Breaking News
light_mode
Beranda » Entertainment » Cerita Pendek: Koh Tsun

Cerita Pendek: Koh Tsun

  • account_circle Kebumen Update
  • calendar_month Ming, 15 Jan 2023
  • visibility 2.806
  • comment 0 komentar
Facebook Twitter Whatsapp Pinterest

Gemerap anak-anak berubah senyap. Warga Parangan mulai memakai sorjan dan mengalungkan sarungnya untuk menangkis hawa dingin yang menelusup sampai ke dalam tulang. Mereka duduk di serambi, berkumpul dengan keluarganya sembari memakan umbi rebus dan secangkir kopi panas.

Koh Tsun menghentikan sepeda motornya di sebelah warung kopi di perempatan. Sepeda motor itu ia bunyikan dengan dengungan panjang. Suaranya menandai bahwa ia telah datang di kampung itu. Anak-anak berlari mengejar lalu membaui asap yang keluar dari cerobong knalpotnya.

Koh Tsun mengemasi dagangannya kembali sebelum malam benar-benar larut. Ia sadar besok pagi orang-orang dukuh Parangan kembali bekerja. Memandikan ternak-ternak ke sungai lalu berangkat ke ladang.

***

Anak-anak juga harus cepat pulang. Mereka harus lebih awal berangkat ke sekolah. Karena untuk sampai ke sana mereka harus mengitari sendang di perbukitan Ramelo. Tak ada perahu di sendang itu, dan tak ada yang mau menyeberanginya. Sendang itu wingit tidak ada yang berani melanggar aturan dari para leluhur.

“Koh Tsun, kaki saya bengkak-bengkak?
“Dioles salep setiap pagi dan sore, ya,” Koh Tsun memberi obat lalu perempuan tua itu buru-buru itu pergi.
“Kepala saya sakit, Koh,” laki-laki paruh baya mengeluh sembari memegangi kepalanya yang masih terbungkus sarung.
“Pakai jamu,” Koh Tsun menyodorkan bungkusan serbuk berwarna coklat, dan tanpa bertanya laki-laki itu menerimanya.

Koh Tsun begitu meyakinkan. Ia selalu menjadi jalan keluar. Orang-orang mendecak kagum. Apapun penyakit Koh Tsun selalu menyediakan obatnya. Setelah menggunakan obat dari Koh Tsun tak lama kemudian mulai merasakan khasiatnya. Penyakit kulit yang diderita Mbah Madrasi tiba-tiba mengering dan akhirnya sembuh.

Warga dukuh Parangan telah hafal kapan Koh Tsun datang. Di setiap bulan sabit membentuk celeret merah, seperti mereka telah diberitahukan sebelumnya bahwa Koh Tsun akan tiba. Bukan hanya itu, mereka hafal pula jenis-jenis jamu yang dipunyai Koh Tsun. Kadangkala tanpa mengeluh beberapa orang langsung meminta salep, obat kapsul, dan yang lainnya.

Anak-anak mengidolakannya. Jika ditanya apa cita-citanya, mereka menjawab akan menjadi penjual jamu seperti Koh Tsun. Namun anehnya tak satu pun orang di Dukuh Parangan yang menjadi penjual jamu. Kebanyakan mereka hanya meneruskan berladang dari lahan para leluhurnya. Mereka berternak sapi dan kambing lalu menggembalakannya di pinggir hutan. Setelah dewasa mereka dikawinkan dengan tetangga masing-masing. Tak satu pun yang seperti Koh Tsun.

Walaupun orang-orang Dukuh Parangan sangat mengenal Koh Tsun, namun sampai saat ini mereka tidak tahu asal-usul sebenarnya. Ada yang bilang ia tinggal di kota, orang kaya yang senang keliling desa. Namun ada juga yang bilang Koh Tsun tak punya rumah. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain.

Malam ini ia berada di satu dukuh dan malam berikutnya di dukuh yang lain. Tetapi pembicaraan selalu berakhir dan tak satu pun yang tahu persis siapa sebenarnya Koh Tsun.

“Koh Tsun rumahnya di mana, Bu?” tanya anak-anak saat dimandikan ibunya.
“Kok Tsun itu punya anak dan istri, Bu?” tanyanya kemudian di lain hari.
“Entahlah,” kata ibunya menggeleng.

Sejak anak-anak Dukuh Parangan masih kecil, sampai mereka menikah dan mempunyai anak, Kok Tsun sudah berada di dukuh itu. Ia sama sekali tak berubah. Pakaiannya, stelan dan rambutnya yang dilapisi minyak kemiri.

“Bagaimana jika Kok Tsun datang seminggu sekali ke sini,” tanya Mbah Madrasi.

Koh Tsun tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Matanya selalu terpejam jika ia tersenyum. Mata sipit itu hilang diapit kedua pipinya. Senyum itu tak memberi kesempatan kepada Mbah Madrasi untuk melanjutkan permohonannya.Koh Tsun tetap datang seperti sedia kala. Satu purnama, tidak kurang tidak lebih. Begitu seterusnya.

