KEBUMEN YANG DIINGINKAN; Mangayubagya Hari Jadi Ke-392 Kebumen
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 13 Agu 2021
- visibility 12.178
- comment 0 komentar

Sejumlah anak berlatih menari di Pantai Petanahan. (Foto: OndoS)
Sayangnya komunikasi terpotong-potong yang diterima publik menimbulkan hiruk pikuk yang justru mengaburkan isu pokoknya. Akhirnya momen menggugah kesadaran masyarakat untuk ikut berpartisipasi, urun rembug dan urun mimpi dalam penataan kota terkubur oleh riuhnya silang pendapat ‘sebatas’ jalur satu arah.
Momentum Reflektif
Momen hari jadi juga seyogyanya bukan hanya meriah di seputaran alun-alun saja. Semeriah apapun karnaval dan panggung pentas di Alun-alun Kebumen tak akan cukup bergaung bagi warga Kebumen di sudut Kecamatan Mirit, Poncowarno, Ayah dan sudut-sudut terpencil lainnya. Betapa eloknya jika hari jadi disengkuyung dalam kelompok-kelompok serba kecil tingkat RT atau RW. Warga berkumpul membicarakan kehidupan sekitar dan bolehlah menghimpun berbagai harapan warga untuk diteruskan ke para petinggi di kecamatan atau kabupaten.
Momentum hari jadi menjadi roh sebuah ‘muktamar warga’ berjenjang dari bawah hingga kabupaten. Jika Musyawarah Perencanaan Pembangunan (musrenbang) cenderung bersifat birokratis prosedural, muktamar warga mestilah berjalan dengan lebih cair, setara namun juga lebih mampu mendengar berbagai harapan rakyat biasa.
Hari jadi ini juga sesungguhnya bisa menjadi momen reflektif bagi unsur penyeimbang dan pengontrol eksekutif. Legislatif sebagai pemegang mandat rakyat untuk mengawasi kinerja eksekutif mestinya bersedia lebih rendah hati dan lapang dada menilai diri, menerima dengan penuh pemakluman atas berbagai ketidakpuasan terhadap kinerja dewan.
Sorotan atas ketidaksigapan anggota dewan dalam ‘menemani rakyat’ saat berbagai masalah menghantam jangan buru-buru ditangkis dan diingkari. Bisa saja ini (lagi-lagi) soal komunikasi yang terpotong. Minimnya kabar tentang sikap dan gerak anggota dewan membuat rakyat bertanya-tanya apa saja yang dilakukan para wakilnya.
Antusiasme tinggi justru diperlihatkan oleh ‘parlemen partikelir’. Para aktivis dan pengamat sosial politik Kebumen menjadi pihak yang cukup intens dan vokal bersuara, baik di media arus utama maupun di media sosial. Meski demikian harus diakui bahwa kualitas kritik dan kontrol masih harus mendapat perhatian serius.














Saat ini belum ada komentar