Muhammadiyah dan Keberagaman
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 6 Jun 2023
- visibility 2.566
- comment 0 komentar

Bendera Muhammadiyah (Foto:Muhammadiyah.or.id)
Dekade 1910 hingga 1920an merupakan masa yang penuh dinamika di Kebumen, khususnya di Gombong. Dalam buku “Ngomong Gombong”, Sigit Asmodiwongso mencatat berbagai gerakan sosial religius yang tumbuh hampir bersamaan. Di tahun 1917, tumbuh gerakan kebatinan Jawa Kawruh Naluri yang didirikan oleh Ki Bagus Hadi Kusumo (Raden Mashadi).
Hampir bersamaan, Misi Kristen memulai karya pendidikan dengan mendirikan dua sekolah berbahasa Belanda (HIS): untuk anak pribumi di Gombong dan untuk anak Tionghoa di Kebumen. Menjelang dekade 30-an, giliran Misi Katolik yang masuk ke Gombong dengan karya kesehatan dan pendidikan.
Gerakan Muhammadiyah Tumbuh Sepaket dengan Sarekat Islam
Dalam suasana itulah Muhammadiyah tumbuh di wilayah Gombong dan sekitarnya. Sebagaimana terjadi di banyak wilayah lain di Indonesia, pertumbuhan gerakan Muhammadiyah sepaket dengan tumbuhnya Sarekat Islam.
Belum didapat data pasti kapan tepatnya pergerakan Muhammadiyah mulai tumbuh. Namun tahun 1913 tercatat sudah terbentuk Cabang Sarekat Islam di Gombong. Bukan mustahil jika di tahun-tahun itu pula Muhammadiyah mulai merambah Kebumen.
Disambutnya Sarekat Islam (dan Muhammadiyah) di Gombong dan sekitarnya dapat dipahami karena wilayah ini memang tumbuh sebagai pusat perdagangan. Perlakuan diskriminatif pemerintah kolonial terhadap pedagang pribumi membuat mereka cepat menyambut kehadiran Sarekat Islam yang seiring pula dengan masuknya gerakan Muhammadiyah. Pola yang sama terjadi pula di simpul-simpul perdagangan lainnya di Kebumen seperti Kutowinangun dan Pejagoan.







Saat ini belum ada komentar