Belajar Guyub di Wonocolo
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 31 Jul 2022
- visibility 3.397
- comment 0 komentar

Warga Dukuh Wonocolo, Prembun saat kenduren. (Foto:. Sigit Tri Prabowo)
Perangkat desa Prembun yang juga peminat sejarah budaya, Fajar Ellyas mengungkapkan adanya kisah lisan yang menjadi dasar ‘terbelah’nya Dusun Wonocolo. Daerah yang semula merupakan hutan (wono) ini diubah menjadi pemukiman oleh seorang bangsawan dari Kraton Solo sehingga disebut Wonosolo dan kemudian berubah menjadi Wonocolo. Sementara yang sisi Selatan tokohnya bangsawan dari Yogyakarta sehingga sempat muncul istilah Wonoyogya meski saat ini nama itu sudah banyak dilupakan.
Baca Juga: Nikmatnya Menu Ndeso di “Kopi Kebon” Prembun
Pengamat sejarah dari Purworejo, Agung Pranoto sempat mengungkapkan adanya desa-desa di era Mataram yang memiliki patron politik beragam sebagai akibat pecahnya Mataram lewat Perjanjian Giyanti. Ada kepala wilayah (desa, dusun) yang menyatakan bagian dari Kraton Surakarta ada juga yang berorientasi ke Yogyakarta. Akibatnya di daerah Bagelen Selatan (Purworejo dan Kebumen) banyak desa yang secara geografis bersebelahan namun secara politis berseberangan. Berdasar penjelasan ini sangat mungkin Wonocolo juga terbelah sebagai akibat dari Perjanjian Giyanti.
Bahwa keterbelahan itu secara simbolik diturunkan hingga sekarang namun dibingkai dalam kenduri bergantian tampaknya merupakan cara leluhur Wonocolo untuk memelihara kerekatan sosial warganya. Ada pesan tersirat bahwa perbedaan dan arus politik janganlah memecah Wonocolo.
***
Dalam perjalanan sejarah, Dusun Wonocolo memang kerap diterjang badai sosial maupun politik. Malangnya badai ini justru bersumber pada kentalnya aspek budaya dan spiritual Jawa dalam hidup sehari-hari.







Saat ini belum ada komentar