Tanamkan Anak Hargai Perbedaan Sejak Dini, Pius Bakti Utama Kunjungi Kelenteng
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 22 Feb 2020
- visibility 9.913
- comment 0 komentar

Anak-anak PAUD Pius Bakti Utama foto bersama di depan kelenteng. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
“Teman mari kita terbuka dengan saudara beda agama. Teman mari kita menghormat pada orang yang beda pendapat. Ada Islam Allahu Akbar, ada Budha Amitaba, ada Kristen Haleluya. Ada Hindu Santi-santi, dan Konghucu Kongsu-kongsu, semua jadi saudarku.”
Lirik lagu itu memecah keheningan aula Kelenteng Kong Hwie Kiong Kebumen, Sabtu 22 Februari 2020. Dengan antusias, sekira 70 anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mulai play group dan TK Pius Bakti Utama Kebumen menyanyikan lagu tersebut secara bersama-sama.
Anak Diajak Mengunjungi Kelenteng Kong Hwie Kiong

Perwakikan Yayasan TITD Kong Hwie Kiong menyambut anak-anak. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
Ya, didampingi sejumlah guru, bocah-bocah itu mengikuti kegiatan belajar di luar kelas dengan mengunjungi lingkungan sekitar sekolah. Kali ini mereka diajak mengunjungi Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) atau Kelenteng Kong Hwie Kiong yang menjadi tempat ibadah umat Konghucu, Budha dan Tao.
Mereka disambut oleh perwakilan Yayasan TITD Kong Hwie Kiong dan sejumlah tokoh Tionghoa Kebumen. Selanjutnya dengan dipandu oleh Bagian Rumah Tangga Kelenteng Tjen Lay dan Biokong Ismanto, anak-anak playgroup dan Taman Kanak-kanak itu diajak melihat-lihat ruangan yang ada di kelenteng yang konon didirikan tahun 1898 oleh Liem Ke Gwon seorang letnan keturunan Tionghoa tersebut.
Anak-anak Dihibur Atraksi Kesenian Barongsai

Anak-anak antusias dihibur atraksi barongsai. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
Usai berkeliling Kelenteng, anak-anak dihibur oleh penampilan kelompok kesenian barongsai Teratai Emas Kelenteng Kong Hwie Kiong. Anak-anak pun tampak senang, berebut memberikan angpau kepada barongsai yang melakukan atraksi.
Kepala Sekolah Pius Bakti Utama Chatarina Sudaryati menjelaskan, melalui kegiatan tersebut pihaknya mengenalkan lingkungan sekolah. Mulai dari sosial, kebudayaan, dan tempat-tempat publik seperti pasar dan kali ini keagamaan.
“Semangatnya adalah dari visi kami, kami adalah kebersamaan, persaudaraan sejati. Persaudaraan sejati tidak dipilah-pilah, hanya kelompok-kelompok tertentu tetapi harus bersama-sama tanpa membeda-bedakan agama satu dengan agama lain,” ujar Chatarina Sudaryati di sela-sela acara.
Mendidik Anak Sejak Dini Menghargai Perbedaan

Anak-anak diajak melihat ruangan kelenteng. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
Apalagi peserta didik Pius Bakti Utama, kata Chatarina Sudaryati memiliki bermacam-macam latar belakang agama. Ada Budha, Konghucu, Katolik, Kristen dan Islam juga ada. Adapun kegiatan seperti itu setiap tahun dilakiukan. Tidak hanya mengunjungi kelenteng, tetapi juga ke gereja Katolik dan Kristen, Wihara, termasuk ke Aisyiyah Kebumen saat menjelang Lebaran.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap sejak usia dini mereka bisa menghargai perbedaan-perbedaan yang ada,” ujarnya. (ndo)







Saat ini belum ada komentar