Karangbolong: Menelusuri Kisah Panjang yang Merentang
- account_circle Teguh Hindarto
- calendar_month Rab, 15 Apr 2026
- visibility 875
- comment 0 komentar

Sumber foto: Eigen Haard; Geïllustreerd Volkstijdschrift No 19 (1900)
Kegiatan dimulai hari kamis malam jumat dengan melakukan pembersihan tebing dan gua. Jumat pagi kerbau disembelih dan dipotong kecil serta disajikan di tiga gua. Jumat petang tukang kembang akan memberi sesaji di makam Kyai Bekel (yang pernah membunuh Kyai Surti). Jumat malam Sabtu selain pertunjukan wayang purwo juga ditampilkan kesenian topeng dengan lakon Panji Asmarabangun. Pada Sabtu pagi pengunduhan dimulai dan selama satu Minggu diadakan tayuban (1938:101-102).
Pesanggrahan yang berdekatan dengan gudang penyimpanan sarang lawet bukan hanya menjadi episentrum tindakan kultural menaikkan sejumlah doa-doa keselamatan namun juga menjadi tempat menyimpan sejumlah pusaka dan perkakas berupa burung garuda yang diyakini sebagai tempat beristirahat Ratu Kidul (Teguh Hindarto, Wetan Kali Kulon Kali: Mengenang Kabupaten Karanganyar Hingga Penggabungan dengan Kabupaten Kebumen 1936, 2021:82).
Sebuah informasi menarik lainnya berkaitan dengan keberadaan pesanggrahan dan gudang penyimpanan sarang lawet didapati dari sebuah artikel yang ditulis oleh Poppie dengan judul, Uit Der Het Land Der Salanganen yang dimuat dalam majalah Eigen Haard; Geïllustreerd Volkstijdschrift No 19 Tahun 1900 sbb: “Setelah tiba di desa terakhir yang terletak dekat laut, sebuah rumah batu yang dibangun dengan gaya indah tampak di depan mata para pelancong (den reiziger) di tikungan jalan; sekitar empat puluh tahun yang lalu, rumah ini merupakan kediaman pejabat pemerintah yang mengawasi eksploitasi tebing sarang burung;sekarang, hanya selama musim panen, dihuni oleh penyewa Tionghoa, yang dengan pembayaran sekitar 20.000 florin per tahun, mendapat izin untuk mengumpulkan sarang burung untuk keuntungannya sendiri. Sebagian rumah diperuntukkan bagi pejabat yang sedang singgah atau melakukan kunjungan”.
Jika artikel ini ditulis tahun 1900 dan pesanggrahan ini telah dibangun empat puluh tahun sebelumnya, maka jatuh pada tahun 1860. Apakah pesanggarahan yang disebutkan dalam surat kabar dan majalah serta buku-buku era kolonial masih bertahan pada sejumlah bangunan yang berdiri di Karangbolong masa kini?
Sampai hari ini pengunduhan yang telah berakar sejak era kolonial masih tetap berlangsung. Namun demikian, intensitas pengunduhan sarang walet mengalami penurunan dari tahun ke tahun khususnya di tahun 2000-an dan hanya menyisakan sejumlah kecil pekerja pengunduhan sarang walet di desa Karangduwur, Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen.
Demikianlah kisah panjang merentang di tebing dan gua Karangbolong yang merentang sejak era Hindia Belanda hingga masa kini. Tebing dan gua tua,menyimpan kisah-kisah lama mengenai pergulatan manusia mencari kesembuhan, mengelola sumber daya ekonomi, menyiasati keganasan samudra dengan tindakan budaya melalui saji dan doa, tempat melancong yang dirindukan. Seperti sebuah petikkan kalimat di sebuah novel yang sedang saya review karena belum diterbitkan, “lubang-lubang karang di sana adalah mulut tua yang menyimpan suara masa silam”. Makin tahu Indonesia
Teguh Hindarto, Founder Historical Study Trips (HST) dan Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kebumen
- Penulis: Teguh Hindarto








Saat ini belum ada komentar