Belajar Guyub di Wonocolo
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 31 Jul 2022
- visibility 3.398
- comment 0 komentar

Warga Dukuh Wonocolo, Prembun saat kenduren. (Foto:. Sigit Tri Prabowo)
Peminat sejarah Teguh Hindarto mencatat bahwa di masa kolonial tercatat dua kasus besar terjadi di sini. Dua tokoh spiritual lokal, Joyosuwito dan Ronodiwirjo diseret ke pengadilan, masing-masing di tahun 1939 dan 1940. Tuduhannya sama, yaitu melakukan gerakan yang merongrong sistem pemerintah Kolonial. Gerakan yang diberi label Ratu Adil atau Mesianis oleh penjajah.
Di era kemerdekaan, kemelut politik 1965 juga berimbas ke wilayah itu, khususnya terhadap para pelaku seni budaya. Bisa jadi hal ini yang meredupkan berbagai bentuk seni dan budaya Wonocolo, selain tingginya minat generasi muda meninggalkan kampungnya.
“Dulu Wonocolo punya banyak kelompok seni, mulai kethoprak, wayang orang sampai karawitan. Semua pelakunya adalah warga Wonocolo. Saat ini sudah sangat sedikit warga kami yang masih mendalami seni,” kata Mbah Sis.
Bagaimanapun, setiap awal bulan Sura, warga Wonocolo masih memelihara harta tersisa warisan leluhur: nilai kerukunan, keguyuban, kerelaan menolong kepada sesama, siapapun mereka, apapun pilihan politiknya. ***
Sigit Tri Prabowo, Peminat Budaya, tinggal di Prembun, Kebumen







Saat ini belum ada komentar