Cerpen: Lintas
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 29 Sep 2025
- visibility 797
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Mungkin memang tidak ada yang perlu dikatakan.
Mungkin memang begini cara kita berakhir. Bukan dengan kata-kata besar, bukan dengan air mata. Tapi hanya dengan duduk bersama, membiarkan waktu berjalan, sampai akhirnya kita berdiri dan melangkah pergi ke arah yang berbeda.
Aku ingin mengingat momen ini bukan sebagai perpisahan yang menyakitkan, tapi sebagai sesuatu yang pernah ada.
Kita tidak selalu harus menghabiskan sesuatu sampai tuntas. Kadang, membiarkannya berlalu begitu saja adalah cara terbaik untuk menyelesaikannya.
Suatu hari, kita lulus. Begitu saja.
Tanpa perayaan besar, tanpa euforia berlebihan. Hanya kita berdua, duduk di burjo biasa, masing-masing dengan segelas kopi dan sepiring camilan yang entah sudah berapa kali kita pesan sebelumnya.
“Jadi, kamu udah ada rencana?” tanyaku.
Kamu mengangguk. “Kayaknya mau kerja dulu, ngumpulin uang, mungkin nanti ambil beasiswa. Kamu?”
Aku tersenyum kecil. “Sama. Mau kerja dulu.”
Kita diam sebentar. Menyeduh kopi masing-masing. Aku tahu kita sama-sama menyadari sesuatu.
Kita akan pergi. Masing-masing.
Dan seperti garis-garis yang bersinggungan tanpa pernah berpotongan, akhirnya kita berjalan ke arah yang berbeda.
Aku ingin bilang sesuatu. Tapi aku tidak melakukannya.
Kamu juga tidak.
Kita hanya tersenyum. Seolah semuanya baik-baik saja. Seolah tak ada yang perlu diucapkan.
Dan mungkin, memang begitu adanya.
***
Tahun-tahun berlalu seperti embusan angin yang tak terasa. Tahu-tahu, kita sudah berada di tempat yang berbeda, menjalani hidup masing-masing.
Aku tak pernah lagi melihatmu di kota itu, tak lagi menemukan bayanganmu di sudut ruangan dengan gelas es teh yang tak pernah benar-benar kau minum. Aku pun jarang ke sana sekarang. Tempat itu masih ada, tapi rasanya berbeda.
Kadang-kadang, aku bertanya-tanya bagaimana kabarmu. Apakah kamu masih mengaduk teh sampai dingin? Apakah kamu akhirnya menyukai kopi tanpa gula?
Aku ingin mengirim pesan, sekadar menanyakan bagaimana hidup memperlakukanmu. Tapi jemariku selalu berhenti di tengah jalan, seperti ada garis tak kasatmata yang membatasi. Bukan karena aku tidak ingin, tapi mungkin karena beberapa hal memang lebih baik dibiarkan tetap seperti ini, tidak selesai, tapi juga tidak perlu dilanjutkan.
Suatu kali, aku melihat seseorang yang sekilas mirip denganmu di tengah keramaian. Langkahku refleks melambat, hatiku berdebar tanpa alasan yang jelas. Tapi saat orang itu menoleh, aku sadar itu bukan kamu. Ada sedikit perasaan aneh yang tidak bisa kujelaskan, campuran antara lega dan sedikit kecewa.
Mungkin, di suatu tempat, kamu juga pernah tanpa sadar mencari wajahku di antara kerumunan. Atau mungkin tidak.
Aku tidak tahu apakah takdir memberi kita kesempatan kedua, atau hanya memaksa kita untuk belajar melepaskan dengan cara yang paling diam-diam. Tapi kalau suatu hari semesta iseng mempertemukan kita lagi, aku harap aku cukup berani untuk bilang: aku pernah, dan mungkin masih, menyimpan kamu di tempat yang lembut dalam ingatanku.
“If love is real, then I’ll see you again. Maybe not in months or years, but at some point we’ll connect again, and next time we’ll do it right.”








Saat ini belum ada komentar