Merbabu Jalur Suwanting: View-nya Amazing, Jalurnya Bikin Sinting
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 4 Jun 2022
- visibility 31.390
- comment 0 komentar

Mengobrol dengan pendaki lain saat berpapasan di jalur pendakian. (Foto: Hari)
Ketika kami sedang bersibuk ria, dikejutkan dengan datangnya seorang laki-laki yang menghampiri tenda kami. Dia langsung duduk dan mengobrol dengan santai serta mengaku kalau dia berasal dari jalur Selo, sedang mencari air, sandalnya hilang, tanpa penerangan.

Pos 3 atau area camp. (Foto: Hari)
Lalu diutarakan maksud dan tujuannya yaitu ingin meminjam senter milik kami, dan akan dikembalikan esok hari saat bertemu di puncak. Saya coba jelaskan ke orang asing ini bahwa senter milik kami akan digunakan untuk perjalanan summit, jadi tidak bisa dipinjamkan.
Baca juga: 37 Anggota Muda Gaspala Latihan Dasar Hidup di Alam Bebas
Lalu dia mengganti permintaannya dengan meminta rokok. Beruntung di rombongan kami tidak ada yang merokok, jadi bisa saya jawab dengan santai. Lalu berganti lagi dengan meminta kopi. Dan Sulkhan yang memang membawanya, memberikan kopinya kepada orang asing ini.
Malamnya kami isi dengan aktivitas menyantap bekal yang kami bawa: nasi bungkus dari basecamp. Ditambah dengan lauk berupa abon, srundeng, mi goreng, juga kacang atom pedas. Sulkhan masih menyempatkan diri untuk menggoreng sosis sebagai camilan.

Persiapan mendirikan tenda. (Foto: Hari)
Sementara Samsul terlihat masih tidak puas dengan kondisi tenda kami berenam.
Setelah diselidiki, ternyata dia menagih janji untuk dibuatkan atap tambahan dari flysheet dengan tujuan melindungi tenda jikalau terjadi hujan saat kami terlelap di malam hari.
Namun karena sudah capek, dan di luar terasa sangat dingin, maka permintaan Samsul tidak dikabulkan.
Sekitar pukul 21.00 WIB, masing-masing dari kami mulai istirahat alias tidur. Sebelum tidur, alarm sudah diset pukul 3.00 WIB dengan tujuan untuk persiapan summit attack.
Meskipun bangun di jam 3 pagi, namun kami memutuskan untuk summit/perjalanan ke puncak pada pukul 5.00 WIB atau selepas salat Subuh.

Perjalanan menuju Sabana 2. (Foto: Hari)
Kamis, 2 Juni 2022. Kami mulai summit pukul 4.50 WIB dengan membawa perlengkapan dan perbekalan standar secukupnya seperti senter, air minum, roti, buah, obat-obatan, dan jas hujan. Udara dingin ditambah kondisi tubuh yang masih kaku membuat kami harus berhenti setiap beberapa langkah untuk sekadar mengatur nafas.
Saya sendiri mulai merasakan gejala AMS (Acute Mountain Sickness). Ciri-cirinya pusing, mual, dan nafas pendek-pendek. Begitu juga dengan Samsul yang merasakan gejala serupa. Samsul yang sudah tidak tahan dengan kondisi yang dihadapinya, memutuskan berhenti di Sabana 1.







Saat ini belum ada komentar