

KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Belakangan muncul kritik yang menganggap bahwa Kebumen Fest 2025 terlalu eksklusif, mahal, dan tidak berpihak pada masyarakat kecil. Narasi ini wajar muncul, namun perlu dilihat secara lebih utuh agar tidak jatuh pada simplifikasi yang menyesatkan.
Pertama, soal pembatasan area dan dinding penutup, hal ini lazim dalam manajemen event berskala besar. Tujuannya bukan membatasi rakyat, melainkan menjaga keamanan, kenyamanan, dan keteraturan. Pengaturan akses diperlukan agar acara dapat berjalan tertib, apalagi melibatkan puluhan ribu pengunjung. Dengan kata lain, pagar atau dinding bukanlah simbol eksklusivitas, tetapi standar prosedur keselamatan.
Kedua, isu harga tiket konser yang dianggap tidak merakyat perlu ditimbang dengan perspektif ekonomi kreatif. Merujuk laporan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) tahun 2022 tentang Creative Economy Outlook, penyelenggaraan konser dan festival memiliki dua fungsi: (1) memberikan hiburan berkualitas, (2) mendatangkan nilai ekonomi baru dari luar daerah.
Tiket memang tidak bisa gratis, karena ada biaya produksi, artis nasional, dan standar profesional yang harus dipenuhi. Justru dengan mendatangkan penonton dari luar Kebumen, roda ekonomi lokal seperti hotel, transportasi, kuliner ikut bergerak. Artinya, manfaatnya lebih luas daripada sekadar tiket.
Ketiga, mengenai harga stand UMKM, memang benar tidak semua pedagang bisa masuk ke area premium. Namun, perlu dilihat bahwa festival besar bukan sekadar arena dagang kecil-kecilan, tetapi juga panggung branding UMKM agar naik kelas.
Pelaku usaha perlu didorong masuk ke level lebih tinggi dalam rantai nilai. Harga sewa stand yang relatif tinggi bisa dimaknai sebagai bentuk kurasi, agar produk yang tampil memang siap bersaing di level yang lebih tinggi. Sementara pedagang harian tetap bisa menikmati limpahan pengunjung di area sekitar ekshibisi.
Akhirnya, pertanyaan “Kebumen Fest untuk siapa?” dapat dijawab dengan jelas: untuk semua, tapi dengan peran yang berbeda. Masyarakat mendapat hiburan, UMKM mendapat promosi, pelaku wisata mendapat pasar baru, dan pemerintah mendapat legitimasi bahwa Kebumen mampu menyelenggarakan event kelas nasional.
Alih-alih melihat Kebumen Fest sebagai ajang eksklusif, sebaiknya kita memaknainya sebagai investasi sosial-budaya-ekonomi. Ya, ada yang perlu evaluasi, tapi menutup mata pada manfaat besarnya justru merugikan kita sendiri.
News & Inspiring