Edukasi dan Sosialisasi Keluarga Berencana: Pentingnya Kontrasepsi Mantap
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 26 Nov 2024
- visibility 912
- comment 0 komentar

Pentingnya kontrasepsi mantap. (Foto: Fabian Montano)
KONTRASEPSI mantap yang meliputi tubektomi pada wanita dan vasektomi pada pria, masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat Indonesia. Untuk itu penting edukasi berkelanjutan untuk mengubah stigma ini.
“Kontrasepsi mantap adalah salah satu cara paling efektif untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi keluarga. Namun, masih banyak orang yang belum memahami pentingnya metode ini,” jelas Dr dr H Ridwan Abdullah Putra Sp OG Subsp KFm CH seperti dilansir oleh website resmi IDI Baa https://idibaa.org.
Dr Riwan selain aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keluarga berencana dan penggunaan kontrasepsi mantap juga terlibat langsung dalam kampanye dan kegiatan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kontrasepsi mantap.
Baca Juga: Penyakit Reproduksi: Pencegahan dan Pentingnya Pemeriksaan Dini Bagi Perempuan
“Edukasi ke masyarakat tentang pentingnya kontrasepsi mantap harus terus dilakukan, baik melalui penyebaran informasi, kampanye, maupun kegiatan bakti sosial,” ujarnya.
Menurut Dr Ridwan, tubektomi dan vasektomi masih sering disalahpahami. Sebab kerap ada anggapan bahwa prosedur ini akan mengurangi gairah seksual, padahal kenyataannya tidak demikian.
Mengatasi Stigma Masyarakat Terkait Tubektomi dan Vasektomi
Mengatasi stigma yang terkait dengan tubektomi dan vasektomi merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Dr Ridwan dalam upayanya meningkatkan kesadaran masyarakat. Ia sering mengadakan seminar-seminar dan turun langsung ke daerah-daerah untuk memberikan sosialisasi.
“Saat saya menjadi anggota Global Fund di Karimun. Saya terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan informasi yang jelas mengenai MOW,” kenangnya.
Dalam pengalaman Dr Ridwan, banyak pasangan yang ragu untuk melakukan MOW karena kekhawatiran akan dampak negatifnya terhadap kehidupan seksual.
“Biasanya, keberatan datang dari suami yang menganggap jika MOW dilakukan, maka hasrat seksual istri akan berkurang. Padahal, hal ini tidak benar,” tegasnya.
Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan Ibu dan Anak, Pelatihan Audit Kematian Digelar di Kebumen
Ia menjelaskan bahwa MOW tidak mengakibatkan penurunan libido. “Tubektomi biasanya dilakukan pada usia pra-menopause, di mana memang secara alami, libido mulai menurun. Namun, ini bukan karena prosedur MOW itu sendiri,” jelasnya.
Dr Ridwan juga menekankan bahwa, meskipun ada pandangan yang menganggap MOW dilarang oleh agama, hal tersebut tidaklah benar.
“Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memperbolehkan prosedur ini, asalkan sesuai dengan syariat dan alasan medis yang jelas,” tambahnya.







Saat ini belum ada komentar