Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Menengok Hutan Bakau Tanggulangin: Tentang Seleksi Alam dan Konsistensi yang Tersisa

Menengok Hutan Bakau Tanggulangin: Tentang Seleksi Alam dan Konsistensi yang Tersisa

  • account_circle Hari Satria
  • calendar_month Ming, 17 Mei 2026
  • visibility 327
  • comment 0 komentar
Facebook Twitter Whatsapp Pinterest

ADA lebih dari sepuluh kali langkah kaki ini membawa saya kembali ke tempat yang sama. Sebuah sudut sunyi di pesisir Kebumen yang di Google Maps saya sematkan nama tersendiri: Hutan Bakau Tanggulangin.

Letaknya masih satu hamparan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanggulangin di Kecamatan Klirong, sebuah tempat di mana riuh angin laut berpadu dengan ketenangan muara Sungai Luk Ulo.

Sore itu, suasana begitu lengang saat kendaraan saya tepikan di halaman TPI. Jarang sekali lokasi ini ramai ketika saya datang—mungkin karena momentum kedatangan saya yang kerap tidak pas dengan ritme para nelayan saat bertolak atau kembali dari samudera.

Kendati sepi dari aktivitas pelelangan, deretan perahu nelayan tampak selalu setia bersandar merapat di dermaga setiap kali saya berkunjung ke sini.

Hari itu, Kamis, 14 Mei 2026. Selepas salat Asar, saya langsung meluncur membelah jalanan. Saya sengaja memilih jalur pintas, sebuah rute nostalgia yang sama persis dengan jalan yang kami lalui beberapa tahun silam saat hendak menanam bersama anak-anak.

Roda kendaraan bergulir melewati Desa Kedawung, Kedungwinangun, Karangglonggong, hingga akhirnya memasuki wilayah Desa Tanggulangin.

Melihat hamparan pesisir ini, ingatan saya seketika melayang pada anak-anak Gaspala SMAN 2 Kebumen. Tepat pada 26 Februari 2022 lalu, jemari-jemari muda mereka yang penuh semangat menancapkan bibit-bibit Rhizophora (bakau) di atas lumpur ini.

Berbicara tentang Gaspala, saya teringat kabar bahwa dalam waktu dekat organisasi pencinta alam ini akan melaksanakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Anggota Tetap serta alih kepengurusan. Semoga hajat itu berjalan lancar dan sukses.

Jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIB ketika saya tiba di lokasi. Ritme kehidupan agraris pesisir langsung menyapa mata.

Di kejauhan, terlihat seorang penderes dengan terampil memanjat pohon kelapa demi menyadap tetesan nira, sementara beberapa warga lainnya sibuk ngarit suket—mencari rumput segar untuk pakan ternak mereka.

Setelah memarkir kendaraan dengan aman, saya mulai berjalan kaki menyusuri jalan ke arah barat, menempuh jarak sekitar 200 meter.

Ada pemandangan yang berubah di sepanjang jalur ini. Beberapa kolam tambak udang milik warga yang dulunya produktif, kini tampak mangkrak dan tidak berfungsi lagi.

Sebagian di antaranya bahkan telah beralih rupa menjadi petak-petak sawah hijau. Akses utama menuju titik penanaman bakau yang hendak saya tengok ini memang berada persis di bantaran Sungai Luk Ulo.

Keberuntungan berpihak pada saya sore itu. Air sungai sedang surut, memberikan ruang yang cukup bagi langkah kaki ini untuk turun lebih dekat, menyentuh dasar lumpur tempat vegetasi bakau bertumpu.

Dari total 1.000 batang bibit yang kami tanam dahulu, sepertinya kini hanya tersisa sekitar 100-an pohon yang mampu bertahan hidup.

Alam semesta rupanya punya cara sendiri untuk menyeleksi. Dari sekian banyak bentangan hijau yang ditanam pada Februari 2022 lalu di pesisir Tanggulangin, hanya segelintir yang berhasil tegak berdiri menghadapi kerasnya hantaman pasang surut.

Meski secara kalkulasi matematis persentase keberhasilan ini tergolong kecil—hanya berada di kisaran angka 10 persen dan bisa dibilang kurang berhasil—saya memilih untuk tetap bersyukur.

