Secangkir Kopi, Semangkuk Mi, dan Panggilan Tak Terduga dari Masa Lalu
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Jum, 27 Jun 2025
- visibility 502
- comment 0 komentar

Angkringan sederhana ini selalu punya cara untuk menarik kembali ke masa lalu. Sambil menyeruput kopi hitam yang pahitnya pas dan menikmati hangatnya mi instan berkuah pedas, pikiranku melayang. Momen itu, yang kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari diriku, kembali hadir.
Titik Balik di Maret 2019
Jogja, Maret 2019. Suara dering ponsel memecah konsentrasiku saat sedang antre di restoran ternama. Nomor asing, tapi ternyata dari salah satu guru SMAN 2 Kebumen.
Obrolan kami mengalir tentang Gaspala, ekstrakurikuler pecinta alam sekolah yang sudah lama tak ku sentuh sejak 2015.
Masalahnya cukup serius: Gaspala sedang kosong pembina. Dan yang lebih genting, mereka akan menggelar Diklat atau pelantikan pengurus baru, tapi kegiatan sepenting itu tak bisa berjalan tanpa seorang pembina.
“Nanti saya bicarakan dengan teman-teman alumni dulu,” jawabku, mencoba mencari solusi ketika sang guru menawarkan agar alumni ada yang bersedia mengisi kekosongan itu, meski hanya “sementara.”
Malamnya, setibanya di kos, aku segera melemparkan isu ini ke grup WhatsApp alumni Gaspala.
Responsnya? Mayoritas “angkat tangan” alias tidak bisa atau belum bisa, dengan berbagai alasan masing-masing. Entah dorongan apa yang membuatku, pada saat itu, berseloroh, “Sebenarnya saya mau saja mengisi sementara pembina Gaspala.”
Sontak, grup itu langsung riuh dengan balasan bersahutan: “Nah, cocok!”, “Setuju!”, dan seruan dukungan lainnya.
Tak butuh waktu lama, esok harinya sekolah menghubungiku. Kepala SMAN 2 Kebumen ingin mewawancarai langsung terkait kekosongan pembina ini. Mau tak mau, aku pun pulang ke Kebumen.
Langkah Pertama sebagai Pembina
Perjumpaan pertamaku dengan mereka, para anggota Gaspala, terjadi menjelang akhir masa kepengurusan angkatan 27 “Semesta,” periode 2018/2019.
Saat itu aku langsung dihadapkan pada tantangan besar: Diklat Pengurus, kegiatan pertamaku sebagai pembina. Ada banyak hal yang perlu diperbaiki dari pelaksanaan Diklat ini, dan tanpa kusadari, momen itulah yang akan secara perlahan mengubah diriku, Gaspala, dan seluruh keluarga besarnya.
Harapan untuk Estafet Selanjutnya
Malam ini, menjelang Diklat Gaspala kepengurusan 33 atau periode 2024/2025 dimulai, aku bisa bernapas lega. Sepertinya, akhir pekan ini tidak ada agenda liputan ke lapangan yang seringkali menyita waktuku belakangan ini.
Ini berarti aku bisa “totalitas” mengawasi kegiatan dan anak-anak. Mereka, angkatan 33, yang akan meneruskan estafet kepengurusan Gaspala kepada angkatan 34, periode 2025/2026.
Meski durasi Diklat mereka hanya dua hari, Sabtu dan Minggu, setidaknya mereka masih bisa menyelenggarakan kegiatan penting ini. Tentu, ini jauh berbeda dengan zaman kami dulu, yang bisa menghabiskan empat hari tiga malam menyusuri Karangsambung hingga Karanggayam.
Rasanya, begitu banyak kisah, kenangan, dan memori yang masih tersimpan rapi di kepalaku tentang semua kegiatan bersama Gaspala. Pahit manis, suka duka, tawa, dan air mata saling mengisi, membentuk mosaik perjalanan yang tak terlupakan.
Apapun itu, aku tetap menganggap semua pengalaman ini sebagai warna kehidupan yang membuatku menjadi seperti sekarang.
Melihat mereka kini, generasi penerus Gaspala, membawa ingatan kembali ke masa-masa di mana aku juga pernah berada di posisi mereka. Sebuah kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Terimakasih untuk enam tahun yang penuh warna ini. Semoga dan semoga, hal-hal baik selalu mengiringi kalian. Setelah ini, kalau datang waktunya, janji ingat aku terus di hati kalian.









