Cerita Misteri: Rumah Sakit Londo (Bagian-2)
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 1 Apr 2025
- visibility 2.386
- comment 0 komentar

Foto ilustrasi/Source: AI
Tak lama seorang perawat keluar dari dalam ruang IGD membawa clipboard, dengan catatan medis Akif. Perawat tersebut menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan dari dokter menunjukkan bahwa cedera dari Akif tidak terlalu parah. Hanya ada memar dan beberapa lecet di dahi dan kaki akibat benturan, serta tulang kakinya yang mengalami fraktur ringan.
Meskipun demikian, dokter menyarankan Akif untuk menjalani rawat inap guna pemulihan dan observasi lebih lanjut. Ibu Akif mengangguk, lalu bertanya dengan nada cemas,
“Kalau begitu, di ruangan mana anak saya akan ditempatkan malam ini, Suster?”
Dengan sigap suster menjawab, “Saat ini bangsal lain sudah penuh, putra Ibu akan ditempatkan di bangsal Melati, di kamar nomor 13. Setelahnya, Ibu bisa melanjutkan pendaftaran di ruang administrasi di loket depan ya Bu.”
Bangsal Melati sendiri terletak di selatan bangunan utama rumah sakit, dan untuk ke sana harus melewati koridor panjang disebelah selatan ruang IGD ini. Dani yang ikut mendengarkan penjelasan itu, menoleh ke arah koridor yang dimaksud.
Pandangannya mengikuti arah bangsal Melati yang ditunjukkan suster tadi. Saat itu, ia melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Di ujung salah satu koridor, tampak seorang perawat mendorong kereta jenazah. Roda kereta itu sayup-sayup mengeluarkan suara berderit, menggema di sepanjang lorong yang sepi.
Cahaya lampu yang remang-remang membuat bayangan jenazah di atas kereta tampak memanjang di dinding seolah-olah bergerak. Dani menelan ludah, matanya mengikuti kereta yang bergerak perlahan hingga menghilang di belokan koridor.
Di tengah-tengah obrolan mereka, orang tua Dani tiba di rumah sakit. Melihat kondisi Dani yang hanya mengalami luka lecet ringan, mereka menghela napas lega, meski tetap cemas melihat sahabat anaknya yang terbaring lemah. Ibu Dani sempat berbicara dengan Ibu Akif, entah apa yang mereka bicarakan, sementara Ayah Dani menyuruh anaknya untuk berganti pakaian yang sudah dibawakan oleh mereka.
Atas kejadian tersebut, kedua orangtua Dani menyampaikan simpati dan berjanji akan ikut bertanggungjawab –yang sepertinya ditolak secara halus oleh ibu Akif.
Setelah memastikan anaknya baik-baik saja, mereka mengajak Dani untuk pulang. Namun, sepertinya Dani bersikeras ingin menemani Akif sampai di ruang rawat inap. Orang tua Dani pun akhirnya mengalah dan mengikuti kehendak putra mereka itu. (Bersambung)







Saat ini belum ada komentar