Cerpen: Lintas
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 29 Sep 2025
- visibility 796
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Pernah suatu malam, hujan turun deras. Listrik sempat padam, hanya suara hujan dan detak jantung yang bisa kudengar jelas. Kamu panik. Dalam gelap, aku merasakan tanganmu menggenggam lengan bajuku erat-erat.
“Kamu di situ, kan?” tanyamu pelan, nyaris berbisik, tapi terasa sangat dekat.
Aku mengangguk, meski kamu tak bisa melihatnya. “Iya,” jawabku akhirnya. “Aku di sini.”
Kami terdiam. Dalam kegelapan dan suara hujan, keheningan itu tidak terasa canggung, justru terasa penuh. Ada sesuatu di udara, sesuatu yang nyaris mengungkapkan hal yang selama ini tak pernah kami bicarakan.
Tapi aku tetap diam. Begitu pun kamu.
Malam itu berlalu seperti hujan yang akhirnya reda. Seperti listrik yang menyala kembali, membawa terang dan kenyataan yang biasa. Tak ada yang berubah, tapi juga tidak sama.
Setelah itu, kita mulai saling bawa titipan kecil. Kamu bawa susu kotak buatku, aku bawa roti sobek kesukaanmu.
Kita bicara banyak. Kurasa saling mengerti, aku dan kamu. Tak banyak bisa kutemui orang sepertimu. Aku nyaman berada di dekatmu.
“Tiap aku lihat kamu, aku jadi inget wifi di kosan,” kataku suatu sore.
Kamu menatapku, bingung. “Kenapa?”
“Karena aku nggak bisa nggak nyari.”
Kamu tertawa kecil, lalu memukul lenganku pelan. “Garing.”
Tapi aku lihat kamu tersenyum. Dan itu cukup.
Aku menatap gelas kopiku yang tinggal setengah, sementara kamu sibuk berkutat dengan ponselmu. Kita sudah duduk di sini cukup lama, tapi tidak ada yang benar-benar bicara.
***
Waktu memang tidak selalu memberi aba-aba saat memutar halamannya. Tiba-tiba saja, apa yang dulu terasa dekat berubah jadi kenangan yang tak bisa disentuh. Percakapan jadi jarang, tawa tak lagi sering mampir, dan keberadaan kita yang dulu begitu wajar kini terasa seperti cerita dari babak lain.
Mungkin inilah fase berikutnya. Saat semuanya mulai bergeser pelan-pelan, seperti matahari yang tak lagi terasa hangat saat sore menjelang. Bukan karena cintanya hilang, tapi karena waktunya memang sudah hampir usai.
Dulu kita bicara soal lagu, tahu goreng, dan bintang malam. Sekarang kita bicara soal rencana setelah lulus, soal tempat tinggal baru, dan peluang kerja di kota yang tak sama.
Tapi sebelum itu benar-benar terjadi, sebelum semuanya resmi berjarak, kita masih duduk berhadapan di meja yang sama. Mencoba menikmati sisa waktu, seolah diam bisa memperlambat laju perubahan.
Suasana ini aneh. Bukan sunyi yang canggung, tapi juga bukan tenang yang nyaman. Rasanya seperti jeda sebelum sesuatu berakhir. Seperti adegan di film ketika dua tokoh utama duduk berdampingan, sama-sama tahu bahwa mereka berada di titik terakhir sebelum kisah mereka selesai.
Aku ingin bicara. Ingin mengatakan sesuatu yang bisa membuat momen ini lebih bermakna, sesuatu yang mungkin bisa mengubah arah. Tapi otakku kosong, seperti lembaran buku yang sudah sampai di halaman terakhir dan tidak ada lagi cerita yang bisa dituliskan.
Aku melirik piring di antara kita. Ada sisa nasi ayam bali yang sudah tidak menarik lagi setelah terlalu lama dibiarkan. Aku teringat bagaimana biasanya kamu akan mengulurkan piring ke arahku, membiarkanku mengambil suapan terakhir tanpa bertanya. Tapi kali ini, kamu tidak melakukannya.








Saat ini belum ada komentar