Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Konflik Kepentingan? Mengapa Presiden Tidak Seharusnya Memimpin Partai Politik

Konflik Kepentingan? Mengapa Presiden Tidak Seharusnya Memimpin Partai Politik

  • account_circle Kebumen Update
  • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
  • visibility 1.968
  • comment 0 komentar
Facebook Twitter Whatsapp Pinterest

Dari perbandingan lintas negara tersebut terlihat pola yang jelas. Negara-negara demokratis mapan cenderung memisahkan kepemimpinan presiden dari kepemimpinan partai, dengan tujuan menjaga netralitas dan keadilan politik. Sebaliknya, negara-negara dengan kecenderungan otoritarian justru meleburkan keduanya, menjadikan presiden sekaligus ketua partai sebagai pusat kekuasaan tanpa kontrol yang memadai. Sehingga rangkap jabatan presiden dan ketua partai lebih dekat dengan pola otoritarianisme ketimbang praktik demokrasi yang sehat.

Implikasi bagi Demokrasi Indonesia

Jika praktik presiden merangkap sebagai ketua partai politik terus dibiarkan di Indonesia, konsekuensi yang muncul bisa sangat serius bagi masa depan demokrasi. Instrumen negara yang seharusnya netral, mulai dari birokrasi, TNI-Polri, hingga BUMN, rentan dimanfaatkan untuk kepentingan elektoral semata. Hal ini berpotensi melahirkan penyalahgunaan sumber daya negara demi memperkuat posisi politik partai presiden. Pada saat yang sama, supremasi hukum juga terancam mengalami degradasi. Aparat penegak hukum bisa berada di bawah tekanan politik untuk melindungi kepentingan partai penguasa, terutama dalam kasus-kasus korupsi yang melibatkan kader atau jaringan politik presiden.

Distorsi demokrasi elektoral pun menjadi dampak lain yang tidak terelakkan. Kompetisi pemilu kehilangan esensi keadilannya karena presiden memiliki keunggulan struktural yang tidak dimiliki kandidat lain, baik dalam akses ke sumber daya negara maupun dalam mobilisasi birokrasi. Kondisi semacam ini dapat menyeret Indonesia pada potensi kemunduran demokrasi. Sejarah Orde Baru menjadi refleksi, ketika Soeharto menggunakan Golkar sebagai kendaraan kekuasaan untuk memonopoli politik dan menyingkirkan oposisi.[13]

Pelajaran berharga dari Reformasi 1998 seharusnya menjadi peringatan bahwa dominasi partai dan negara oleh presiden bukan hanya melemahkan demokrasi, tetapi juga membuka jalan bagi authoritarian relapse. Jika praktik ini tidak segera diantisipasi, Indonesia berisiko terjebak kembali pada pola kekuasaan terpusat yang meniadakan keseimbangan politik serta mengabaikan prinsip-prinsip dasar demokrasi konstitusional.

Montesquieu, Indonesia, dan Dunia

Montesquieu menekankan pentingnya pemisahan kekuasaan agar tidak terkonsentrasi.[14] Dalam kasus Indonesia, konsentrasi kekuasaan akan semakin parah jika presiden juga ketua partai karena ia mengendalikan eksekutif sekaligus mempengaruhi legislatif melalui partainya.

Jika dibandingkan dengan model negara lain, Indonesia berpotensi mengulang pola otoritarian ala Rusia, Turki, atau bahkan Orde Baru, alih-alih mencontoh praktik demokrasi mapan seperti Amerika Serikat, Jerman, atau Prancis.

Dapat dilihat secara comparative constitutional law, jelas bahwa praktik rangkap jabatan ini bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi konstitusional modern, yang menuntut presiden untuk berdiri di atas kepentingan partai demi menjaga impartiality dan legitimasi.

Solusi dan Rekomendasi

Untuk memperkuat demokrasi Indonesia dan mencegah konsentrasi kekuasaan yang berlebihan, diperlukan serangkaian langkah reformasi yang menyeluruh dan konsisten.

Pertama, perlu adanya reformasi hukum melalui amandemen UUD 1945 ataupun perubahan undang-undang kepemiluan yang secara tegas melarang presiden merangkap jabatan sebagai ketua partai politik. Aturan ini demi menjaga netralitas kepala negara dan menghindarkan penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan partisan.

Yang kedua mekanisme nonaktif juga perlu diterapkan, di mana presiden yang terpilih wajib menanggalkan jabatan kepartaiannya selama masa kepresidenan berlangsung. Sehingga  kebijakan publik yang diambil tidak akan bias dan tetap berpihak pada kepentingan rakyat secara keseluruhan.

