Dari Waduk Sempor hingga Magelang: Mengayuh Kembali Sisa-Sisa Racun Masa Remaja
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 37
- comment 0 komentar

Penampakan sepeda mini yang telah diperbaiki hingga berfungsi normal kembali. (Foto: Hari)
SEPEDA mini warna merah itu sudah mangkrak belasan tahun di samping rumah, berdebu dan mengenaskan—nasibnya tak jauh beda dengan sepeda lipat keponakan.
Daripada terus menjadi besi tua yang mubazir, akhirnya muncul niat untuk “menghidupkannya” kembali.
Rencananya, si merah ini akan saya ajak berkeliling menyusuri sudut-sudut Kota Kebumen. Hitung-hitung, cari keringat sekaligus bernostalgia.
Seperti kata Einstein, “Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, Anda harus terus bergerak.”
***
Hari Minggu sore sepeda mini warna merah tersebut saya bawa ke bengkel di timur koplak dokar—Jalan Arungbinang. Orang bengkel bilang tidak bisa selesai sore itu, paling tidak Senin atau Selasa.
Berhubung Senin dan Selasa mendapat tugas sampai sore, maka sepeda tersebut baru bisa saya ambil Rabu pagi ini.
“Telas pinten Mas?” tanya saya. Dijawab 250 ribu. Angka yang tidak jauh dari prediksi. Karena harus ganti ban luar, ban dalam, rantai, kabel rem, dan sadel.
***
Saya jadi ingat, medio tahun 2000-an saat masih SMP–SMA, untuk pertama kalinya saya punya sepeda. Yang pertama adalah sepeda jengki hasil dibelikan ibu saat menjelang kelulusan SMP. Sepeda jengki ini juga menemani saya mendaftar ke SMA dan menemani berangkat pulang sekolah setiap hari.
Saat kelas satu SMA, teman-teman di lingkungan rumah mulai punya sepeda balap. Di antaranya Iwan Dawir dan Karjo.
Dari ‘racun’ yang disebarkan oleh mereka berdua akhirnya saya memiliki sepeda kedua berjenis MTB rakitan. Meski beda jenis dengan sepeda balap seperti milik Iwan dan Karjo, tapi saya sering diajak bersepeda jarak jauh seperti ke Waduk Sempor, Wadaslintang, atau sampai Kecamatan Tambak perbatasan Kebumen–Banyumas.

Sepeda gunung rakitan yang sering dibawa blusukan, mulai dari Waduk Sempor dan Wadaslintang hingga jauh ke Magelang. (Foto: Hari)
Bahkan saat itu saya sampai diajak bergabung ke Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Kebumen untuk ikut berlaga di berbagai kompetisi. Namun karena saya lebih memilih kegiatan pecinta alam SMA (Gaspala), peluang tersebut tidak saya ambil.
Hingga lulus SMA saya masih aktif bersepeda kemana-mana. Termasuk di tahun 2011 saat menemani adik-adik pecinta alam di SMA untuk survei ke Gunung Merbabu, saya memilih naik sepeda dari Kebumen–Terminal Magelang pergi pulang.
Waktu pandemi sepeda gunung rakitan ini akhirnya berpisah dengan saya karena dijual. Menyusul sepeda jengki pertama saya yang dijual lebih dulu. Sekarang hanya tersisa 2 sepeda di rumah—mini dan lipat.
***
Kembali booming-nya aktivitas bersepeda di Kebumen akhir-akhir ini tentu menjadi momentum yang pas. Entah nanti jalurnya mulus atau menanjak, yang penting pedal kembali dikayuh.
Menyusuri jalan-jalan desa, pinggiran sawah, hingga pereng kali—bukan lagi untuk mengejar jarak ekstrem seperti belasan tahun lalu, melainkan untuk merawat ingatan dan menjaga keseimbangan hidup di atas dua roda. **Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar