Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Karangbolong: Menelusuri Kisah Panjang yang Merentang

Karangbolong: Menelusuri Kisah Panjang yang Merentang

  • account_circle Teguh Hindarto
  • calendar_month Rab, 15 Apr 2026
  • visibility 1.652
  • comment 0 komentar
Facebook Twitter Whatsapp Pinterest

Melalui sebuah berita pendek dengan judul, Pasanggrahan Karangbolong en de Eetbare Vogelnestjes (Pesanggrahan Karangbolong dan Sarang Burung Walet) yang dimuat surat kabar De Locomotief (19 Mei 1931) kita mendapatkan sejumlah keterangan menarik mengenai wilayah geografis Karangbolong, aspek ekonomi dan aspek budaya di Karangbolong (Teguh Hindarto, 2023, Yang Hilang Yang Bertahan di Karangbolong: Dari Sarang Walet Hingga Ratu Kidul Serta Pesta Rakyat-https://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com).

Berikut kutipan beritanya:
Di Karangbolong terdapat sebuah pasanggrahan yang dulunya milik pemerintah, namun dikelola oleh Kabupaten Karanganjar sejak 1 Januari 1930. Jalan menuju Karangbolong juga telah menjadi jalan Kabupaten, beberapa jembatan berbatang genta diganti dengan jembatan beton, sementara jalan itu sendiri juga telah mengalami banyak perbaikan. Pada musim hujan jalan yang cukup berbukit masih cukup licin, namun pada musim kemarau mobil dapat dengan mudah mencapai pasanggrahan tersebut.
Tempat Karangbolong menjadi istimewa karena tebing sarang burung yang terletak di pinggirannya. Sewa tebing sarang burung walet telah dilakukan dengan Ong Thiam Hoat, seorang pedagang yang tinggal di kediaman Semarang, dengan sewa tahunan sebesar 27.600 gulden.

Sewa ini merupakan sumber pendapatan penting bagi Kabupaten Karanganjar. Dari pasanggrahan, untuk mendekati gua harus menanjak sekitar 3 km. Meskipun bagi orang awam tidak mungkin untuk turun ke dalam gua-gua itu, namun tetap menarik untuk melihat bagaimana para pekerja dengan cara-cara primitif menembus ke dalam rongga-rongga gelap itu untuk mendapatkan sarang burung yang dapat dimakan.

Yang disebut pemetikan sarang burung walet berlangsung empat kali dalam setahun, yaitu pada bulan Januari, April atau Mei, Agustus atau September dan November. Setiap tahun diadakan panen dengan mengadakan slametan besar yang dilakukan untuk membuat Njai Loro Kidoel mendukung proses pengunduhan tersebut.

Gua Goewo Djoembleng terlihat dari titik tertentu. Untuk turunnya digunakan tangga rotan dengan panjang sekitar 150 m. Pendaki dan pelompat yang terampil, yang tidak takut badai laut, juga bisa masuk ke dalam gua. Sebelum goa Góewo Gedeh, menuruni bebatuan dilakukan dengan tangga tali dengan panjang sekitar 100 m. Gua ini memiliki kedalaman sekitar 800 m dalam arah horizontal dan memiliki selusin lorong samping di bagian dalam. Akses menuju goa ini dibuat dengan menggunakan bambu yang dilekatkan pada bebatuan sebagai gang dan penyangga.

Bambu-bambu ini digantung pada lubang-lubang yang sudah dibuat sebelumnya di bebatuan dengan cara dililit, sehingga memasuki jalan terbuat dari bambu akan menyebabkan gerakan bergoyang. Tidak disarankan bagi orang yang takut akan ruang dan saraf yang lemah untuk memasuki gua.

Sarang burung walet diekspor utamanya ke Cina dan Singapura, yang sebagian besar dikonsumsi oleh orang Cina sebagai tonik. Menyaksikan panen sangat menarik. Ketika pasanggrahan dan jalan melalui kabupaten Karanganjar sudah disiapkan dengan baik dan makanan disediakan, disarankan untuk tinggal di pasanggrahan di Karangbolong.

