Tradisi Krapyak Banyu, Wujud Syukur Warga Kebon Jatiagung Desa Jatinegara
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 30 Jan 2022
- visibility 2.155
- comment 0 komentar

Warga Dukuh Jatiagung, Desa Jatinegara menggelar tradisi Krapyak Banyu. (Foto: Kebumenkab.go.id)
SEMPOR (KebumenUpdate.com) – Warga di Dukuh Kebon Agung, Desa Jatinegara, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen memiliki tradisi tersendiri untuk menunjukkan bagaimana bersyukur saat musim tanam.
Tasyakuran yang dikenal dengan sebutan “Krapyak Banyu” ini merupakan bentuk mensyukuri melimpahnya sumber air yang ada pada musim tanam ini.
Seperti pada Kamis 27 Januari 2022. Segenap warga Dukuh Kebon Agung beserta keturunannya yang tersebar di berbagai wilayah menghadiri acara Krapyak Banyu. Kepala Desa Jatinegara Sunaryo beserta perangkatnya juga hadir dalam kegiatan budaya tersebut.
Baca Juga: Mengenal R Said Prawirosastro, Bupati Kebumen Pertama Era Republik
Website resmi Desa Jatinegara menyebutkan bahwa Krapyak Banyu merupakan tradisi turun temurun. Tradisi ini diadakan dua kali dalam setahun saat memasuki musim tanam.
Yakni pada hari Kamis terakhir pada bulan Jumadil Akhir dan Kamis terakhir di bulan Dzulhijjah. Oleh masyarakat hari itu dikenal dengan istilah Kamis Pugas. (lihat: kebumenkab.go.id)
Tradisi Krapyak di Desa Adikarso

Warga Dukuh Jatiagung, Desa Jatinegara menggelar tradisi Krapyak Banyu. (Foto: Kebumenkab.go.id)
Tradisi Krapyak juga dilaksanakan masyarakat Desa Adikarso, Kecamatan Kebumen. Setiap setiap dua tahun sekali tepatnya bulan Suro warga masyarakat Desa Adikarso khususnya warga Dukuh Gentan, Keputihan dan Ketraman melaksanakan tradisi Krapyak.
Mengutip website resmi Desa Adikarso, tradisi Krapyak di desa ini merupakan serangkaian kegiatan yang dimulai dengan ziarah kubur pada malam hari di makam Dukuh Gentan Ketraman dan siang harinya dilanjutkan dengan penggantian gethek di area makam.
Baca Juga: Ribuan Warga Berebut Ikan di Bendung Bojong
Bertepatan dengan Kamis, 26 Agustus 2021 Krapyak tersebut berlangsung di Makam Dukuh Gentan Ketraman. Masyarakat sekitar bekerja sama melakukan penggantian gethek di area makam, sebelum dilakukan penggantian gethek, masyarakat terlebih dahulu memotong kambing tiga ekor, membuat walimahan, dan kue khas ketan.
Masyarakat sekitar menyakini bahwa di area makam tepatnya di dalam gethek/pagar, ada leluhur yang membuka atau memprakarsai berdirinya Desa Adikarso. Yaitu Simbah Amonggati dan Simbah Amenggati yang konon kakak beradik dan simbah Wargantaka.
Penggantian gethek juga harus cermat dan tidak boleh ada anyaman yang salah susunannya, juga dilarang memakai bahan selain bambu untuk memakunya. (lihat: kebumenkab.go.id)







Saat ini belum ada komentar