Memahami Sejarah Awal Berdirinya Kebumen Secara Kronologis
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 20 Agu 2024
- visibility 22.652
- comment 0 komentar

Makam Ki Bodronolo dan istrinya di Desa Karangkembang, Kecamatan Alian, Kebumen. (Dok. Setyo Adi Nugroho/Potret Lawas Kebumen)
Beralih kembali ke penyerangan Batavia, akhirnya pasukan Sultan Agung berhasil tiba di Batavia pada tanggal 21 Agustus 1629. Akan tetapi, mereka kembali mengalami kekalahan dari VOC. Meskipun mengalami kekalahan, peristiwa penyerangan pasukan Mataram Islam yang kedua ini dipandang sebagai momentum tepat berdirinya Kebumen.
Bantuan Ki Bodronolo dalam memasok kebutuhan pangan pasukan Mataram Islam dianggap penting karena mengandung nilai keteladanan. Merujuk pada persitiwa penyerangan tersebut, tanggal 21 Agustus akhirnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Kebumen sejak tahun 2018 silam.

Lukisan penyerangan pasukan Mataram Islam di Batavia. (Dok. Wikipedia)
Trah Kolopaking
Lantas dari mana muncul gelar Kolopaking yang sering masyarakat Kebumen dengar? Beberapa tahun kemudian, Mataram Islam telah berganti kepemimpinan. Raja baru tersebut ialah anak Sultan Agung yang memiliki gelar Sultan Amangkurat I. Pada masa kekuasaannya, Sultan Amangkurat I kerap membuat kebijakan yang merugikan kerajaan sehingga muncul banyak pemberontakan.
Salah satu pemberontakan yang terkenal dilakukan oleh Trunojoyo dari Madura. Sultan Amangkurat I terdesak dengan serangan Trunojoyo. Akhirnya Trunojoyo berhasil menguasai Mataram Islam, sedangkan Sultan Amangkurat I melarikan diri ke arah barat sampai tiba di Panjer.
Sesampainya di Panjer, Sultan Amangkurat I jatuh sakit. Kemudian beliau ditolong oleh pemimpin Panjer saat itu, yaitu Ki Kertowongso. Ki Kertowongso adalah cicit Ki Bodronolo. Sultan Amangkurat I singgah di Panjer saat malam hari. Kebetulan malam itu hujan turun dengan lebatnya. Sultan Amangkurat I meminta diberi minum air degan (air kelapa muda) kepada Ki Kertowongso. Oleh karena kondisi tidak memungkinkan, Ki Kertowongso tidak dapat memetik kelapa muda sehingga yang diberikan justru air kelapa tua kering (kelapa aking). Ajaibnya setelah diberi minum air kelapa aking, Sultan Amangkurat I justru menjadi sembuh.









Saat ini belum ada komentar