Mengenal Heksa, Preman Budiman Asal Karanganyar
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 24 Feb 2021
- visibility 25.870
- comment 0 komentar

Heksa Heri Sukarno. (Foto: Yaz Mita)
Heksa yang panik dan ketakutan, hanya bermodalkan tekad lari sejauh-jauhnya dari bumi Jawa. Heksa meninggalkan Karanganyar menuju Kalimantan.
Menggelandang di Kalimantan Hingga Bekerja di BUMN
Dalam hidup, semuanya membutuhkan proses. Kalimantan sama sekali asing baginya. Tidak ada kerabat, tidak ada kenalan, dan tidak ada yang dituju. Heksa hanya ingin melarikan diri sejauh-jauhnya dari Kebumen karena tidak ingin mendekam di jeruji besi. Namun dia tahu, hidup harus memiliki tujuan, ingin apa dan bagaimana. Berbagai proses penyesuaian dia lakukan.
Heksa hanya berprinsip harus tetap berpikir positif. Karena nanti itulah yang akan terjadi dan akan diterima. Hal ini dia temukan sendiri dalam kehidupan. Sebagai contoh, saat ada polisi dan dia berpikir ketilang, maka itulah yang terjadi. Saat melewati jalan berlubang dan ia berpikir akan terperosok, maka itulah yang terjadi. Dari kejadian itu ia berkeyakinan bahwa apa yang dipikirkan itulah yang akan terjadi.
Anak Ayam; Sebuah Hidayah Tuhan
Tak terlalu sulit baginya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Kehidupan Heksa sebagai anak jalanan cukup melatihnya terbiasa bermental baja dan tidak cengeng. Di tengah kesulitan, Heksa merasa mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Tanpa sengaja Heksa melihat anak ayam yang baru beberapa hari menetas dibiarkan sendirian mencari makan oleh induknya.
Heksa terus berpikir dan menguatkan diri. Anak ayam saja bisa mencari makan mengais rezeki, apa iya manusia yang dilahirkan sempurna memiliki akal tidak bisa, renung Heksa.
Hari-hari yang berat terus dilaluinya dengan semangat berpikir positif. Hingga ia berkenalan dengan seorang teman yang membawanya bekerja di kantor BUMN di perbatasan Kalimantan-Malaysia.
Boyong Gadis Kalimantan Pulang ke Karanganyar
Bekerja sebagai mandor dengan gaji yang cukup mentereng, tidak membuat puas karena merasa kehilangan kebebasan. Heksa pun memilih berhenti dan memikirkan pekerjaan yang tidak mengikat. Kehidupan yang dijalaninya selama ini membuatnya terbiasa bebas dan tidak terikat waktu dan tenaga.







Saat ini belum ada komentar