Dan yang ketiga adalah memperkuat lembaga-lembaga pengawas seperti Mahkamah Konstitusi, Komisi Pemberantasan Korupsi, Badan Pemeriksa Keuangan, dan Ombudsman. Lembaga-lembaga ini harus diberi kewenangan yang lebih luas serta independensi yang kuat agar dapat memantau, menindak, dan mencegah potensi konflik kepentingan antara kekuasaan negara dan kepentingan partai politik.

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News

Penulis

News & Inspiring

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Idul Adha

    Idul Adha 1446 H, PKU Gombong Potong 33 Sapi Kurban

    • calendar_month Sab, 7 Jun 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.095
    • 0Komentar

    GOMBONG (KebumenUpdate.com) – Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong menyembelih 33 ekor sapi dalam rangka Idul Adha 1446 H, Sabtu 7 Juni 2025. Penyembelihan berlangsung sejak pukul 03.00 WIB di halaman belakang rumah sakit. Direktur Utama Rumah Saki PKU Muhammadiyah Gombong, dr Muhammad Miftahuddin, ikut terlibat langsung dalam proses pemotongan. Seluruh sapi diperiksa oleh dokter hewan […]

  • Migrant Care

    Menuju Revisi Perda Inklusif: Perlindungan Pekerja Migran Jadi Sorotan Migrant Care Kebumen

    • calendar_month Ming, 25 Mei 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 507
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Migrant CARE Kebumen menggelar Workshop “Menuju Revisi Perda yang Melindungi, Implementatif serta Inklusi, Berwajah HAM dan Memberdayakan Pekerja Migran” di Hotel Trio Azana Style, Kebumen, Senin 5 Mei 2025. Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk membahas situasi terkini pekerja migran di Kebumen, serta mendorong pembaruan regulasi yang lebih adil dan berpihak. Workshop […]

  • Bupati Kebumen

    Hadapi Tantangan Berat, OPD Harus All Out Dukung Arif-Rista

    • calendar_month Jum, 26 Feb 2021
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.814
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Kepemimpinan Bupati Kebumen H Arif Sugiyanto SH dan Hj Ristawati Purwaningsih SST MM (Arif-Rista) menghadapi tantangan yang berat. Tidak mudah untuk mewujudkan dengan cepat cita-cita yang ada di dalam visi-misi jika tidak diimbangi dengan dukungan organisasi perangkat (OPD) pada level tertinggi hingga tingkat kepala desa dan perangkatnya. “Sekarang ini kita mengalami kondisi […]

  • Buka Lapangan Kerja Baru, M Yahya Fuad dan Lilis Nuryani Dirikan SPBU yang ke-5

    Buka Lapangan Kerja Baru, M Yahya Fuad dan Lilis Nuryani Dirikan SPBU yang ke-5

    • calendar_month Sab, 11 Jan 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 3.135
    • 0Komentar

    Ada Keteladanan dari M Yahya Fuad  Berkesempatan memberikan sambutan, Wakil Bupati Kebumen terpilih Zaeni Miftah merasa takjub dengan apa yang disaksikannya saat membersamai Mohammad Yahya Fuad dan Lilis Nuryani. Menurutnya, ada uswah (keteladanan) yang penting dan patut dijadikan contoh. “Apa yang hari ini Pak Fuad lakukan yaitu peletakan batu pertama di Ponpes Al Kamal Kuwarasan […]

  • Gorengan

    Kebanyakan Makan Gorengan Ternyata Bahaya, Loh!!

    • calendar_month Sel, 26 Nov 2024
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 464
    • 0Komentar

    TIDAK bisa dipungkiri saat musim hujan seperti ini, makan kudapan gorengan sembari minum secangkir kopi atau teh hangat adalah hal yang sangat nikmat. Apalagi saat berbuka puasa, seringkali kita tergoda untuk memakan gorengan saat berbuka. Yang perlu kita tahu bahwa kebanyakan atau keseringan mengkonsumsi gorengan juga berbahaya, loh. Perlu untuk membatasi konsumsi gorengan dan memilih […]

  • Bean Spot Alfamart menyediakan kopi siap saji premium kekinian. (Foto: Istimewa)

    Bean Spot Alfamart Hadir Manjakan Penggemar Kopi Kekinian

    • calendar_month Sen, 7 Sep 2020
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 30.816
    • 0Komentar

    CILACAP (KebumenUpdate.com) – Ngopi menjadi salah satu aktivitas yang digemari oleh masyarakat Indonesia sejak dulu. Dahulu, istilah ngopi merujuk kepada acara minum kopi bersama sebagai media bersosialisasi yang lebih banyak didominasi oleh kalangan pria dewasa. Saat ini, istilah ngopi saat ini bergeser menjadi aktivitas menikmati sajian kopi yang didorong oleh kegemaran minum kopi, kebutuhan pekerjaan […]

expand_less