Warung Perahu Bu Silah, Sejak 1978 Layani Mancing Mania di Waduk Sempor

  • Whatsapp
Bu Silah siap melayani pelanggan di warung perahu miliknya. (Foto: Sigit Asmodiwongso)
Bu Silah siap melayani pelanggan di warung perahu miliknya. (Foto: Sigit Asmodiwongso)

SELAIN fungsi irigasi dan pariwisata, Waduk Sempor juga menjadi wahana favorit bagi para pemancing. Setiap hari ratusan pemancing beraktivitas sepanjang tepian waduk, dari pagi hingga petang. Tak hanya dari Kebumen, banyak pula para pemancing dari luar kota seperti Jogja dan Solo.

Seorang pemilik warung di tepian waduk, Bu Silah (60), melihat kehadiran pemancing itu sebagai peluang bisnis. Berbeda dengan para pemilik warung lain yang memilih duduk diam menunggu pembeli, Bu Silah memutuskan melakukan strategi jemput bola. Dia mengubah perahu miliknya menjadi warung terapung untuk menjajakan dagangannya pada para mancing mania di sepanjang tepian waduk.

Berita Lainnya

Berjualan di Atas Perahu Sejak Tahun 1978 

Bersama suaminya, Pak Kusnan (65), Bu Silah berangkat dari dermaga jam 10.00 wib. Makan dan minuman yang dibawa cukup beragam, dari kopi, teh, gorengan hingga nasi rames. Karena tak memungkinkan memasak di atas perahunya yang kecil, gorengan dan nasi rames dibawa dalam keadaan matang. Sementara air panas untuk kopi dan teh disiapkan dalam tremos.

Mengingat konsumennya adalah para pemancing dari kalangan biasa, Bu Silah tidak mematok harga terlalu tinggi untuk daganganya meski dia harus berkeliling di atas perahu. Segelas kopi cukup Rp 3.000, sementara nasi rames Rp 5.000.

“Saya mulai berjualan dengan perahu sejak tahun 1978. Awalnya karena permintaan beberapa pemancing untuk dikirimi makanan. Karena tempat memancing di pinggir hutan, mereka kesulitan mendapatkan makan dan minum. Alhamdulillah bisa membantu”, jelas Bu Silah.

Melayani Para Mancing Mania di Waduk Sempor
Makanan dan minuman dijual dengan harga terjangkau. (Foto: Dok. Sigit Asmodiwongso)
Makanan dan minuman dijual dengan harga terjangkau. (Foto: Dok. Sigit Asmodiwongso)

Salah satu pemancing yang sempat ditemui, Setyo Nugroho (48) mengakui menjadi pelanggan tetap warung perahu Bu Silah.

“Rata-rata kami memancing dari pagi sampai sore. Bahkan ada beberapa yang menginap. Karena lokasi memancing ada di tepian waduk yang jauh dari pemukiman, keberadaan warung Bu Silah sangat membantu kami. Sekarang kami tak perlu repot-repot membawa bekal karena secara teratur Bu Silah berkeliling membawa makanan dan minuman,” ujar pemancing dari Desa Pekuncen ini.

Pandemi Covid-19 menurut Bu Silah tidak terlalu berpengaruh pada usahanya. Meskipun sebagai obyek wisata Waduk Sempor di tutup, para pemancing tidak menyurutkan niatnya untuk menyalurkan hobi. Terbukti ketika redaksi mengunjungi waduk ini di lebaran kedua, masih ditemui cukup banyak pemancing, bahkan hingga sampai ke ruas Sungai Kedungringin di sisi utara.

Saat Waduk Dangkal, Kesulitan Berjualan 

Faktor yang paling berpengaruh justru musim kemarau. Jika hujan tak kunjung datang dan volume air waduk menipis, otomatis jumlah pemancing yang datang juga akan menurun.

“Tahun lalu kami sempat berbulan-bulan tidak berjualan karena musim kemarau sangat panjang. Selain pemancingnya sedikit, juga air waduk terlalu dangkal. Sulit untuk membawa perahu mengampiri para pemancing,” jelas Pak Kusnan yang setia mendampingi istrinya berjualan.

Saat ini pemanfaatan bidang perikanan di waduk Sempor tidak hanya dalam bentuk pemancingan. Para penduduk lokal juga berprofesi sebagai nelayan yang rutin menjala ikan setiap pagi dan sore. Di beberapa tempat juga ditemukan keramba yang dimiliki oleh perorangan maupun kelompok. (Sigit Asmodiwongso)

Berita Terkait