Kepemimpinan Ideal dan Etika Manajeman SDM untuk Mencapai Tujuan Organisasi
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 16 Okt 2024
- visibility 1.136
- comment 0 komentar

Teguh Kukuwiono, S. Pd. (Foto: Dok. Pribadi)
Oleh: Teguh Kukuwiono, S. Pd.*
SUMBERDAYA Daya Manusia merupakan aset terpenting dalam sebuah perusahaan yang harus dikelola dengan baik. Hal itu dilakukan tidak lain untuk dapat mewujudkan tercapainya tujuan organisasi.
Pada umumnya pimpinan perusahaan mengharapkan kinerja yang baik dari masing-masing karyawan dalam mengerjakan peranya atau tugasnya di perusahaan. Oleh karena itu kualitas SDM senantiasa harus dikembangkan dan diarahkan agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan.
Untuk menciptakan SDM yang berkualitas tentu tidak terlepas dari dua hal penting yang harus kita perhatikan yaitu Etika Manajemen SDM dan Kepemimpinan Ideal.
Pengertian Etika
Menurut Magnis Suseno, etika adalah sebuah ilmu dan bukan ajaran. Sebagai ilmu yang terutama menitikberatkan refleksi kritik dan rasional, etika dalam hal ini mempersoalkan apakah nilai dan norma moral tertentu harus dilaksanakan dalam situasi konkret tertentu yang dihadapi seseorang. Sehingga etika membutuhkan evaluasi kritis atas semua situasi yang terkait.
Manajeman SDM
Manajeman SDM adalah proses perencanaan, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan seluruh kegiatan pengadaan (rekruitmen) tenaga, pengembangan, pemberian kompensasi, pemeliharaan karyawan dan pemutusan hubungan kerja.
Mari kita lihat peran penting etika manajemen SDM dalam tahapan awal karyawan masuk yaitu tahapan rekuitmen. Ketika berbicara tentang etika rekrutmen dan proses pengadaan tenaga kerja pada suatu organisasi tentunya harus dipastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing dalam proses seleksi. Selain itu proses seleksi harus dilakukan secara adil dantransparan, dalam pengambilan keputusan didasarkan pada kualifikasi, kompetensi dan hasil tes yang objektif.
Kemudian dalam pengembangan sumber daya manusia dan kesempatan mengikuti pelatihan, bahwa setiap karyawan memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan keterampilan dan berkembang. Hal ini tentunya didukung oleh program pengembangan karir yang disusun secara transparan. Kemudian promosi serta kesempatan pengembangan didasarkan pada prestasi dan potensi bukan pada pertimbangan yang subjektif sehingga dapat menimbulkan kecemburuan di antara individu karyawan.
Baca Juga: Mengelola Instagram dalam Etika Bisnis untuk Social Media Marketing di Era Digital
Selanjutnya pemberian kompensasi juga berprinsip pada keadilan yang merata. Adil bukan berarti sama, akan tetapi proporsional sesuai dengan beban kerja maupun risiko kerja yang diembannya. Pembayaran gaji dilakukan tidak melewati waktu yang telah disepakati dan ditetapkan, tidak sampai keringat kering baru dibayar. Selain itu kebijakan gaji juga harus transparan tersosialisasikan kepada karyawan sehingga pegawai akan merasa puas.
Ketika sudah berada di lingkungan organisasi, setiap individu harus dilakukan setara dan adil. Perusahaan perlu menciptakan budaya yang dapat menjamin bahwa tidak ada perlakuan yang menimbulkan diskrimainasi terhadap karyawan yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Di sinilah sosok kepemimpinan yang ideal dapat mengambil peran.
Kepemimpinan Ideal
Kepemimpinan merupakan kata sifat yang berasal dari kata pemimpin. Pemimpin merupakan puncak dari sebuah organisasi. Menurut Imam Al Ghazali, sosok pemimpin ideal adalah pemimpin yang tertanam dalam dirinya tiga hal, yaitu ilmu pengetahuan, agama dan akhlaq (Hidayat, 2019, 106).
Tiga sifat kepemimpinan sebagaimana disebutkan di atas sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin mengingat apabila pemimpin mempunyai pengetahuan yang luas maka dia akan memiliki pemahaman yang luas dan mau menerima kritikan-kritikan yang membangun.
Sedangkan agama dan akhlak merupakan dua hal yang saling berkaitan karena hal tersebut akan dapat dijadikan sebagai cerminan, apabila agamanya bagus maka akhlaknya juga bagus, begitu pula sebalikanya.
Maka peran kepemimpinan yang ideal sangat penting. Selain memiliki visi yang jelas dalam mengelola sebuah organisasi juga dalam mengambil keputusan dapat dilakukan secara bijaksana dan membangun budaya yang saling mendukung antara satu dengan yang lainya.
Baca Juga: Etika Bisnis Tiktok Shop dalam Dunia Media Sosial
Setiap individu dapat terlibat dalam pemberian usulan untuk sebuah keputusan. Sehingga setiap individu di perusahaan akan merasa dihargai dan dianggap keberadaanya. Dari sini akan tercipta kinerja yang tinggi dari sumber daya manusia yang ada.
Dalam hal penyelesaian masalah, kepemimpinan yang ideal sebagaimana disebutkan oleh Imam al Ghazali maka akan mengedepankan tabayun sebagaimana diajarkan oleh agama. Masalah akan dikelola secara bijaksana dengan membuka ruang-ruang dialog dan mengambil keputusan yang solutif serta tidak ada yang merasa dirugikan.
Kesimpulanya, etika dalam manajeman sumberdaya manusia memiliki pengaruh yang besar terhadap kualitas sumber daya manusia mulai dari perencanaan hingga tahap terakhir yaitu pemutusan hubungan kerja. Selain itu, dengan menciptakan kepemimpinan yang ideal akan terbangun suasana kerja yang saling mendukung dan saling menghargai. Hal ini sangat penting sehingga terbentuk lingkungan kerja yang produktif.
Dalam jangka Panjang pertumbuhan perusahaan akan semakin baik dan mencapai kesuksesan karena didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berkinerja tinggi.
*Penulis: Teguh Kukuwiono, S. Pd Mahasiswa S2 Program Studi Magister Management Universitas Putra Bangsa.







Saat ini belum ada komentar