Menyaksikan pohon-pohon yang tersisa itu sudah mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Mengingat kembali saat pertama kali ditanam, tingginya hanya sehasta manusia atau sekitar 60 sentimeter.

Kini, tinggi tanaman tersebut sudah sejajar, bahkan beberapa di antaranya telah melebihi tinggi badan saya sendiri. Ini adalah sebuah pengingat yang berharga bagi hidup kita: bahwa proses tumbuh itu senantiasa membutuhkan waktu, ketangguhan yang kokoh, dan tentu saja, sedikit keberuntungan.

Sambil menyapu pandangan ke arah timur, saya melihat secercah harapan baru. Tampak bentangan bibit bakau yang baru saja ditanam oleh kelompok lain.

Pemandangannya kontras dan segar, terlihat dari ajir-ajir atau tiang bambu penyangga yang masih berdiri tegak mengawal tunas-tunas muda tersebut agar tidak roboh diterjang arus.

Momen ini seketika membuka memori saya. Saat masih mengemban amanah sebagai pembina Gaspala, hampir setiap tahun agenda kami selalu diwarnai dengan aksi di bidang lingkungan hidup.

Baik itu saat kami hadir memenuhi undangan dari pihak eksternal, maupun ketika kami bergerak mandiri merancang program sendiri.

Jika memori saya tidak keliru, awal mula saya masuk sebagai pembina pada tahun 2019, kami ikut serta dalam aksi tanam bakau di kawasan Kaliratu, Desa Jogosimo—sebuah wilayah yang berada di sisi seberang, sedikit melipir ke arah barat dari posisi saya berdiri saat ini.

Aksi kala itu digerakkan bersama pengurus Gaspala Angkatan 27 dan 28 dalam acara World Clean Up Day.

Namun, jika ditarik jauh ke belakang, tonggak sejarah reboisasi pesisir oleh Gaspala sejatinya dimulai pada tahun 2010. Itulah awal mula Gaspala concern pada kelestarian bakau.

Waktu itu, lokasinya bertempat di Laguna Lembupurwo yang berbatasan langsung dengan Desa Wiromartan di Kecamatan Mirit. Saya masih mengingat setiap detailnya dengan sangat baik.

Bersama Rozak dari Angkatan 17 dan kawan-kawan lainnya, kami menerobos medan melakukan survei lokasi.

Hingga pada hari pelaksanaan, acara tersebut berlangsung masif dengan mengundang Dinas Kehutanan saat itu, Polsek, Koramil Mirit, serta tak ketinggalan kru Ratih TV Kebumen (sekarang Kebumen TV) yang datang meliput aksi lingkungan kami.

Lokasi monumental di Lembupurwo itu sempat saya kunjungi kembali pada tahun 2016, tepat enam tahun pasca-penanaman. Hasilnya sungguh luar biasa. Kawasan yang awalnya gersang dan gundul, kini telah berubah total menjadi hamparan hutan bakau yang tumbuh tinggi, rimbun, dan teduh menaungi pesisir.

∗∗∗

Setelah puas mengambil beberapa dokumentasi foto dan video dari ujung ke ujung, serta merasa memori digital dan batin saya sudah tercukupi, saya memutuskan untuk menyudahi agenda jalan-jalan sore ini. Sembari melangkah meninggalkan area muara, sebaris doa mengalir.

Semoga dari tiap jengkal pohon bakau yang berhasil tumbuh ini, kelak dapat mengalirkan manfaat yang luas bagi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Dan yang tidak kalah penting, semoga aksi ini menjelma menjadi estafet kegiatan yang berkelanjutan, yang terus dirawat oleh generasi muda penerus bangsa. Makin Tahu Indonesia 

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News

Penulis

Suka menulis, membaca dan berpetualang.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hadiri Maulid Nabi di Kebumen, Gubernur Jateng Sebut Pesantren Garda Terdepan Jaga Kedamaian

    Hadiri Maulid Nabi di Kebumen, Gubernur Jateng Sebut Pesantren Garda Terdepan Jaga Kedamaian

