Cerita Pendek: Rekayasa Fantasi
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 19 Nov 2023
- visibility 3.419
- comment 0 komentar

Akhirnya, seturut dengan taktiknya, Gita lantas memampang raut heran, seolah tak percaya. Ia lalu membuka ponselnya dan memperlihatkan obrolan imajinatifnya kepada Gio, tepat pada obrolan imajinatifnya semalam. “Terus, apa maksud dari pesan-pesan Kakak ini kepadaku?”
Tak pelak, Gio terkejut, seperti tak habis pikir. “Ini bukan pesan dariku. Ini bukan nomor kontak Whatsapp-ku.”
Dengan lihai, Gita memajang raut kalang kabut. “Apa benar pesan-pesan ini bukan dari Kakak?”
Gio mengangguk tegas.
Gita pun menampakkan ekspresi kecele, lalu bertanya seakan-akan bingung, “Lalu, dari siapa?”
Tentu Gio tak tahu. “Entahlah.”
“Kalau begitu, maafkan aku, Kak,” ucap Gita, sembari memampang sikap seolah-olah malu dan menyesal.
Gio lantas melayangkan senyuman tenang. “Tidak apa-apa. Kalaupun kau mau menganggap kalau akulah yang mengirim pesan-pesan itu, aku sama sekali tak keberatan. Aku malah senang juga.”
“Maksud Kakak?” sidik Gita, dengan raut penasaran yang alami.
“Sebenarnya, selama ini, aku pun menyukaimu,” terang Gio, dengan mimik wajah yang menampakkan kesungguhan.
Seketika, Gita merasa terjatuh ke alam surga. “Kakak serius?”
Gio mengangguk. “Ya. Sejak lama, aku sudah jatuh hari kepadamu.”
***
Dengan perasaan yang lega, Gita pun tersenyum lepas. “Ah, kenapa Kakak tidak bilang dari dahulu? Kakak kan laki-laki, jadi Kakak yang harusnya memulai. Dasar pengecut!” tukasnya, kesal, lantas menepak meja.
Gio pun tertawa lepas menyaksikan kegemasan Gita. “Ah, kamu saja yang cuek. Kau pasti pernah mendapatkan pesan pujian dan puisi dari nomor Whatsapp yang tidak engkau ketahui, kan? Pesan itu dari aku. Tetapi kau malah tak merespons.”
Lagi-lagi, Gita menepak meja. “Mana kutahu kalau pesan itu dari Kakak? Ah, dasar lelaki tak bernyali!”
Gio kembali tertawa riang. Gita lantas tersenyum simpul. Hingga akhirnya, selama sekian detik, mereka berpandangan saja dengan tatapan yang penuh cinta.
Sesaat kemudian, Gio mengambil ponsel Gita dan melihat-lihat obrolan imajinatif karangan sang perempuan yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. “Wah, obrolanmu dengan pengagum rahasiamu ini, ternyata sangat panjang dan cukup intim juga. Aku yakin, dia pasti kecewa berat kalau tahu bahwa kau telah menjadi milikku.”
“Aku tak peduli. Aku sukanya sama Kakak,” tanggap Gita, lantas tergelak, tanpa kehendak sedikit pun untuk membongkar kedoknya.
“Kalau begitu, anggaplah kalau aku adalah lelaki pengirim pesan-pesan ini, dan kita akan mewujudkan obrolan ini dalam kenyataan kita. Bagaimana?” tawar Gio, kemudian menggoda dengan mengedut-ngedutkan alisnya.
Gita lekas mengangguk dengan wajah semringah. “Aku setuju saja,” tuturnya, dengan kesediaan sepenuh hati.***
Ramli Lahaping. Penulis cerpen kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Facebook (Ramli Lahaping).







Saat ini belum ada komentar