Sadang Geo Festival  & Godaan Durian Kedunggong

  • Whatsapp
Durian bawor. via citraindonesia.com

DALAM sebuah acara yang diselenggarakan oleh pemerintah acap kali diramaikan dengan beragam stan produk unggulan daerah. Tidak terkecuali dengan event Sadang Geo Festival yang dihelat di Lapangan Anggawangsa Desa Sadangkulon, Kecamatan Sadang selama dua hari, Sabtu dan Minggu, 14-15 Desember 2019.

Sedikitnya tujuh stan yang menampilkan potensi unggulan tujuh desa di Kecamatan Sadang, yakni Desa Pucangan, Sadangwetan, Sadangkulon, Wonosari, Kedunggong, Seboro dan Cangkring. Ada juga penampilan kesenian tradisional Sadang, seperti kuda lumping, lengger, warukan hingga jaringkes.

Berita Lainnya

Sebagai sebuah hiburan, event yang mengundang artis ibukota asli Prumpung  Yoda Idol ini cukup sukses menghibur orang-orang pedesaan. Tetapi untuk mempromosikan Geopark Nasional Karangsambung dan Karangbolong masih perlu dikaji kembali.

Bupati KH Yazid Mahfudz, Dandim 0709 Letkol Inf Zamril Philiang, Kapolres Kebumen AKBP Rudy Cahya Kurniawan, Kepala Disporawisata Kebumen Azam Fatoni, Ketua Harian Badan Pengelolan Geopark Nasional Karangsambung-Karangblong Ir H Djoenedi  Faturohman MSi.

Selain menonton berbagai hiburan termasuk penampilan “Bocah Ngapak” tanpa Ilham dan Haikal, anggota Forkopimda termasuk Dandim Letkol Zamril Philiang meninjau stan potensi daerah. Sebagai pencinta durian level dewa, tentu Dandim tergoda dengan buah beraroma menyengat itu. Karena acara formal, godaan itu sepertinya mampu beliau tahan.

***

Cerita  sebenarnya dimulai Minggu sore sekira pukul 16.00 WIB. Saat Letkol Zamril bersama sesepuh Sedulur Kebumen Sugeng Budiawan, Anggota Komisi C DPRD Kebumen Bambang Tri Saktiono dan Bambang Suhadi dari Banser dan calon pengganti Dandim 0709 Letkol Matondang hendak survey bedah di Desa Wonotirto, Kecamatan Karanggayam.

Selesai survey sekitar pukul 17.15 WIB, Letkol Zamril mungkin masih terbayang durian yang dipamerkan, sehingga memiliki ide berburu durian di Sadang. Meluncurlah mobil dinas Dandim Toyota Fortuner  dengan enam penumpang plus driver itu ke arah Kecamatan Sadang membelah persawahan dan  hutan pinus.

Sampailah mobil di lokasi acara Geo Festival. Tak ada apa-apa, kecuali sejumlah pekerja yang sedang membongkar tenda sisa acara. Bertanyalah kepada sejumlah warga apakah di desa itu ada durian? Semua warga menggeleng. Tidak ada durian siap santap. Tak pupus harapan,  rombongan tetap mencari durian ke tempat asalnya di Desa Kedunggong, sebuah desa di ujung utara Kebumen.

***

Hari sudah benar-benar gelap saat mobil masuk Desa Kedunggong. Suasana makin gelap karena jalan berada di antara rimbun pohon pinus milik Perhutani. Tak ada orang berada di pinggir jalan. Begitu juga jarang berpapasan dengan warga yang melintas.

Akhirnya mobil menuju rumah Kepala Desa Kedunggong  Yuwono. Yuwono adalah kolega Bambang Tri Saktiono di PDI Perjuangan. Sebelum menjabat kades, Yuwono pernah menjadi anggota DPRD Kebumen periode 2009-2014.

Mendapat tamu dadakan, Pak Kades tentu bingung. Bisa-bisanya sekelas Komandan Kodim malam-malam blusukan sampai Kedunggong. Dia semakin bingung saat kedatangan para tamu itu ternyata hendak mencari durian.

Akhirnya Pak Kades telepon sana-sini apakah warganya ada yang memiliki durian. Tetapi bahkan Pak Kades keluar ke rumah warganya langsung. Tapi upaya terakhir itu tetap nihil. Masih belum ada aroma durian di desa itu.

“Mungkin baru tiga mingguan lagi sudah ada yang panen ,” kata Pak Kades dengan nada nggak enak hati.

***

Saya yang hanya penderek saja merasa kecewa? Sudah terbayang legitnya durian seperti yang dipamerkan.  Merasa bahwa pameran produk unggulan itu semacam dagelan yang tentu tak lucu. Saya jadi teringat,  pameran potensi pertanian di satu kecamatan, hasil pertanian dan buah-buahan yang dipamerkan dibeli dari pasar. Entahlah, kenapa tradisi di era Presiden Suharto seperti ini masih belum dipelihara sampai saat ini.

Promosi yang baik itu wajib, tetapi harus didukung dengan penguatan destinasi dan masyarakat agar wisatawan berkunjung tidak kecele, kapok hingga trauma.  Karena promosi secara hiperealitas  hanyalah menyuguhkan fantasi dan realitas semu.

Pukul 19.00 WIB rombongan pamitan untuk kembali ke Kota Kebumen. Setelah sinyal ponsel stabil, orang nomor satu di jajaran Kodim 0709 Kebumen itu menelpon seseorang. Dia menyebutnya Pak Slamet, seorang petani durian di Kemranjen, Banyumas.  Ada sekitar 10 biji durian jenis bawor dia pesan untuk dikirim ke Kebumen malam ini. Suara di seberang  telepon menyanggupi dengan harga yang disepakati.

“Kita sampai di kota, semoga durian dari Kemranjen sudah sampa juga,” tandas Dandim  usai menutup ponsel. (Ondo)

Berita Terkait