Muhammadiyah dan Keberagaman
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 6 Jun 2023
- visibility 2.565
- comment 0 komentar

Bendera Muhammadiyah (Foto:Muhammadiyah.or.id)
Oleh: Sigit Tri Prabowo
SUATU malam di hari Sabtu, 21 Februari 1925 (27 Rajab), sekitar 75 orang berkumpul di kediaman T.A. Soehadi di Desa Semanda, Distrik Gombong, Kabupaten Karanganyar (kelak dilebur menjadi Kabupaten Kebumen). Mereka tengah merayakan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Sebelum acara dimulai, salah satu tokoh, T.Mh. Rachmat menjelaskan tentang asas-asas Muhammadiyah serta membacakan statuen (anggaran dasar) Muhammadiyah. Seusai acara utama, diadakan diskusi dan tanya jawab tentang pergerakan Muhammadiyah.
Sebagian besar hadirin merupakan toean-toean moeda dari Christelijke Hollands Inlandsche School, sebuah sekolah untuk anak pribumi yang didirikan oleh Misi Kristen (saat ini gedung sekolah itu lebih dikenal sebagai SMPN 2 Gombong). Tidak terlalu jelas apakah yang dimaksud tuan muda adalah para guru atau siswa. Namun yang pasti, sekalipun bersekolah di sekolah Kristen, mereka tetap menjalankan ibadah dan merayakan hari besar Muslim.
Baca Juga: Prof Haedar Nashir: Gerakan Amal Muhammadiyah Ikhtiar Majukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta
Peristiwa yang dimuat di majalah Soeara Moehammadijah No. 01 Th VI 1925 ini menunjukkan bagaimana Muhammadiyah di Kebumen tumbuh dalam masyarakat yang beragam. Sebagai sebuah gerakan pembaharuan, Muhammadiyah di Kebumen banyak dimotori oleh kaum muda terpelajar/profesional yang kehidupan sehari-harinya diwarnai interaksi dengan berbagai kelompok masyarakat.







Saat ini belum ada komentar