KEBUMEN YANG DIINGINKAN; Mangayubagya Hari Jadi Ke-392 Kebumen
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 13 Agu 2021
- visibility 11.904
- comment 0 komentar

Sejumlah anak berlatih menari di Pantai Petanahan. (Foto: OndoS)
Oleh: Sigit Tri Prabowo*
TEMPO hari sekelompok pemuda dari sebuah desa di Kebumen Selatan berdiskusi dengan saya. Mereka ingin melakukan sesuatu yang mampu menggugah semangat kebersamaan warga desa. Ide yang muncul adalah menelusur dan menentukan hari jadi desa. Diharapkan momentum hari jadi menjadi alat penggugah semangat warga dan pemersatu tekad untuk membangun desa.
Belum apa-apa saya sudah membayangkan rumitnya proses yang mesti dilalui. Hampir dipastikan penelusuran akan mengandalkan sejarah lisan yang rawan bias dan sulit divalidasi. Tiap desa pun umumnya merupakan penggabungan beberapa dukuh atau dusun. Lalu sejarah versi dukuh mana yang mau dipakai? Belum lagi potensi adanya pihak yang tidak legawa ketika pendapat atau sejarah leluhurnya tak diakomodasi. Alih-alih menguatkan persatuan desa, proses mencari hari jadi justru potensial menjadi perdebatan panjang tanpa akhir.
Saya teringat ketika ditanya seorang rekan di tengah proses penetapan hari jadi Kebumen. Saya menolak terlibat dalam debat terkait proses itu. Pertama, saya memang tak memiliki kompetensi dan sumber data memadai soal itu. Yang kedua, hemat saya, hari jadi sebuah wilayah sesungguhnya lebih besar muatan filosofis dan politis ketimbang kesahihan akademis.
Baca Juga: Kebumen-Banjarnegara Itu Ibarat Tetangga yang Rumahnya Saling Membelakangi
Celakanya, justru muatan filosofinya yang akhirnya banyak diabaikan. Kerap terjadi di berbagai tempat, setelah melalui perdebatan panjang dan melelahkan, hari jadi hanya menjadi rangkaian seremonial birokrasi dan para elite lokal. Nilai-nilai utama yang sebenarnya bisa digali dan dihidupkan kembali malah terabaikan. Sayang sekali.
Tanggal 21 Agustus 2021 mendatang Kabupaten Kebumen akan memperingati hari jadi ke-392. Momentum hari jadi yang jatuh di tengah keprihatinan multidimensi. Saat seluruh sendi bangsa serasa lumpuh dihantam bencana pandemi. Ketika Kebumen masih saja berkutat dengan status kabupaten (ter)miskin. Saat masih begitu banyak pekerjaan rumah baik bagi birokrasi maupun warga Kebumen sendiri.







Saat ini belum ada komentar