Cerpen: Lintas
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 29 Sep 2025
- visibility 795
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Oleh: Banyu Amerta
AKU percaya bahwa hidup dipenuhi dengan pertemuan-pertemuan kecil yang mungkin tampak sepele, tapi sebenarnya punya arti lebih dalam. Seperti pagi itu, di burjo langgananku, saat aku melihatmu duduk di pojok, mengaduk-aduk segelas es teh tanpa benar-benar meminumnya.
Bukan pertemuan pertama kita. Tapi mungkin pertemuan yang paling kuingat.
Aku duduk dua meja darimu, memesan nasi ayam bali, seperti biasa. Kamu menatap layar laptopmu, sesekali tersenyum kecil, sesekali menghela napas. Aku ingin bertanya, ingin tahu apa yang sedang kamu pikirkan, tapi aku tidak melakukannya.
Hingga sore itu, tanpa sengaja kita bicara soal musik. Kamu bertanya lagu apa yang sedang kudengar. Aku menyebut How Deep Is Your Love dari Bee Gees, dan matamu langsung menyala.
“Kamu suka lagu itu juga?” tanyamu.
Aku mengangguk, sedikit terkejut. “Lagu lama sih. Tapi nadanya… dalam.”
“Kayak liriknya,” katamu sambil senyum, “’cause we’re living in the world of fools.”
Sejak saat itu, obrolan kita mengalir lebih lancar. Lagu-lagu lawas jadi jembatan aneh yang menghubungkan dua dunia yang tadinya hanya berdekatan, tapi tak pernah bersentuhan. Sesekali kamu memberikan rekomendasi lagu yang baru saja kamu dengan, begitupun denganku.
Aku tidak sadar kapan mulai merasa nyaman. Tapi mungkin itu saat kamu menawariku tahu goreng, dengan senyum puas karena tahu adalah makanan favoritmu, peringkat satu dalam hidupmu, katamu.
“Coba ini. Kamu suka tahu, kan? Ini warung sebelah, rasanya beda.”
“Eh, serius? Ini tahu favoritku, peringkat satu dalam hidupku…”
“Jadi aku cuma mau ikutan favoritin juga, biar kamu nggak sendiri.”
“Kamu ini aneh, tapi… aku suka.”
Atau mungkin saat kita makan malam bersama di penyetan, berbagi kulit ayam karena kamu tidak menyukainya, dan cerita tentang masa kecil yang mirip tapi tidak sama. Atau saat kamu bilang kamu suka duduk di belakang motor karena bisa lihat bintang, dan akhirnya kita keliling kota malam-malam hanya untuk melihat lampu jalan dan angin dingin yang menggelitik telinga.
Di antara semua itu, kamu tetap kamu yang baik, sabar, pengertian, yang tahu caranya mendengar tanpa memotong, yang tahu kapan harus bicara dan kapan hanya duduk diam. Aku mulai merasa bahwa bersamamu, dunia jadi lebih ringan.
Tapi kita terlalu pandai berpura-pura. Terlalu hati-hati menjaga jarak, takut kalau satu langkah maju akan menghancurkan keseimbangan yang susah payah kita bangun. Jadi kedekatan kita hanya sampai di titik itu. Kita saling menatap sedikit lebih lama, tapi tidak pernah bicara lebih dalam.
Kita berjalan beriringan, tapi tak pernah benar-benar menggenggam.
Kita berteman dekat. Sudah banyak hal yang kita bagi tentang keluarga, diri, dan bahkan hal-hal yang sebelumnya tak pernah bisa aku ceritakan ke siapa pun, entah mengapa justru bisa kuungkapkan padamu.
Tapi tetap saja, ada batas yang tak pernah kita lewati. Ada ruang yang tak pernah kita masuki.
Aku tidak pernah tahu apakah kamu sadar akan garis itu, atau kamu juga sengaja berdiri tepat di baliknya. Kadang rasanya aku hanya berdiri di depan pintu, menunggu kamu membuka dari dalam, tapi kamu bahkan tidak mendekat.
”Teh manis itu enak, tapi nggak bisa bikin melek. Kopi pahit bikin semangat, tapi nyakitin lidah,” kataku memecah keheningan.
“Itu kayak perbedaan orang yang gampang jatuh cinta sama orang yang realistis.”
Aku mengangguk. “Yang satu cepat senang, yang satu sering overthinking.”
“Jadi kita ini teh manis dan kopi pahit?”
Aku tertawa. “Nggak. Kita ini teh basi dan kopi dingin. Telat sadar, tapi masih bisa diminum.”
***
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikan hal-hal kecil tentangmu. Bagaimana kamu selalu nunggu minuman pesananmu baru mulai makan, bagaimana kamu selalu bawa tisu di tas tapi nggak pernah kamu pakai sendiri, bagaimana kamu lebih suka duduk membelakangi pintu karena penakut.
Kita sering ketemu tanpa janjian, tapi selalu di tempat yang sama. Kadang kamu duduk duluan, kadang aku. Tapi ujung-ujungnya kita di meja yang itu-itu juga, yang catnya mulai mengelupas dan ada bekas goresan nama entah siapa.
Kamu sibuk dengan buku, aku sok-sokan buka laptop padahal nggak benar-benar ngerjain apa-apa. Tapi ada kenyamanan yang tumbuh dari keberadaan kita di ruang yang sama. Sesekali kamu ngelirik aku, aku pura-pura nggak lihat. Kadang aku sengaja batuk kecil, cuma biar kamu sadar aku masih di sana.








Saat ini belum ada komentar