulan suci Ramadan.

Berita Lainnya

Dengan masuknya bulan suci, secara otomatis umat Islam akan merasakan suka cita menjalankan berbagai amaliah ibadah yang secara khusus hanya ditemui dalam bulan Ramadan, salah satunya ialah puasa Ramadan.

Secara bahasa, puasa berarti menahan. Sedangkan dalam pengertian syariat puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan niat tertentu dimulai sejak terbitnya fajar (subuh) sampai tenggelamnya matahari (maghrib).

Legalitas puasa sebagai syariat telah tercantum dalam Al Qur’an. Allah SWT telah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah; 183).

Sejak kapan ada puasa Ramadan? Dalam kitab Fathul Mu’in dijelaskan bahwa ibadah puasa Ramadan pertama kali diwajibkan pada bulan sya’ban tahun kedua setelah hijrah (2 hijriyah). Mengkaji dari aspek historis,  ibadah puasa sebenarnya merupakan syariat umat-umat terdahulu. Kemudian ibadah puasa menjadi bagian dari syariat umat Rasulullah SAW dengan format aplikasi yang berbeda.

Syekh Hasan Bashri berkata, “Zaman dulu orang-orang Yahudi diwajibkan berpuasa Ramadan. Namun mereka meninggalkannya. Dan justru mereka menggantinya dengan puasa satu hari dalam setahun, yakni puasa Asyuro’, karena mereka memiliki keyakinan pada hari itulah Allah menenggelamkan Fir’aun.

Begitu juga kaum Nasrani, dulu mereka memiliki kewajiban berpuasa Ramadan. Namun mereka melakukannya secara terus menerus sampai melebihi tiga puluh hari yang berakibat mereka mengalami kelelahan yang luar biasa. Akhirnya para pemimpin dan pemuka agama Nasrani mengambil keputusan bahwa puasa Ramadan hanya dilakukan ketika musim semi.”

Dari cerita yang dipaparkan tersebut nampak memberi dukungan pada pendapat kedua yang mengatakan bahwa puasa Ramadan merupakan ciri khas syariat umat Nabi Muhammad SAW yang tidak ditemukan sebelumnya. Berpijak pada pendapat yang diklaim sebagai pendapat mu’tamad (pendapat yang dijadikan pegangan) ini, puasa yang dilakukan umat-umat terdahulu bukanlah puasa Ramadan seperti sekarang ini.

Pahala puasa Ramadan dalam pengaplikasiannya, ibadah puasa dilakukan hanya dapat dilakukan dengan menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa. Tentunya, seseorang yang berpuasa atau tidak mampu terdeteksi dengan panca indra. Maka dari itu, sudah sangat layak kalau dikatakan puasa merupakan ibadah yang murni hanya diketahui oleh seorang hamba dengan Tuhannya.

Berita Terkait