Sumber foto: Eigen Haard; Geïllustreerd Volkstijdschrift No 19 (1900)

Nama dua gua utama pengunduhan sarang burung sudah disebutkan yaitu Gua Gedeh dan Gua Djoembleng. Keberadaan sarang burung lawet dilaporkan telah diekspor sampai ke Singgapura, Cina dan Ghana sebagaimana disitir dalam berita berjudul, De Plaats Der Eetbare Vogelnestjes:Karangbolong oleh surat kabar De Sumatra Post (30 Mei 1931).

Nama Gua Gedeh dan Gua Djoembleng masih muncul dalam sebuah buku panduan berjudul, Pedoman Tamasja Jawa Tengah pada tahun 1961. Mengenai Gua Gede disebutkan demikian, “Dari Karangbolong ke Goa Gede kira-kira 2 km, Goa Lengkung kira-kira 6 km dan Goa Karangduwur kira-kira 10 km” (R.O. Simatupang, 1961:23). Demikian pula dikatakan mengenai Gua Djoembleng demikian, “Dua kilometer kemudian barulah anda akan sampai di suatu puntjak, di bawahnya terdapat satu goa besar dinamakan Goa Djumbleng. Ini adalah salah satu dari beberapa goa jang paling besar, jang menghasilkan sarang burung” (1961:25).

Pengunduhan Sarang Walet dan Aktivitas Sosial Budaya

Th. Pigeud dalam bukunya, De Javaanse Volksvertoningen (Pertunjukan Kesenian Rakyat Jawa) bukan hanya mengulas mengenai berbagai kegiatan seni tradisi yang masih berlangsung ataupun yang sudah mengalami kepunahan di Jawa termasuk wilayah Kedu namun juga melaporkan sejumlah aktivitas kebudayaan di wilayah Karangbolong berkaitan dengan pengunduhan sarang walet yang bukan hanya sekedar tindakan ekonomi melainkan tindakan kebudayaan tradisional.

Nampaknya Pigeaud mengandalkan laporan beberapa surat kabar yang melaporkan sejumlah aktivitas sosial budaya berkaitan dengan pengunduhan sarang walet pada bulan tertentu. Sebelum dilaksanakan pengunduhan sarang walet, diadakan pementasan pentas wayang orang dengan lakon Prabu Rama dan pementasan seni topeng (maskerspel) dengan lakon Panji Asmarabangun. Pada masa itu, para penyewa gua untuk mendapatkan burung walet adalah orang-orang Tionghoa untuk diekspor ke Tiongkok.

Dalam tulisan Pigeaud dijelaskan urut-urutan pesta rakyat di Karangbolong setiap pengunduhan sarang walet di mangsa kesanga (akhir April), mangsa telor (akhir Agustus), mangsa kapat (akhir Desember). Jika panen walet tiba, uang yang dikumpulkan para kepala distrik akan dibelikan sembilan kerbau dan satu kambing.

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News
  • Penulis: Teguh Hindarto

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wujud Gotong Royong, Bulan Dana PMI Kebumen 2025 Tembus Rp1,57 Miliar

    Wujud Gotong Royong, Bulan Dana PMI Kebumen 2025 Tembus Rp1,57 Miliar

    • calendar_month Sen, 26 Jan 2026
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 651
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Dana kemanusiaan sebesar Rp1.576.986.071 berhasil dihimpun melalui Bulan Dana PMI Kabupaten Kebumen tahun 2025. Hasil tersebut diserahkan Bupati Kebumen Lilis Nuryani kepada Ketua PMI Kebumen Sabar Irianto dalam acara Musyawarah Kerja (Musker) PMI 2026 yang berlangsung di Pendopo Kabumian, Senin 26 Januari 2026. Meski sedikit di bawah capaian tahun 2024 yang sebesar […]

