Cerita Pendek: Koh Tsun
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 15 Jan 2023
- visibility 2.639
- comment 0 komentar

Foto ilustrasi via Canva.com
Gemerap anak-anak berubah senyap. Warga Parangan mulai memakai sorjan dan mengalungkan sarungnya untuk menangkis hawa dingin yang menelusup sampai ke dalam tulang. Mereka duduk di serambi, berkumpul dengan keluarganya sembari memakan umbi rebus dan secangkir kopi panas.
Koh Tsun menghentikan sepeda motornya di sebelah warung kopi di perempatan. Sepeda motor itu ia bunyikan dengan dengungan panjang. Suaranya menandai bahwa ia telah datang di kampung itu. Anak-anak berlari mengejar lalu membaui asap yang keluar dari cerobong knalpotnya.
Koh Tsun mengemasi dagangannya kembali sebelum malam benar-benar larut. Ia sadar besok pagi orang-orang dukuh Parangan kembali bekerja. Memandikan ternak-ternak ke sungai lalu berangkat ke ladang.
***
Anak-anak juga harus cepat pulang. Mereka harus lebih awal berangkat ke sekolah. Karena untuk sampai ke sana mereka harus mengitari sendang di perbukitan Ramelo. Tak ada perahu di sendang itu, dan tak ada yang mau menyeberanginya. Sendang itu wingit tidak ada yang berani melanggar aturan dari para leluhur.
“Koh Tsun, kaki saya bengkak-bengkak?
“Dioles salep setiap pagi dan sore, ya,” Koh Tsun memberi obat lalu perempuan tua itu buru-buru itu pergi.
“Kepala saya sakit, Koh,” laki-laki paruh baya mengeluh sembari memegangi kepalanya yang masih terbungkus sarung.
“Pakai jamu,” Koh Tsun menyodorkan bungkusan serbuk berwarna coklat, dan tanpa bertanya laki-laki itu menerimanya.
Koh Tsun begitu meyakinkan. Ia selalu menjadi jalan keluar. Orang-orang mendecak kagum. Apapun penyakit Koh Tsun selalu menyediakan obatnya. Setelah menggunakan obat dari Koh Tsun tak lama kemudian mulai merasakan khasiatnya. Penyakit kulit yang diderita Mbah Madrasi tiba-tiba mengering dan akhirnya sembuh.
Warga dukuh Parangan telah hafal kapan Koh Tsun datang. Di setiap bulan sabit membentuk celeret merah, seperti mereka telah diberitahukan sebelumnya bahwa Koh Tsun akan tiba. Bukan hanya itu, mereka hafal pula jenis-jenis jamu yang dipunyai Koh Tsun. Kadangkala tanpa mengeluh beberapa orang langsung meminta salep, obat kapsul, dan yang lainnya.
Anak-anak mengidolakannya. Jika ditanya apa cita-citanya, mereka menjawab akan menjadi penjual jamu seperti Koh Tsun. Namun anehnya tak satu pun orang di Dukuh Parangan yang menjadi penjual jamu. Kebanyakan mereka hanya meneruskan berladang dari lahan para leluhurnya. Mereka berternak sapi dan kambing lalu menggembalakannya di pinggir hutan. Setelah dewasa mereka dikawinkan dengan tetangga masing-masing. Tak satu pun yang seperti Koh Tsun.
Walaupun orang-orang Dukuh Parangan sangat mengenal Koh Tsun, namun sampai saat ini mereka tidak tahu asal-usul sebenarnya. Ada yang bilang ia tinggal di kota, orang kaya yang senang keliling desa. Namun ada juga yang bilang Koh Tsun tak punya rumah. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Malam ini ia berada di satu dukuh dan malam berikutnya di dukuh yang lain. Tetapi pembicaraan selalu berakhir dan tak satu pun yang tahu persis siapa sebenarnya Koh Tsun.
“Koh Tsun rumahnya di mana, Bu?” tanya anak-anak saat dimandikan ibunya.
“Kok Tsun itu punya anak dan istri, Bu?” tanyanya kemudian di lain hari.
“Entahlah,” kata ibunya menggeleng.
Sejak anak-anak Dukuh Parangan masih kecil, sampai mereka menikah dan mempunyai anak, Kok Tsun sudah berada di dukuh itu. Ia sama sekali tak berubah. Pakaiannya, stelan dan rambutnya yang dilapisi minyak kemiri.
“Bagaimana jika Kok Tsun datang seminggu sekali ke sini,” tanya Mbah Madrasi.
Koh Tsun tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Matanya selalu terpejam jika ia tersenyum. Mata sipit itu hilang diapit kedua pipinya. Senyum itu tak memberi kesempatan kepada Mbah Madrasi untuk melanjutkan permohonannya.Koh Tsun tetap datang seperti sedia kala. Satu purnama, tidak kurang tidak lebih. Begitu seterusnya.
Terakhir kedatangannya, Koh Tsun menginap di rumah Dukuh Diharjo.
Koh Tsun telah dianggap sebagai keluarga sendiri. Ia sangat dicintai penduduk. Koh Tsun pergi sebelum pagi benar-benar sempurna. Orang-orang menatap kepergiannya dengan perasaan kehilangan. Anak-anak kecil berseragam berlari-lari di pematang. Mereka melambai-lambaikan tangannya dan menjerit tak karuan melihat kelebatan Koh Tsun di atas sepada motornya.







Saat ini belum ada komentar