Kebumen Pernah Memiliki Dua Pabrik Gula
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 9 Apr 2025
- visibility 18.548
- comment 0 komentar

Rumah Sakit Pandjoeroeng (eks RSUD lama) dengan latar belakang cerobong asap pabrik gula Sitiredjo sebagaimana dimuat dalam Zendingsblad Voor Gereformeerde Kerken In Nederland (1918). (Foto: Dok. Historical Study Trips)
Oleh: Teguh Hindarto
BEBERAPA hari lalu, saya menghabiskan waktu bersama keluarga untuk menonton sebuah tayangan film baru berjudul, “Pabrik Gula”. Saya bukan penggemar film horor lokal, namun karena judulnya beririsan dengan minat saya terkait sejarah maka didorong curiosity (keingintahuan) menonton film ini menjadi pilihan.
Sejak awal menonton hingga selesai, saya menikmati dan puas dengan plot dan penokohannya serta teknologi CGI yang memperlihatkan sejumlah adegan gore (berdarah) serta kemunculan penampakkan demonik yang tidak kalah dengan film-film Barat based on true story macam Conjuring.
Meskipun tidak mengangkat isu sejarah secara langsung, melainkan kisah-kisah demonik di balik keberadaan bangunan bersejarah, film ini bisa mengantarkan penontonnya untuk membaca masa lalu ketika gula dan pabrik gula (suikerfabriek) menjadi komoditas berjaya dan perangkat modern khususnya di era Hindia Belanda.
Bicara soal gula dan pabrik gula, Kebumen pun pernah memiliki dua pabrik gula yang menyerap sejumlah tenaga kerja dan memutar roda ekonomi meskipun lebih banyak membawa keuntungan bagi pemerintahan Belanda. Sebelum kita mengulas apa dan di mana serta bagaimana pabrik gula di Kebumen, terlebih dahulu kita mengulas setting sosial ekonomi kemunculan ekonomi gula di Hindia Belanda.
Keberadaan pabrik gula di Jawa tidak dapat dilepaskan dari kepentingan pemerintahan Belanda pasca Perang Jawa (1830) yaitu untuk menutup kas pemerintahan yang nyaris bangkrut untuk membiayai perang maka melalui kebijakan Cultuurstelsel (Tanam Paksa) di mana sejumlah tanaman dijadikan komoditas wajib tanam dan ekspor yaitu tebu, kopi dan nila. Nama Johannes van Den Bosch Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1830-1834 yang ditunjuk oleh Raja William I disebut sebagai pencetus ide Cultuurstelsel.
Ekonomi Gula di Era Cultuurstelsel
Di bawah sistem Cultuurstelsel (1830-1870), sebuah industri telah dikembangkan berdasarkan pada hampir seratus pabrik baru yang tersebar di dataran rendah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang padat penduduk. Kelompok pemegang konsesi yang dikontrak untuk menjalankan pabrik-pabrik ini di bawah naungan Cultuurstelsel terdiri dari orang-orang Eropa lokal atau ekspatriat (kebanyakan dari mereka orang Belanda) bersama dengan sebagian kecil orang Indonesia-Cina (tidak ada orang Jawa di antara mereka), demikian tulis G. Roger Knight (Commodities and Colonialism: The Story of Big Sugar in Indonesia, 1880-1942, 2013:6).







Saat ini belum ada komentar