Begadang Bukan Prestasi: Dampak Jam Tidur Berantakan bagi Generasi Digital
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 10 Mei 2025
- visibility 538
- comment 0 komentar

Image by Pocstock
BANYAK anak muda merasa bangga karena bisa begadang demi kerja, belajar, atau sekadar scroll TikTok hingga dini hari. Tapi faktanya, kurang tidur bukan tanda produktif—justru bisa menjadi sumber banyak masalah kesehatan.
Menurut National Sleep Foundation, usia 18–25 tahun butuh setidaknya 7–9 jam tidur per malam. Sayangnya, banyak dari kita hanya tidur 4–5 jam, atau bahkan kurang. Akibatnya? Tubuh kelelahan, konsentrasi menurun, suasana hati mudah berubah, dan sistem imun jadi lemah.
Tak hanya itu, kebiasaan begadang juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, hingga gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Kualitas tidur buruk akan membuat hormon stres (kortisol) meningkat, yang memicu peradangan di tubuh.
Jam tidur berantakan juga bisa memengaruhi metabolisme tubuh. Tubuh jadi sulit mengatur nafsu makan, dan ini sering kali membuat kita ngemil makanan tinggi gula atau lemak di malam hari.
Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Kabupaten Pasaman pafikabpasaman.org memberikan tips agar jam tidur nggak lagi berantakan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
- Atur rutinitas tidur yang konsisten. Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari, termasuk akhir pekan.
- Jauhkan layar gadget satu jam sebelum tidur. Cahaya biru dari layar bisa menekan produksi melatonin, hormon yang membantu tidur.
- Ciptakan suasana kamar yang nyaman. Gelap, sejuk, dan tenang adalah kombinasi ideal untuk tidur nyenyak.
- Kurangi konsumsi kafein setelah jam 4 sore.
Ingat, tidur bukan kemewahan. Tidur adalah kebutuhan dasar. Jika kamu terus memaksakan diri dengan pola begadang, dampaknya mungkin tidak terasa sekarang, tapi lima atau sepuluh tahun ke depan, tubuh akan menagih harga yang mahal.
Sumber:
- National Sleep Foundation. “How Much Sleep Do You Really Need?”
- Mayo Clinic. “Sleep deprivation: Risks and treatment.”
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan saran medis profesional. Jika Anda mengalami gangguan tidur kronis, segera konsultasikan ke dokter atau ahli kesehatan tidur.







Saat ini belum ada komentar