Banjir Kebumen dan Fiqh Kebencanaan

  • Whatsapp
Opini
Titik banjir dan tanah longsor di Kabupaten Kebumen.

Oleh: dr H Monte Selvanus MMR*

KABUPATEN Kebumen langganan banjir itu sudah sejak lama. Sejak saya kecil daerah Sidobunder, Puring, Rowokele dan lain-lain sudah sering dikabarkan terkena musibah banjir. Sepertinya hampir setiap musim penghujan, ada saja titik-titik tertentu di wilayah Kebumen yang mengalami banjir.

Berita Lainnya

Naibul Umam selaku Komandan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah dalam sesi Fiqh Kebencanaan berujar, “Kita memang tidak bisa mencegah terjadinya sebuah musibah. Gempa, longsor, banjir dan lain-lain, itu memang kehendak Ilahi. Tetapi kita sebagai manusia bisa memanage bencana supaya minim kerugian. Kita bisa belajar tanda-tanda alam jika akan terjadi musibah. Sekali kita abai terhadap peringatan alam, dan tidak mau memanage bencana, sudah dapat dipastikan korban baik material maupun jiwa pasti bakal terjadi.”

Naibul Umam lebih lanjut mencontohkan, ada sebuah desa yang posisinya sangat sulit yaitu terletak di hilir sungai. Jika debit air naik sedikit saja, maka desa itu akan mulai tergenang banjir hingga terendam banjir. Hal itu terjadi selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya dibuatlah sebuah sistem informasi, bagian hulu sungai harus mencatat debit air yang ada di sungai.

Jika terjadi kenaikan debit air maka bagian hulu sungai langsung memperingatkan desa hilir untuk bersiap-siap. Kenaikan mencapai sekian centimeter saja, artinya dalam waktu 12 jam desa itu akan terendam banjir. Warga desa hilir begitu mendengar kabar tersebut, segera melakukan protokol bencana banjir;  mengeluarkan perahu karet, membungkus seluruh perabot rumah tangga dengan plastik yang rapat dan kedap air, menggiring binatang ternak ke tempat evakuasi, membawa tas emergency yang berisi makanan darurat dan keperluan MCK selama satu pekan, dan evakuasi seluruh warga ke gedung evakuasi di dataran yang lebih tinggi.

Edukasi Warga dengan Fiqh Kebencanaan

Ketika banjir itu datang, rumah-rumah warga berikut perabotan rumah tangga terendam banjir, namun warga dan ternak sudah berada di tempat yang aman, sehingga kerugian jiwa sudah berkurang. Manakala banjir telah surut, mereka tinggal kerja bakti membersihkan rumah dan desa mereka. Perabot rumah tangga mereka pun aman karena sudah dibungkus dengan plastik, sehingga kerugian material pun bisa dihindari.

Kembali ke langganan banjir di Kebumen, semestinya musibah banjir di Kebumen ini bisa ditanggulangi sejak dini. Semestinya sudah ada pemetaan daerah-daerah yang rawan terjadinya banjir, longsor, tanggul jebol dll. Lalu diadakan langkah antisipasi sebelum terjadinya musim hujan, edukasi warga dengan fiqh kebencanaan, simulasi bencana secara berkala, penentuan titik-titik evakuasi dll. Sehingga saat terjadi banjir, warga sudah siap di dalam menghadapinya. Tidak terjadi tabrakan massa karena kepanikan.

Sayangnya, hal itu belum berjalan sebagaimana mestinya. Sebagian besar dari kita saat ini hanya responsif saat terjadi bencana, namun kurang di dalam upaya preventifnya. Padahal upaya preventif ini sangat penting guna mengurangi risiko kerugian korban jiwa dan material.

Sebuah Harapan
  1. Lembaga-lembaga yang berkompeten di dalam penanganan bencana seperti BPBD, MDMC, RS, BAZNAS, LAZISMU dan lain-lain berkoordinasi untuk melakukan mitigasi bencana, dan monev terhadap kegiatan penanggulangan bencana.
  2. Adakan agenda rutin untuk memberikan edukasi tentang fiqh kebencanaan terutama kepada masyarakat, pada titik-titik potensial terjadinya bencana.
  3. Melatih kader-kader dan relawan baru yang tanggap terhadap bencana.
  4. Membentuk pos-pos penanganan bencana terpadu di setiap kecamatan.
  5. Mengadakan latihan gabungan penanganan bencana yang terstruktur dan sistematis.
  6. Melalui langkah-langkah ini semoga Kebumen di masa mendatang bisa meminimalisir kerugian akibat terjadinya bencana.

Semoga. Fastabiqul Khoirot

*dr H Monte Selvanus MMR, Ketua Bidang MDMC Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kebumen

Berita Terkait