Cerita Pendek: Rekayasa Fantasi
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 19 Nov 2023
- visibility 3.420
- comment 0 komentar

Akhirnya, demi membuat dirinya merasa tetap terhubung dengan Gio, ia pun mulai mewujudkan fantasinya dengan berkirim pesan dengan dirinya sendiri menggunakan dua ponselnya, seolah-olah ia sedang berkirim pesan dengan Gio. Ia melakukannya secara rutin belakangan waktu, hampir setiap malam, sampai percakapan imajinatifnya itu mengalur dari saat masa perkenalan, pendekatan, hingga keakraban kedua tokoh imajinasinya yang merupakan pencitraannya atas dirinya dengan Gio.
Sebab kegilaannya, Gita pun lebih memilih untuk larut ke dalam fantasi imajinasinya bersama Gio ketimbang membuka kemungkinan untuk menjalin hubungan yang nyata dengan lelaki lain. Karena itu, ia tak berkehendak meladeni sejumlah kiriman pesan dari beberapa nomor kontak Whatsapp yang belum tersimpan di ponselnya, yang mengisyaratkan kehendak dari beberapa lelaki untuk mengenalnya dan menjalin hubungan spesial dengannya.
Tetapi sesuai yang telah ia rencanakan, ia tak ingin juga sekadar bermain-main dengan imajinasinya untuk selama-lamanya. Ia berkeinginan pula merasakan cinta di dalam kenyataan. Sebab itu, setelah sekian lama larut di dalam fantasi, ia kemudian membulatkan tekad untuk mengungkapkan perasaannya kepada Gio. Setidaknya, dengan begitu, ia jadi tahu bagaimana sesungguhnya perasaan Gio terhadap dirinya, entah menyakitkan atau membahagiakan.
***
Hingga akhirnya, pagi ini, pada hari piketnya membersihkan sekretariat, di bulan kelima perkuliahannya, sekaligus bulan kelimanya mengenal Gio, Gita berangkat ke kampus dengan sebuah rencana besar. Beberapa lama kemudian, ia pun sampai dan seketika melihat Gio sedang duduk seorang diri di depan sekretariat organisasi mereka, seolah sang pujaan baru saja bangun setelah kembali bermalam di sekretariat dengan beberapa senior yang lain. Maka dengan perasaan yang deg-degan, ia pun mengayunkan langkahnya mendekati Gio yang seketika tampak melayangkan senyuman ke arahnya.
“Kak, aku mau mengobrolkan sesuatu,” ucap Gita, saat berdiri tepat di depan Gio.
“Soal apa?” tanya Gio, tampak penasaran.
“Soal yang penting,” jawab Gita, begitu saja, dengan ekspresi tegang.
Dahi Gio pun berkerut, seperti merasa aneh.
“Tetapi kukira, kita sebaiknya mengobrolkannya di gazebo,” saran Gita, demi menghindari pendengaran orang-orang, juga demi kekhidmatan kata hatinya.
Gio mengangguk-angguk dan turut saja.
Sesaat berselang, setelah mereka duduk berhadapan di sebuah gazebo, dengan seketika, Gita berucap lugas, “Aku ingin jujur, kalau aku pun mencintai Kakak.”
Sontak saja, Gio jadi gelagapan. “Maksudmu, apa, Dik?”
Gita lantas bertutur segan, “Maksudku, sudah saatnya kita berhenti main kucing-kucingan. Sudah waktunya kita menyatakan cinta kita dan menunjukkan hubungan kita kepada orang-orang. Aku merasa jenuh juga kalau kita hanya begitu intim di layar ponsel, tetapi tampak biasa saja di dunia nyata.”
Gio tampak makin kelimpungan. “Aku tak mengerti maksudmu.”







Saat ini belum ada komentar