Camping di Pantai Lampon, Momen Lihat Sunrise dan Kapal Nelayan Berangkat Melaut
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Sab, 4 Jan 2025
- visibility 2.868
- comment 0 komentar

Menjelang magrib, kami memutuskan untuk membuat perapian yang nantinya digunakan untuk bakar ayam dan jagung.
“Kita beli 3 kilo ayam yang dibuat jadi 26 potongan, jagungnya ada 20” kata Azka dan Devi.
Ketika masuk waktu sholat, dengan kesadaran masing-masing kami berbagi tugas dan peran. Hingga semua bahan telah siap, kami membuat lingkaran kecil untuk memulai santap malam kami. Doa makan malam dipimpin oleh Hoho.

Bermain di tepi Pantai Lampon. (Foto: Hari)
Menu Makan Malam
Menu kami malam itu ayam bakar, jagung bakar, kupat dari Cica, sambal matah yang dibuat Naura dan Nandini, serta appetizer chocochip cookies dari Azka. Yummy…!
Ada yang kurang yaitu minuman dan buah-buahan. Saya lupa tidak membawa minuman Sarsaparila yang disukai Hoho dan Ulhaq. Sebenarnya masih ada sisa beberapa botol di rumah. Untuk buah, beruntung Galih dan Dendi yang menyusul belakangan membawakan semangka segar.
Selesai santap malam, praktis tidak ada kegiatan lagi. Hanya karaoke kecil-kecilan menggunakan speaker yang dibawa oleh Zaki yang lalu dimanfaatkan oleh Naufal, Ulhaq, dan Fadhil untuk menyumbangkan suara emasnya. Sedangkan kaum perempuan memutuskan duduk-duduk di tepi bukit sambil bermain game kekinian.
Masih di jam 11 malam, Hoho berinisiatif blusukan untuk menangkap sinyal-sinyal keberadaan makhluk astral di sekitar Pantai Lampon. Kami kaum laki-laki yang khawatir dan tidak ingin dia kesambet lalu terbawa ke portal dimensi lain, memutuskan untuk menemani blusukan.
Berjalan ke arah selatan dan barat yang menuju ke Pantai Gebyuran (spot tersembunyi di sini), kami singgah di 2 lokasi. Gua Wora Wari dan Gua Celeng.
“Ada benda pusaka di dalam tanah, sejenis kujang,” kata Hoho sambil terengah-engah seperti kehabisan energi usai masuk ke dalam gua.








Saat ini belum ada komentar