    • calendar_month Sel, 9 Sep 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 562
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, berkunjung ke Kebumen pada Selasa, 9 September 2025. Ia menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-7 Al Maghfurlah KH Musyaffa’ Aly di Pondok Pesantren (PP) Al Falah, Sumberadi. Dalam acara tersebut, Ahmad Luthfi menekankan peran penting pondok pesantren sebagai benteng terdepan dalam menjaga kedamaian dan […]

  • Peringati Dies Natalis Ke-18,  STIE Putra Bangsa Makin Adaptif  dan Transformatif

    Peringati Dies Natalis Ke-18, STIE Putra Bangsa Makin Adaptif dan Transformatif

    • calendar_month Sen, 8 Jul 2019
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.288
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate) – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Putra Bangsa merayakan dies natalis ke-18 dengan serangkaian panjang kegiatan. Beragam kegiatan digelar sejak 16 Maret 2019  hingga malam puncaknya yang dihelat pada Sabtu, (6/7/2019) malam. Malam puncak yang berlangsung di halaman kampus di Jalan Ronggowarsito itu dimeriahkan oleh grup band asal Kebumen yang sedang naik daun,  […]

  • Penerbangan Semarang-Singapura

    Ahmad Luthfi Dorong Penerbangan Langsung Semarang–Singapura Dibuka Lebih Cepat

    • calendar_month Rab, 2 Jul 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 839
    • 0Komentar

    SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong percepatan pembukaan rute penerbangan langsung dari Semarang-Singapura guna mendukung pertumbuhan investasi, industri, dan pariwisata di wilayahnya. Hal itu disampaikan saat menerima kunjungan Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng, Selasa, 1 Juli 2025. Rute penerbangan Semarang–Singapura rencananya akan mulai dibuka 5 September 2025. Namun, Luthfi […]

  • Gaspala SMA N 2 Kebumen Tanam 1000 Bibit Bakau

    Gaspala SMA N 2 Kebumen Tanam 1000 Bibit Bakau

    • calendar_month Ming, 27 Feb 2022
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 4.992
    • 0Komentar

    KLIRONG (KebumenUpdate.com) -Gabungan Siswa Pecinta Alam (Gaspala) SMA N 2 Kebumen menggelar kegiatan di bidang lingkungan yaitu reboisasi bakau di Kawasan Kali Ratu, Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, Kebumen. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu 26 Februari 2022 dengan mengambil tema “Menanam Mangrove Pulihkan Kelestarian Lingkungan.” Sebanyak 1000 bibit bakau hasil kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kelautan […]

  • Pria di Petanahan Tega Setubuhi Teman Anaknya Hingga Hamil

    Pria di Petanahan Tega Setubuhi Teman Anaknya Hingga Hamil

    • calendar_month Sen, 23 Agu 2021
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 5.345
    • 0Komentar

    PETANAHAN (KebumenUpdate.com) – Kasus persetubuhan kepada gadis di bawah umur terjadi di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Korban, sebut saja Mawar (16) warga Kecamatan Petanahan hingga hamil. Kapolres Kebumen AKBP Piter Yanottama melalui Wakapolres Kompol Edi Wibowo menjelaskan tersangka adalah MA (42) warga Kecamatan Petanahan.Persetubuhan terbongkar, saat korban merasa nggak enak dan dibawa berobat ke bidan […]

  • Dulu Disebut Kalibuntu, Saat Ini Kaliratu Gencar Dihijaukan

    Dulu Disebut Kalibuntu, Saat Ini Kaliratu Gencar Dihijaukan

    • calendar_month Ming, 6 Okt 2024
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.693
    • 0Komentar

    DALAM dua hari terakhir ini saya mengunjungi pesisir selatan Kebumen. Jumat kemarin ke TPI Desa Tanggulangin untuk mengecek perkembangan pohon bakau yang dulu ditanam anak-anak Gaspala SMAN 2 Kebumen. Hari ini, Sabtu 5 Oktober 2024, mendatangi Konservasi Penyu Desa Jogosimo untuk melihat kegiatan penanaman bakau oleh komunitas guru penggerak. Kedua lokasi ini–Tanggulangin dan Jogosimo–merupakan area […]

expand_less