Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Kolom » Gua Petruk: Antara Ruang Belajar Karakter dan Ironi Tata Kelola Wisata

Gua Petruk: Antara Ruang Belajar Karakter dan Ironi Tata Kelola Wisata

  • account_circle Hari Satria
  • calendar_month Sab, 29 Agu 2026
  • visibility 776
  • comment 0 komentar
Facebook Twitter Whatsapp Pinterest

“Mbok ngesuk selo, Har. Melu dolan caving Gua Petruk bareng cah-cah (Siapa tahu besok waktunya longgar, Har. Ikut main telusur Gua Petruk bareng anak-anak),” demikian bunyi pesan singkat dari pembina Gaspala, Sulistyo Budhi, Jumat malam 28 Agustus 2026.

Bak gayung bersambut, Sabtu, 29 Agustus 2026, tidak ada agenda tugas. Saya pun bisa memenuhi ajakan tersebut, meski saat akan berangkat ke Gua Petruk tiba-tiba ada undangan liputan dadakan di salah satu pondok pesantren yang kedatangan mantan Presiden Jokowi.

Penelusuran ke dalam ‘perut bumi’ Gua Petruk. (Foto: Hari)

Sepanjang perjalanan menuju Gua Petruk, ingatan saya kembali pada tahun lalu ketika Gaspala mengajukan kegiatan serupa namun berujung pada penolakan alias tidak mendapat izin dari sekolah.

Sebagai seseorang yang pernah membersamai anak-anak muda di ekstrakurikuler pecinta alam SMAN 2 Kebumen, penolakan tersebut masih sangat membekas.

Dulu, ketika gagasan untuk mengajak siswa melakukan caving—menelusuri perut bumi di kawasan karst Gombong Selatan—diajukan, jawabannya “terlalu berbahaya”.

Segala argumen akademis tentang edukasi mitigasi, potensi geologis, hingga literasi lingkungan seolah runtuh di hadapan ketakutan struktural terhadap risiko.

Namun, ironinya terbentang ketika masa kepengurusan saya usai; di bawah kendali dan waktu yang berbeda, pintu izin untuk kegiatan serupa mendadak terbuka lebar.

Dari sini, sebuah pertanyaan mendasar muncul: apakah alam Gombong Selatan yang dulunya ganas kini telah jinak, ataukah yang sebenarnya berubah adalah mentalitas kita dalam memandang sebuah risiko?

Ketika sekolah memilih mengambil jalan pintas dengan melarang total tanpa berupaya memahami atau memfasilitasi manajemen risikonya, siswa sebenarnya sedang dirampas hak belajarnya.

Mereka kehilangan kesempatan emas untuk melatih kepemimpinan, mengasah kepekaan situasi, dan membangun kerja sama tim di bawah tekanan nyata.

Ketakutan berlebihan terhadap alam sering kali bukan bersumber dari bahaya di lapangan, melainkan dari ketidaktahuan dalam mengelolanya.

Padahal, ruang-ruang seperti kawasan karst Gombong Selatan dan Gua Petruk jauh melampaui batas definisi rekreasi ekstrem semata.

Di tengah ancaman krisis iklim dan bayang-bayang kekeringan yang kerap melanda sebagian wilayah Kebumen, kawasan karst terbukti menjadi benteng ekologis sekaligus menara air kehidupan.

Mengajak siswa turun langsung ke dalam gua bukanlah sekadar mencari sensasi kegelapan atau uji adrenalin, melainkan menyelami laboratorium hidrologi hidup.

Di sana, mereka belajar bagaimana air tanah bekerja, mengapa ekosistem batuan purba harus dilindungi, dan bagaimana manusia bergantung secara langsung pada kelestarian alamnya.

Ruang kelas konvensional dengan dinding semen memiliki batas fisik yang ketat, sementara alam menyediakan kurikulum autentik yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh lembar soal ujian atau tayangan video.

Pada akhirnya, dinamika perizinan ini patut disikapi dengan kepala dingin. Keputusan apa pun yang diambil oleh pengambil kebijakan hari ini—baik dahulu dilarang maupun sekarang diizinkan—esensi utamanya harus bertumpu pada keselamatan dan kualitas tumbuh kembang pelajar.

Jika pintu izin ke alam terbuka kini telah dibuka lebar, tanggung jawab moral terbesar berada di pundak para pembina dan generasi penerus untuk membuktikan bahwa kegiatan alam bebas mampu dijalankan dengan standar keselamatan, kecerdasan ekologis, dan disiplin tinggi.

Di balik refleksi tersebut, kegiatan ini juga menyingkap fakta baru mengenai tata kelola objek wisata Gua Petruk.

Berdasarkan informasi dari salah seorang pemandu, fasilitas perlengkapan standar untuk masuk gua sejatinya sudah termasuk (include) ke dalam tiket masuk.

Harga tiket resmi tercatat sebesar Rp15.000 untuk hari biasa (weekday) dan Rp20.000 untuk akhir pekan (weekend).

Kenyataan ini kontras dengan pengalaman bertahun-tahun lalu, di mana pengunjung diwajibkan membayar tiket sekaligus menyewa alat secara terpisah (seperti helm dan sepatu).

Meski hanya Rp5.000 per item, pungutan tambahan ini tentu membebani kunjungan rombongan berskala besar, seperti 50 anggota Gaspala hari ini.

“Sebenarnya sudah ada perintah dari dinas kalau tidak boleh alatnya disewakan [berbayar], karena itu sudah termasuk fasilitas. Tapi ya itu Mas, sering kejadian ada kebocoran dana yang keluar,” ujar pemandu tersebut.

Selain persoalan fasilitas, ia juga mengeluhkan maraknya akun media sosial penyedia jasa open trip yang mematok tarif jauh di atas harga resmi, mulai dari Rp75.000, Rp90.000, hingga Rp120.000 per orang.

