Overthinking Tiap Malam? Kenali Tanda Kecemasan yang Tak Disadari Anak Muda
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 9 Mei 2025
- visibility 308
- comment 0 komentar

Image by Alfredo Hernandez Rios
SETIAP malam, sebelum tidur, pikiran berputar-putar. Mengingat percakapan yang sudah lewat, membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi, bahkan menyesali pilihan yang sudah diambil.
Kalau kamu sering begini, bisa jadi kamu sedang mengalami overthinking, dan ini bukan sekadar kebiasaan, tapi bisa jadi sinyal awal gangguan kecemasan.
Anak muda saat ini hidup dalam tekanan sosial yang luar biasa. Mulai dari media sosial yang terus membandingkan hidupmu dengan orang lain, hingga harapan keluarga dan lingkungan yang tak pernah selesai. Semua ini bisa memicu kecemasan tanpa kita sadari.
Menurut American Psychological Association, overthinking atau pemikiran yang berlebihan bisa menjadi bentuk umum dari kecemasan, terutama jika pikiran tersebut berputar terus tanpa solusi. Dalam jurnal Behaviour Research and Therapy (2013), disebutkan bahwa rumination—pikiran negatif berulang—berkaitan erat dengan meningkatnya gejala depresi dan kecemasan pada remaja dan dewasa muda.
Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Hulu Sungai Selatan pafihulusungaiselatankab.org menyebutkan bahwa beberapa tanda yang patut kamu waspadai antara lain:
- Sulit tidur karena pikiran tak berhenti bekerja.
- Sering merasa cemas atau khawatir tanpa alasan yang jelas.
- Suka memutar ulang kejadian dalam pikiran, mencari kesalahan diri sendiri.
- Menghindari mengambil keputusan karena takut salah.
Menghadapi ini tidak harus langsung ke terapi (meskipun itu sangat disarankan), kamu bisa mulai dari langkah kecil: menulis jurnal, meditasi, atau membatasi waktu bermain media sosial.
Namun, jika perasaan ini mulai mengganggu fungsi harianmu—seperti produktivitas kerja atau hubungan sosial—maka konsultasi ke profesional adalah langkah paling bijak.
Jangan biarkan overthinking mencuri waktu tidur dan ketenanganmu. Kenali, hadapi, dan sembuhkan.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi umum dan bukan pengganti diagnosis medis. Jika kamu merasa mengalami gangguan kecemasan atau gejala yang mengganggu aktivitas harian, segera konsultasikan ke psikolog atau psikiater.







Saat ini belum ada komentar