Terakhir kedatangannya, Koh Tsun menginap di rumah Dukuh Diharjo.

Koh Tsun telah dianggap sebagai keluarga sendiri. Ia sangat dicintai penduduk. Koh Tsun pergi sebelum pagi benar-benar sempurna. Orang-orang menatap kepergiannya dengan perasaan kehilangan. Anak-anak kecil berseragam berlari-lari di pematang. Mereka melambai-lambaikan tangannya dan menjerit tak karuan melihat kelebatan Koh Tsun di atas sepada motornya.

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News

Penulis

News & Inspiring

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perebutan 110 Kursi Terakhir: Seleksi PPPK Tahap II Kebumen

    Perebutan 110 Kursi Terakhir: Seleksi PPPK Tahap II Kebumen

    • calendar_month Sab, 17 Mei 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 1.040
    • 0Komentar

    BANTUL (KebumenUpdate.com) – Di tengah proses seleksi kompetensi PPPK tahap dua di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Bupati Kebumen Lilis Nuryani menyampaikan pesan penting bahwa kecerdasan intelektual saja tak cukup. Didampingi Sekda Edi Rianto dan Kepala BKPSDM Moh Amirudin, Bupati Lilis menekankan bahwa Pemkab Kebumen mencari calon pegawai yang tak hanya cakap, namun juga memiliki […]

  • Persak Kebumen

    Persak Kebumen Bawa Modal Kemenangan dari Purwokerto, Persibas Takluk 0-1

    • calendar_month Ming, 1 Feb 2026
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.936
    • 0Komentar

    PURWOKERTO (KebumenUpdate.com) – Persak Kebumen meraih kemenangan penting saat bertandang ke markas Persibas Banyumas pada leg pertama babak 8 Besar Liga 4 Jawa Tengah, Minggu 2 Februari 2026. Laskar Lawet menang tipis 0-1 dalam laga yang berlangsung ketat di Stadion Gelora Satria Purwokerto. Gol semata wayang Persak Kebumen dicetak oleh Erwin F pada menit ke-15. […]

  • Ahmad Luthfi

    Luthfi Dinobatkan sebagai Kepala Daerah Inspiratif

    • calendar_month Sab, 19 Jul 2025
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 1.117
    • 0Komentar

    “Kita harus menjadikan masyarakat sebagai mitra. Dengar kebutuhan mereka, pahami arahnya, dan jalankan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya. Sinergi Program Pusat hingga Desa Jadi Kekuatan Jateng Luthfi menjelaskan bahwa kekuatan utama Jawa Tengah terletak pada kemampuan mengintegrasikan program dari tingkat nasional hingga desa. Ia menyebut model integrasi ini sebagai “brand karakter kebersamaan.” “Kami menarik Asta […]

  • Pantai Menganti

    Tanah Longsor, Pantai Menganti Tutup Sementara

    • calendar_month Ming, 6 Nov 2022
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 3.492
    • 0Komentar

    Kemudian potensi hujan lebat masih terjadi sehingga potensi longsor susulan masih cukup tinggi. Hal ini menjadi kepentingan bersama baik pengunjung maupun pengelola dan masyarakat. Tanah longsor juga sempat menutup ruas Jalan Desa Argopeni, Kecamatan Ayah. Material longsoran dengan ketinggian mencapai 4 meter dengan panjang 5 meter. Evekuasi material longsoran dilakukan menggunakan alat berat sehingga jalur […]

  • Solidaritas Tanpa Batas: PMI Kebumen Ulurkan Tangan Bantu Korban Tanah Bergerak di Brebes

    Solidaritas Tanpa Batas: PMI Kebumen Ulurkan Tangan Bantu Korban Tanah Bergerak di Brebes

    • calendar_month Sab, 3 Mei 2025
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 650
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Di tengah duka yang melanda Kabupaten Brebes akibat bencana tanah bergerak, semangat gotong royong dan kepedulian sesama kembali membuktikan kekuatannya. Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kebumen dengan sigap mengirimkan lima relawan terbaiknya untuk bahu-membahu meringankan beban para korban di Kecamatan Sirampong. Gelombang dukungan kemanusiaan ini dilepas langsung oleh Ketua PMI Kebumen, Sabar […]

  • Penumpang KA Meninggal di Kursi Tunggu Stasiun Prembun

    Penumpang KA Meninggal di Kursi Tunggu Stasiun Prembun

    • calendar_month Rab, 4 Mar 2020
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 21.035
    • 0Komentar

    PREMBUN (KebumenUpdate.com) – Seorang penumpang kereta api  berinisial Suyatman (33) warga Kemayoran, Jakarta Pusat meninggal dunia di Stasiun Kereta Api Prembun, Kebumen, Rabu 4 Maret 2020. Pria itu meninggal dunia saat akan pulang ke kampung halamannya di Desa Sitibentar, Kecamatan Mirit untuk berobat. Korban diketahui meninggal dunia di kursi ruang tunggu Stasiun Prembun saat menunggu […]

expand_less