Praktik ini umumnya menyasar wisatawan luar daerah yang belum mengetahui informasi harga tiket asli. Dengan maraknya open trip berharga melambung ini, para pemandu lokal mengkhawatirkan penurunan minat kunjungan jangka panjang.

“Padahal kami di sini tugasnya melayani pengunjung. Mau kami pandu, kami siap. Masalah nanti mau dikasih tip, itu sukarela,” imbuhnya.

Kegiatan penelusuran bersama Gaspala sendiri dimulai pukul 09.45 WIB dengan melibatkan lebih dari 50 peserta yang terdiri atas siswa-siswi kelas X, pengurus panitia, tamu undangan, perwakilan kelas XII, dan pembina.

Perjalanan berlangsung lancar berkat penerapan sistem pembagian kelompok yang dikawal oleh panitia.

Formasi perjalanan diatur secara cermat: barisan terdepan dipandu oleh pemandu lokal, bagian tengah dikawal oleh pembina, dan saya sendiri mendampingi barisan paling belakang.

Selain rombongan Gaspala, tampak juga pengunjung dari Cilacap, Jawa Barat, serta mahasiswa yang sedang melaksanakan program KKN.

Menjelang tengah hari, seluruh rombongan berhasil mencapai ujung lorong gua. Setelah beristirahat sejenak, rombongan kembali bergerak keluar menuju mulut gua untuk menutup rangkaian kegiatan dengan bersih-bersih, ibadah salat, dan makan siang. **Makin Tahu Indonesia 

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News
Avatar

Penulis

Suka menulis, membaca dan berpetualang.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • PMI Salurkan Bantuan untuk Nelayan Terdampak Gelombang Tinggi di TPI Pasir

    PMI Salurkan Bantuan untuk Nelayan Terdampak Gelombang Tinggi di TPI Pasir

    • calendar_month Jum, 1 Agu 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 492
    • 0Komentar

    AYAH (KebumenUpdate.com) – Gelombang tinggi dan angin kencang yang melanda perairan Kebumen dalam tiga hari terakhir telah merusak puluhan perahu nelayan, terutama di TPI Pasir, Kecamatan Ayah. Merespons kondisi ini, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kebumen bersama Pemerintah Daerah (Pemda) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait segera menyalurkan bantuan kepada para nelayan. Pada Kamis, 31 […]

  • Menteri BUMN Terpikat Keindahan Pantai Menganti

    Menteri BUMN Terpikat Keindahan Pantai Menganti

    • calendar_month Kam, 4 Jul 2019
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 66.592
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate) – Keindahan Pantai Menganti di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kebumen memikat Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno. Saat mengunjungi pantai di pesisir selatan Kebumen itu, Kamis (4/7/2019), Rini benar-benar terpesona oleh keindahan panorama alam. Kunjungan Rini disambut oleh Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz dan Wakil Bupati Arif Sugiyanto di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Kemudian […]

  • Penumpang KA Meninggal di Kursi Tunggu Stasiun Prembun

    Penumpang KA Meninggal di Kursi Tunggu Stasiun Prembun

    • calendar_month Rab, 4 Mar 2020
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 21.057
    • 0Komentar

    PREMBUN (KebumenUpdate.com) – Seorang penumpang kereta api  berinisial Suyatman (33) warga Kemayoran, Jakarta Pusat meninggal dunia di Stasiun Kereta Api Prembun, Kebumen, Rabu 4 Maret 2020. Pria itu meninggal dunia saat akan pulang ke kampung halamannya di Desa Sitibentar, Kecamatan Mirit untuk berobat. Korban diketahui meninggal dunia di kursi ruang tunggu Stasiun Prembun saat menunggu […]

  • Pembina ESC MAN 1 Kebumen Dra Elly Samodrati ikut membagikan masker. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)

    Pelajar MAN 1 Kebumen Bagikan Masker di Pantai Setrojenar, Ini Alasannya

    • calendar_month Ming, 6 Sep 2020
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.262
    • 0Komentar

    BULUSPESANTREN (KebumenUpdate.com) – Kasus positif Covid-19 di Kabupaten Kebumen  terus bertambah. Di sisi lain, banyak warga yang masih abai terhadap protokol kesehatan sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona. Prihatin atas kondisi tersebut, para pelajar yang tergabung dalam English Study Club (ESC) MAN 1 Kebumen menggelar aksi kepedulian sosial dengan cara membagikan 300 masker kain di […]

  • ziarah

    Didampingi Ketua PCNU Kebumen, Arif-Rista Ziarahi Makam Pahlawan dan Bupati Terdahulu

    • calendar_month Kam, 1 Okt 2020
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.592
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Kebumen H Arif Sugiyanto SH dan Hj Ristawati Purwaningsih SST MM melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Bumi Wira Bhakti Kebumen, Kamis 1 Oktober 2020. Ziarah ke makam para pahlawan itu digelar dalam rangkaian memeringati Hati Kesaktian Pancasila. Selain berdoa dan tabur bunga di pusara […]

  • Formasi

    Formasi Dorong Desa Susun Perdes Keterbukaan Informasi Publik, Ini Urgensinya

    • calendar_month Rab, 14 Sep 2022
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.308
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Forum Masyarakat Sipil (Formasi) melalui Sekolah Desa dan Anggaran (SADAR) terus memperkuat keterbukaan informasi di desa. Selama ini, pemerintah desa mengalami kendala dalam menerapkan keterbukaan informasi publik yakni banyaknya pihak yang datang ke desa meminta dokumen dengan setengah memaksa. Bahkan yang diminta merupakan informasi yang dikecualikan seperti dokumen yang terkait dengan bukti […]

expand_less