Memahami Sejarah Awal Berdirinya Kebumen Secara Kronologis
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 20 Agu 2024
- visibility 22.653
- comment 0 komentar

Makam Ki Bodronolo dan istrinya di Desa Karangkembang, Kecamatan Alian, Kebumen. (Dok. Setyo Adi Nugroho/Potret Lawas Kebumen)
Atas jasanya memberikan minum kelapa aking kepada Sultan Amangkurat I maka Ki Kertowongso kemudian diangkat sebagai seorang Tumenggung dengan gelar Tumenggung Kalapa Aking I (Kolopaking I). Trah Kolopaking inilah yang secara turun temurun meneruskan kepemimpinan Panjer sejak Ki Bodronolo hingga masa pemerintahan Kolopaking IV.

Kompleks makam Tumenggung Kolopaking di Desa Kalijirek, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen. (Dok. Setyo Adi Nugroho/Potret Lawas Kebumen)
Trah Arungbinang
Selain trah Kolopaking, Kebumen juga mengenal trah Arungbinang. Munculnya nama Kebumen tidak terlepas dari seorang tokoh bernama Ki Bumi atau banyak pula yang menyebutnya Pangeran Bumidirjo. Ki Bumi adalah adik kandung Sultan Agung. Beliau merupakan salah satu tokoh yang tidak menyukai kepemimpinan anak Sultan Agung, yaitu Sultan Amangkurat I.

Kompleks makam Arungbinang di Desa Kuwarisan, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen. (Dok. Djangkaru Bumi)
Sultan Amangkurat I ingin menyingkirkan Ki Bumi dari lingkungan Mataram Islam. Ki Bumi kemudian melarikan diri ke arah Panjer. Sesampainya di Panjer, Ki Bumi diterima dengan baik oleh pemimpin Panjer saat itu yang bernama Ki Hastrosuto. Ki Hastrosuto adalah putra Ki Bodronolo. Pada akhirnya, Ki Bumi akan menetap dan menjalani sisa kehidupannya di Kutowinangun. Ki Bumi nantinya akan melahirkan trah Arungbinang yang silih berganti memimpin Kebumen pasca perubahan nama dari Panjer.
Nama Arungbinang sendiri merupakan gelar yang pertama kali diberikan kepada Joko Sangkrip, keturunan Ki Bumi. Joko Sangkrip atau Arungbinang I merupakan seorang bangsawan Surakarta yang semasa kecil memiliki penyakit kulit. Beliau kemudian mengembara menuju Kutowinangun untuk menemui pamannya. Penyakit kulit Joko Sangkrip sembuh setelah berendam di suatu sumber air yang kini dikenal dengan nama Sendang Arum Kutowinangun.
Perang Kupu Tarung (1831)
Adakah keterkaitan antara trah Kolopaking dengan trah Arungbinang? Pada tahun 1831, terjadi pertempuran sengit di daerah Tugu Lawet sekarang. Pertempuran tersebut dikenal dengan nama Perang Kupu Tarung. Pada Perang Kupu Tarung, Belanda menggunakan siasat adu domba agar Kolopaking IV (keturunan Ki Bodronolo penguasa Panjer) dan Arungbinang IV (keturunan Ki Bumi penguasa Kutowinangun) saling bertempur. Arungbinang IV akhirnya berhasil mengentaskan perlawanan Kolopaking IV.









Saat ini belum ada komentar