Cerpen: Seribu Hari Kematian Kakek
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 25 Okt 2025
- visibility 731
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
LISTRIK tak kunjung hidup setelah seharian mati. Persediaan lilinmu tinggal satu dan sudah kau bakar sekarang, untuk satu ruangan. Malam ini hari ke-1000 setelah kematian kakekmu.
Setelah acara peringatan kematiannya malam itu, sesudah para tetangga dekat dan saudara jauh pulang ke rumah masing-masing.
Tinggal kau dan beberapa saudara dekat. Saudara satu kampung yang tak buru-buru pulang. Mereka berbagi kesan-pesan kakek semasa hidupnya. Kau sendiri mungkin punya beberapa kesan-pesan atau ulasan.
***
1000 hari sebelum hari itu kau masih siswa di SMK di daerahmu. Hari itu seperti biasa, pagi kau berangkat dan sore kau pulang dari sekolah. Sesampainya di rumah kau mendapati rumahmu dipenuhi warga, Pak RT, Bu RT, tetangga, saudara dan para cucunya. Sebagian warga wajahnya murung, muram, sedih. Sebagian lagi biasa saja termasuk wajahmu.
“Kakekmu sudah tidak ada,” kata salah seorang warga kepadamu. Kau mengangguk dan melanjutkan tujuanmu semula pulang ke rumah, melewati pintu belakang. Kau menemukan beberapa orang sedang menangis, beberapa orang menepuk nepuk pundak yang sedang menangis, beberapa orang bergerak pasti dan cepat. Berseliweran.
Kau cepat-cepat meletakan tas mengganti sepatu dengan sandal dan mengganti baju seragam dengan baju berwarna hitam. Kau menuju depan rumah, peti mati sudah terisi, sudah diangkat dan segera berangkat. Kau mengikutinya dari belakang sampai ke tempat pemakamanan, sampai dikuburkan, dan sampai ditinggalkan.
***
Kakekmu meninggal setelah tidur siangnya hari itu tidak membuatnya terjaga kembali. Kematian seperti itu mungkin semacam ideal bagi orang-orang yang mempunyai penyakit tak kunjung sembuh, atau sudah tahu bahwa hilangnya penyakit itu sama halnya kematiannya.
Kakekmu adalah orang tua pada umumnya, berambut putih, wajahnya keriput, dan sering kelelahan dalam hal-hal yang saat muda dianggap enteng. Seperti berjalan 1 km membawa sekantong pakan ternaknya. Itu sudah membuat dia mengeluh kelelahan selama dua sampai tiga hari.
Dia punya hobi mengganggu tidur orang-orang rumah dengan menghidupkan radio dengan volume tinggi di tengah malam hingga pagi. Pendengaran yang berkurang beriringan dengan bertambahnya usia yang semakin uzur. Atau karena hobinya yang lain mengkonsumsi obat warung berlebihan ketika kepala sakit.
Dia punya alasan logis atas gangguan yang dia berikan: karena pendengaran yang berkurang. Orang rumah hanya bisa mengeluarkan kekesalannya kepada sesama orang rumah kecuali kakek. Karena perlu pendekatan khusus yakni: suara keras atau teriak.
Karena dia terjaga dan mendengarkan radio tengah malam hingga pagi. Dia akan mengganti jatah tidurnya di tengah siang. Sialnya di sekitar rumahmu banyak anak-anak yang bermain dengan riang seperti bersepeda, bermain layang-layang, bermain petak umpet, dan apapun semaunya mereka. Yang akan menjadi sasaran kemarahan kakekmu, karena dianggap berisik dan mengganggu tidurnya.
Suatu ketika kau pernah menemukan anak-anak itu diam tanpa suara dan kakekmu dengan lantang mengomel.
“Jangan di sini kalau mau berisik! Di hutan saja kalau mau,” Dengan tangan menunjuk nunjuk yang dianggap ketua dari mereka ini.
Anak-anak itu segera diam dan tegang dan takut. Dia segera meninggalkan mereka dengan muka yang marahnya belum padam. Sesaat mereka melihat dia sudah jauh di dalam rumah mereka langsung tertawa kecil. “Bukanya dia yang berisik,” ujar salah satu dari mereka.
Lalu kau yang sedang duduk di teras rumah menimpali mereka “dia tuli parah” dengan tawa ringan. Dan mereka tertawa dengan lebih berani dari sebelumnya.
Tapi tidak semua tentang dia adalah pengalaman buruk. Karena setiap sakit kepala sedikit saja, batuk atau pilek dia akan memintamu membelikan obat ke warung. Kau akan beralasan motormu tidak cukup bahan bakar untuk ke warung. Kemudian dia akan berkata, ambil kembaliannya untuk bensin.
Sebenarnya itu bukan pengalaman baik tapi upah dari kecerdasanmu atau kelicikanmu, tergantung siapa yang mengatakan: kakekmu atau kau.
***
Listrik menyala sebelum lilin habis dan percakapan semakin panjang, semakin hangat, dan waktu yang semakin malam. Kau mendengarkan orang-orang di ruangan itu mengenang kakekmu. Kebanyakan yang baik-baik saja dan tak kunjung muncul kesan-kesan yang buruk. Kau menunggu itu sampai kantuk dan memutuskan untuk segera tidur.
Di pagi harinya kau masih memikirkan kenapa orang-orang hanya mengungkapkan kesan-kesan baik saja kepada yang sudah mati. Bukankah lebih mudah memberi kesan buruk pada yang sudah mati ketimbang yang masih hidup, karna dia sudah mati dan tidak mungkin bisa membantah kesan itu.
Pertanyaan itu tetap ada di kepalamu untuk beberapa hari sebelum kau mengetahui ada kata-kata Chilo, filsuf dari Sparta yang berbunyi: “De Mortuis nihil nisi bonum” yang artinya “Tentang orang mati, katakanlah hanya yang baik.”
Setelah itu mungkin kau mulai menerima orang-orang yang memberi kesan-kesan baik pada yang mati. Atau mungkin membenci Chilo dari Sparta itu. Makin Tahu Indonesia
Penulis: Khating, Bekerja sebagai tukang kunci di Yogyakarta







Saat ini belum ada komentar