Menengok Hutan Bakau Tanggulangin: Tentang Seleksi Alam dan Konsistensi yang Tersisa
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 34
- comment 0 komentar

Hutan bakau Tanggulangin. (Foto: Hari)
ADA lebih dari sepuluh kali langkah kaki ini membawa saya kembali ke tempat yang sama. Sebuah sudut sunyi di pesisir Kebumen yang di Google Maps saya sematkan nama tersendiri: Hutan Bakau Tanggulangin.
Letaknya masih satu hamparan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanggulangin di Kecamatan Klirong, sebuah tempat di mana riuh angin laut berpadu dengan ketenangan muara Sungai Luk Ulo.
Sore itu, suasana begitu lengang saat kendaraan saya tepikan di halaman TPI. Jarang sekali lokasi ini ramai ketika saya datang—mungkin karena momentum kedatangan saya yang kerap tidak pas dengan ritme para nelayan saat bertolak atau kembali dari samudera.
Kendati sepi dari aktivitas pelelangan, deretan perahu nelayan tampak selalu setia bersandar merapat di dermaga setiap kali saya berkunjung ke sini.
Hari itu, Kamis, 14 Mei 2026. Selepas salat Asar, saya langsung meluncur membelah jalanan. Saya sengaja memilih jalur pintas, sebuah rute nostalgia yang sama persis dengan jalan yang kami lalui beberapa tahun silam saat hendak menanam bersama anak-anak.
Roda kendaraan bergulir melewati Desa Kedawung, Kedungwinangun, Karangglonggong, hingga akhirnya memasuki wilayah Desa Tanggulangin.
Melihat hamparan pesisir ini, ingatan saya seketika melayang pada anak-anak Gaspala SMAN 2 Kebumen. Tepat pada 26 Februari 2022 lalu, jemari-jemari muda mereka yang penuh semangat menancapkan bibit-bibit Rhizophora (bakau) di atas lumpur ini.
Berbicara tentang Gaspala, saya teringat kabar bahwa dalam waktu dekat organisasi pencinta alam ini akan melaksanakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Anggota Tetap serta alih kepengurusan. Semoga hajat itu berjalan lancar dan sukses.
Jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIB ketika saya tiba di lokasi. Ritme kehidupan agraris pesisir langsung menyapa mata.
Di kejauhan, terlihat seorang penderes dengan terampil memanjat pohon kelapa demi menyadap tetesan nira, sementara beberapa warga lainnya sibuk ngarit suket—mencari rumput segar untuk pakan ternak mereka.
Setelah memarkir kendaraan dengan aman, saya mulai berjalan kaki menyusuri jalan ke arah barat, menempuh jarak sekitar 200 meter.
Ada pemandangan yang berubah di sepanjang jalur ini. Beberapa kolam tambak udang milik warga yang dulunya produktif, kini tampak mangkrak dan tidak berfungsi lagi.
Sebagian di antaranya bahkan telah beralih rupa menjadi petak-petak sawah hijau. Akses utama menuju titik penanaman bakau yang hendak saya tengok ini memang berada persis di bantaran Sungai Luk Ulo.
Keberuntungan berpihak pada saya sore itu. Air sungai sedang surut, memberikan ruang yang cukup bagi langkah kaki ini untuk turun lebih dekat, menyentuh dasar lumpur tempat vegetasi bakau bertumpu.
Dari total 1.000 batang bibit yang kami tanam dahulu, sepertinya kini hanya tersisa sekitar 100-an pohon yang mampu bertahan hidup.
Alam semesta rupanya punya cara sendiri untuk menyeleksi. Dari sekian banyak bentangan hijau yang ditanam pada Februari 2022 lalu di pesisir Tanggulangin, hanya segelintir yang berhasil tegak berdiri menghadapi kerasnya hantaman pasang surut.
Meski secara kalkulasi matematis persentase keberhasilan ini tergolong kecil—hanya berada di kisaran angka 10 persen dan bisa dibilang kurang berhasil—saya memilih untuk tetap bersyukur.
Menyaksikan pohon-pohon yang tersisa itu sudah mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Mengingat kembali saat pertama kali ditanam, tingginya hanya sehasta manusia atau sekitar 60 sentimeter.
Kini, tinggi tanaman tersebut sudah sejajar, bahkan beberapa di antaranya telah melebihi tinggi badan saya sendiri. Ini adalah sebuah pengingat yang berharga bagi hidup kita: bahwa proses tumbuh itu senantiasa membutuhkan waktu, ketangguhan yang kokoh, dan tentu saja, sedikit keberuntungan.
Sambil menyapu pandangan ke arah timur, saya melihat secercah harapan baru. Tampak bentangan bibit bakau yang baru saja ditanam oleh kelompok lain.
Pemandangannya kontras dan segar, terlihat dari ajir-ajir atau tiang bambu penyangga yang masih berdiri tegak mengawal tunas-tunas muda tersebut agar tidak roboh diterjang arus.
Momen ini seketika membuka memori saya. Saat masih mengemban amanah sebagai pembina Gaspala, hampir setiap tahun agenda kami selalu diwarnai dengan aksi di bidang lingkungan hidup.
Baik itu saat kami hadir memenuhi undangan dari pihak eksternal, maupun ketika kami bergerak mandiri merancang program sendiri.
Jika memori saya tidak keliru, awal mula saya masuk sebagai pembina pada tahun 2019, kami ikut serta dalam aksi tanam bakau di kawasan Kaliratu, Desa Jogosimo—sebuah wilayah yang berada di sisi seberang, sedikit melipir ke arah barat dari posisi saya berdiri saat ini.
Aksi kala itu digerakkan bersama pengurus Gaspala Angkatan 27 dan 28 dalam acara World Clean Up Day.
Namun, jika ditarik jauh ke belakang, tonggak sejarah reboisasi pesisir oleh Gaspala sejatinya dimulai pada tahun 2010. Itulah awal mula Gaspala concern pada kelestarian bakau.
Waktu itu, lokasinya bertempat di Laguna Lembupurwo yang berbatasan langsung dengan Desa Wiromartan di Kecamatan Mirit. Saya masih mengingat setiap detailnya dengan sangat baik.
Bersama Rozak dari Angkatan 17 dan kawan-kawan lainnya, kami menerobos medan melakukan survei lokasi.
Hingga pada hari pelaksanaan, acara tersebut berlangsung masif dengan mengundang Dinas Kehutanan saat itu, Polsek, Koramil Mirit, serta tak ketinggalan kru Ratih TV Kebumen (sekarang Kebumen TV) yang datang meliput aksi lingkungan kami.
Lokasi monumental di Lembupurwo itu sempat saya kunjungi kembali pada tahun 2016, tepat enam tahun pasca-penanaman. Hasilnya sungguh luar biasa. Kawasan yang awalnya gersang dan gundul, kini telah berubah total menjadi hamparan hutan bakau yang tumbuh tinggi, rimbun, dan teduh menaungi pesisir.
∗∗∗
Setelah puas mengambil beberapa dokumentasi foto dan video dari ujung ke ujung, serta merasa memori digital dan batin saya sudah tercukupi, saya memutuskan untuk menyudahi agenda jalan-jalan sore ini. Sembari melangkah meninggalkan area muara, sebaris doa mengalir.
Semoga dari tiap jengkal pohon bakau yang berhasil tumbuh ini, kelak dapat mengalirkan manfaat yang luas bagi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Dan yang tidak kalah penting, semoga aksi ini menjelma menjadi estafet kegiatan yang berkelanjutan, yang terus dirawat oleh generasi muda penerus bangsa. Makin Tahu Indonesia








Saat ini belum ada komentar