  • Dua Dalang Milenial Prama-Rafi Tampil Menawan di Banyumas

    Dua Dalang Milenial Prama-Rafi Tampil Menawan di Banyumas

    • calendar_month Sel, 3 Des 2019
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 5.462
    • 0Komentar

    BANYUMAS (KebumenUpdate.com) – Dua dalang milenial asal ibukota Jakarta Ki Prama Riza Fadhlansyah (14) dan Ki Rafi Ramadhan (12) tampil menawan dalam pergelaran wayang kulit semalam suntuk di lapangan Desa Pajerukan, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Sabtu, 30  November 2019. Tampil bersama dalang kondang Ki Anom Jatmiko, putra Ki Anom Suroto asal Solo, Prama-Rafi membedah lakon “Jumenengan […]

  • Dilantik jadi Direktur, Suharyanto Targetkan Apotek Luk Ulo Layani Masyarakat 24 Jam

    Dilantik jadi Direktur, Suharyanto Targetkan Apotek Luk Ulo Layani Masyarakat 24 Jam

    • calendar_month Sel, 24 Jun 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.179
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – PT Luk Ulo Farma (Perseroda), yang dikenal sebagai Apotek Luk Ulo, bersiap memasuki era baru di bawah kepemimpinan direktur yang baru dilantik, Suharyanto, S.Farm., Apt. Pelantikan yang berlangsung pada Selasa, 24 Juni 2025, di Ruang Rapat Gedung A, menandai dimulainya babak inovatif bagi perusahaan farmasi milik daerah ini, dengan fokus pada peningkatan mutu […]

  • Semangat Hari Kebangkitan Nasional: Alsintan Baru Dongkrak Produktivitas Petani Kebumen

    Semangat Hari Kebangkitan Nasional: Alsintan Baru Dongkrak Produktivitas Petani Kebumen

    • calendar_month Sel, 20 Mei 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 718
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2025 di Pendopo Kabumian, Selasa 20 Mei 2025, tidak hanya menjadi momentum refleksi sejarah, tetapi juga membawa angin segar bagi para petani di Kabupaten Kebumen. Usai upacara Harkitnas yang khidmat, sebanyak 10 gabungan kelompok tani (gapoktan) menerima bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dengan total 33 unit […]

  • Wabup Arif Sugiyanto meninjau pembuatan disinfektan dan sainitizer. (Foto: Istimewa).

    Disperkim LH Kebumen Produksi 1.200 Liter Disinfektan

    • calendar_month Ming, 22 Mar 2020
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.771
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Tingginya kebutuhan disinfektan dan sanitizer di masyarakat membuat produk tersebut mengalami kelangkaan di pasaran. Saat ini disinfektan dan sanitizer menjadi kebutuhan pokok untuk antisipasi penularan virus corona atau Covid-19. Melihat kondisi tersebut, UPTD Laboratorium Lingkungan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Disperkim LH) Kebumen membuat disinfektan dan sanitizer sendiri. Pembuatan Sanitizer […]

  • Bupati Kebumen Wisuda di Unsoed.

    Bupati Kebumen Wisuda Magister Hukum di Unsoed, Ini Objek Penelitiannya

    • calendar_month Kam, 15 Jun 2023
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.770
    • 0Komentar

    Kemudian nilai yang didapat selama mengikuti kuliah juga memuaskan. Bupati meraih indeks prestasi komulatif (IPK) 3,68. Dia pun berencana melanjutkan kuliah untuk mengejar gelar doktor atau S-3 di kampus yang sama. “InsyaAllah nanti lanjut S-3, untuk kampusnya masih sama, ambil di Unsoed. Mohon doanya semua, semoga selalu dimudahkan dan dilancarkan,” ucapnya. Baca Juga: Dua Sisi Medsos […]

expand_less