Lupakan Drakor Sejenak! Teater Satoe SMAN 1 Kebumen Tampilkan Cerita Gunung Wurung, Seperti Ini Kisahnya
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Ming, 12 Okt 2025
- visibility 563
- comment 0 komentar

Teater The Tales of Gunung Wurung SMAN 1 Kebumen. (Foto: Hari)
KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Upaya melestarikan kebudayaan seperti yang ada dalam akronim visi Kebumen Berdaya (Beriman Maju Sejahtera dan Berbudaya) terus diwujudkan oleh Pemkab Kebumen di era kepempimpinan Bupati Lilis Nuryani.
Pertunjukan seni seperti ketoprak, opera, musik, tari, dan lainnya cukup rutin dihadirkan Pemkab Kebumen melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sejak program car free night dilaunching awal Mei 2025.

Para pemeran teater The Tales of Gunung Wurung SMAN 1 Kebumen. (Foto: Hari)
Terbaru, pada Sabtu malam, 11 Oktober 2025, rangkaian acara Car Free Night di panggung barat Alun-alun Pancasila Kebumen dimeriahkan oleh pertunjukan teater berjudul “The Tales of Gunung Wurung”. Pertunjukan ini dibawakan oleh Teater Satoe, kelompok seni dari SMAN 1 Kebumen (Smansa).
Sebelum puncak acara, penonton disuguhi penampilan dari Hardrochestra SMAN 1 Kebumen yang menyajikan kolaborasi paduan suara dan karawitan. Selain itu, tari-tarian khas daerah seperti Tari Gambyong, Tari Angguk Anglang, dan Tari Lawet turut ditampilkan untuk memperkaya acara.
Mengangkat Legenda Lokal Penuh Filosofi
Penanggung jawab acara, Slamet Pramono SPd, menjelaskan bahwa drama yang dipentaskan mengangkat sebuah legenda asli dari salah satu desa di Kebumen, yakni kisah Gunung Wurung.
Slamet, yang juga menjabat sebagai guru seni di SMAN 1 Kebumen dan Ketua Dewan Kesenian Daerah, menuturkan bahwa cerita ini sarat makna.
“Cerita ini memadukan antara ambisi, gengsi, dan angkara murka hingga puncaknya bersekongkol dengan iblis,” jelasnya.
Ia menambahkan, legenda tentang gunung yang tampak “tugel” atau tidak sempurna ini merefleksikan filosofi mendalam.
“Filosofinya adalah ambisi sebuah desa yang ingin membangun gunung sebagai simbol agar desa tersebut dikenal orang. Namun, karena bersekongkol dengan iblis, ambisi ini tidak dikehendaki Tuhan,” terang Slamet.
Ia juga menambahkan bahwa seluruh penampil malam itu merupakan pelajar SMAN 1 Kebumen.
“Kami ingin menampilkan semua potensi, mulai dari potensi musik, tari, hingga karawitan, kami munculkan semuanya,” tambah Slamet Pramono.
Kolaborasi memukau dari Hardrochestra yang sukses memadukan musik modern dengan musik tradisional (karawitan), tarian, dan seni teater membuat penonton terkesima.
Mewakili Bupati Lilis Nuryani, Asisten II Sri Kuntarti yang hadir di lokasi turut menyampaikan apresiasinya. Ia menegaskan bahwa acara seni dan budaya ini rutin dilaksanakan setiap bulan.
“Ini sungguh luar biasa dan semoga membawa dampak positif, khususnya bagi generasi muda agar mencintai budayanya, dan bagi pedagang di sekitar alun-alun semoga dagangannya makin laris,” kata Sri Kuntarti.
Lebih dari sekadar hiburan, pementasan teater ini secara tidak langsung menjadi bagian dari sosialisasi Geopark Kebumen yang telah diakui dunia sebagai UNESCO Global Geopark.
Sejak diluncurkan pada awal Mei 2025, program Car Free Night telah menyelenggarakan setidaknya empat kali pertunjukan teater (termasuk ketoprak dan opera) setiap bulan, sementara pekan lainnya diisi dengan pojok musik yang menampilkan band-band lokal. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar