Enceng Gondok di Rawa Pening Diolah Jadi Bio Briket dan Paving Block
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 26 Mei 2025
- visibility 760
- comment 0 komentar

Gubernur Ahmad Luthfi melihat produk dari hasil enceng gondok. (Foto: Humas Jateng)
BANYUBIRU (KebumenUpdate.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan Bank Jateng menggulirkan program pemberdayaan masyarakat untuk mengolah enceng gondok menjadi produk bernilai guna. Melalui pelatihan dan bantuan alat, gulma yang selama ini dianggap masalah di Rawa Pening, Kabupaten Semarang, kini disulap menjadi bio briket dan paving block.
Bantuan alat pengolahan diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, di Bukit Cinta, kawasan Rawa Pening, Banyubiru, Senin, 26 Mei 2025. Dalam sambutannya, Gubernur menyatakan bahwa pemanfaatan enceng gondok ini adalah bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat.
“Selamat kepada warga sekitar Rawa Pening. Biar tidak pening terus, kita bantu lewat program ini,” ujar Ahmad Luthfi.
Enceng gondok di Rawa Pening tumbuh sangat cepat. Berdasarkan riset pada 2021, pertumbuhannya bisa mencapai 1 meter persegi setiap 21–28 hari. Sejak 2020, BBWS Pemali-Juwana bersama TNI telah melakukan pembersihan bertahap: 550 ha pada 2020, 450 ha pada 2021, 200 ha pada 2022, 130 ha pada 2023, dan 263,5 ha pada 2024.
Meski warga telah memanfaatkannya sebagai bahan kerajinan seperti tas, tempat tisu, hingga kursi yang diekspor, pertumbuhan cepat gulma ini masih menyisakan persoalan ekologis yang mendesak untuk ditangani dengan pendekatan inovatif.
Kolaborasi UNS dan Bank Jateng Dorong Inovasi Energi Alternatif
Gagasan pengolahan enceng gondok menjadi bio briket dan paving block merupakan hasil sinergi antara UNS dan Bank Jateng melalui perjanjian kerja sama dengan Pemprov Jateng. Wakil Rektor Bidang Kerja Sama UNS, Irwan Trinugroho, menyebut program ini merupakan bentuk nyata dari Memorandum of Understanding (MoU) antara UNS dan Pemprov Jateng.
“MoU kami diturunkan ke berbagai program. Salah satunya pelatihan ini, untuk mengolah enceng gondok menjadi bahan bernilai ekonomis,” jelas Irwan.
Irwan menambahkan, bio briket yang dihasilkan dari enceng gondok berpotensi menjadi bahan bakar alternatif. Dengan bahan baku yang melimpah dan gratis, masyarakat bisa memproduksinya tanpa beban biaya awal.
“Jika bisa diproduksi massal, bio briket ini dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi warga sekitar,” ujarnya.
Dukungan Peralatan dan Harapan Produksi Skala Besar
Dalam tahap awal, masyarakat menerima masing-masing satu unit alat pengolah enceng gondok untuk pembuatan bio briket dan paving block. Bantuan ini difasilitasi oleh Bank Jateng sebagai bentuk dukungan konkret terhadap program pemberdayaan berbasis lingkungan.
Untuk membuat satu kilogram bio briket, dibutuhkan sekitar 100 gram enceng gondok kering. Saat ini produksi masih dilakukan dalam skala rumah tangga, namun potensi pengembangan industri skala besar terbuka lebar.
Gubernur Ahmad Luthfi berharap program ini terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara luas.
“Adanya paving block dan bio briket dari enceng gondok adalah kreativitas yang patut disyukuri. Semakin besar skalanya, semakin besar pula manfaatnya bagi masyarakat,” katanya.










Saat ini belum ada komentar