Pemkab Kebumen Integrasikan Geopark ke Pembelajaran Sekolah, Kenalkan Geologi Hingga Budaya
- account_circle Anindya Astadewi
- calendar_month 49 menit yang lalu
- visibility 52
- comment 0 komentar

Pembukaan kegiatan Pengembangan Sekolah Geopark Kebumen sebagai Muatan Lokal di Hotel Candisari. (Foto: Istimewa)
KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Pemerintah Kabupaten Kebumen mengimplementasikan Geopark Kebumen sebagai muatan lokal di sekolah untuk mengenalkan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya daerah kepada peserta didik. Program tersebut menyasar jenjang PAUD, SD, SMP hingga Pendidikan Kesetaraan.
Program itu disosialisasikan melalui kegiatan Pengembangan Sekolah Geopark Kebumen sebagai Muatan Lokal Tahun 2026 di Hotel Candisari, Kecamatan Karanganyar, Jumat, 18 September 2026.
Pengembangan pembelajaran Geopark Kebumen tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan siswa mengenai potensi daerah. Program ini juga bertujuan menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, warisan geologi, budaya lokal, sekaligus membuka pemahaman mengenai potensi ekonomi masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kebumen, Dr Agus Sunaryo, membuka kegiatan sosialisasi tersebut. Ia menilai pengenalan potensi daerah perlu dilakukan sejak usia sekolah agar generasi muda memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap lingkungan dan kekayaan daerahnya.
Menurut Agus, pengetahuan mengenai kekayaan alam dan budaya Kebumen dapat menjadi bagian dari proses pendidikan sekaligus memberikan perspektif kepada peserta didik mengenai peluang pengembangan potensi daerah.
Geopark Diterapkan di Berbagai Aktivitas Sekolah
Materi Geopark Kebumen mencakup tiga aspek utama, yaitu keragaman geologi atau geodiversity, keragaman hayati atau biodiversity, serta keragaman budaya atau cultural diversity.
Sekolah dapat memasukkan materi tersebut dalam berbagai bentuk kegiatan pendidikan. Penerapannya dapat berlangsung melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler berbasis budaya, hingga pengelolaan dan manajemen sekolah.
Dengan pola tersebut, pembelajaran geopark tidak harus berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri. Sekolah dapat mengaitkan materi geopark dengan pembelajaran yang sudah berjalan maupun aktivitas pendidikan lain yang relevan.
Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Ir. Chusni Ansori, menjelaskan bahwa pengembangan geopark memiliki tiga pilar yang saling berkaitan.
“Geopark memiliki tiga pilar utama, yaitu edukasi, konservasi, dan pengembangan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” jelas Chusni.
Menurutnya, pemahaman tentang geopark perlu menghubungkan pengetahuan dengan upaya menjaga warisan alam serta meningkatkan manfaatnya bagi masyarakat. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mengenali berbagai situs atau potensi daerah, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keberlanjutannya.
Dorong Siswa Kenali Potensi Daerah
Sosialisasi Pengembangan Sekolah Geopark Kebumen turut menghadirkan Ki Among Prasetyo, Anggota Bidang Edukasi dan Kerja Sama Badan Pengelola Geopark Kebumen, serta Martiono, Kepala Bidang SMP Disdikpora Kebumen, sebagai narasumber.
Melalui pembelajaran berbasis geopark, sekolah dapat membawa peserta didik lebih dekat dengan lingkungan di sekitarnya. Siswa dapat mempelajari keterkaitan antara kondisi geologi, keanekaragaman hayati, sejarah, tradisi, serta kebudayaan yang berkembang di Kebumen.
Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi pembelajaran kontekstual. Peserta didik tidak hanya memperoleh materi di dalam kelas, tetapi dapat memahami potensi daerah melalui lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Pemkab Kebumen berharap pengembangan Sekolah Geopark Kebumen dapat memperkuat kepedulian generasi muda terhadap warisan alam dan budaya. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan diharapkan menjadi bekal bagi siswa untuk ikut menjaga, mengembangkan, serta memanfaatkan potensi daerah secara bertanggung jawab.
Program tersebut sekaligus menempatkan pendidikan sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan Geopark Kebumen, dengan menghubungkan aspek pengetahuan, konservasi, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Makin tahu Indonesia
- Penulis: Anindya Astadewi
- Editor: Hanny Garnet







Saat ini belum ada komentar