Cerita Pendek: Koh Tsun
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 15 Jan 2023
- visibility 2.623
- comment 0 komentar

Foto ilustrasi via Canva.com
Cerita Pendek Ondo Supriyanto
ITU adalah sifatnya. Walaupun beraneka pakaian bagus ia punya, Koh Tsun lebih suka memilih corak yang itu-itu saja. Ia sering memakai celana bahan dengan setelan hem putih kecoklatan yang kerahnya sudah tambalan. Beberapa sisi celananya ia biarkan menganga. Kalau diingatkan ia hanya tersenyum dan buru-buru mengalihkan pembicaraan.
Koh Tsun selalu membela diri jika ditanya kenapa ia selalu mengenakan pakaian yang kumal itu. Ia lalu bercerita, perbatasan Dukuh Parangan rawan sekali. Di sekitar jembatan gantung yang menghubungkan dengan Dukuh Losari banyak sekali begal berkeliaran.
Mereka sering merampok orang-orang yang melintas.Siang hari sekalipun mereka berani membegal para pedagang yang baru pulang dari kota. Koh Tsun mengaku, dengan model pakaian lusuh seperti itu dirinya dapat terhindar dari perampokan.
Warga Dusun Parangan mengenal Koh Tsun sebagai seorang penjual jamu. Di atas sepeda motor merahnya itu ia membawa jamu-jamunya berkeliling desa ke desa. Koh Tsun mengetahui orang-orang pedukuhan hanya punya waktu senggang pada malam hari.
Pagi hari mereka harus ke ladang. Sedangkan sore harinya digunakan mencari rumput untuk ternak-ternaknya. Rumah mereka dipenuhi kambing dan sapi. Ada pula yang memelihara babi, namun itu hanya sesekali dapat ditemui.
***
Waktu yang tepat untuk singgah di dukuh itu ketika senja mengeluarkan siluet merahnya. Saat bukit-bukit yang mengelilingi pedukuhan berubah menjadi bayang-bayang hitam. Saat kelelawar mulai keluar dan kepak sayapnya terdengar jelas di gendang telinga.
Angin perbukitan mulai berdesir membawa hawa dingin turun dari pucuk ranting menyisir rambut Koh Tsun yang berlapis minyak kemiri.
Setelah memasukkan ternak, mereka menenangkan ayam yang mengeram di pojok kandang. Ayam-ayam itu terganggu oleh tingkah sapi yang tak ingin dimasukkan.







Saat ini belum ada komentar