Cerita Pendek: Sebentuk Hati (2-Habis)
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 5 Okt 2024
- visibility 2.691
- comment 0 komentar

Ilustrasi: Cerpen Sebentuk Hati.
“Tenang aja. Aku gak akan hubungin kamu lagi. Salam untuk istrimu. Semoga kalian bahagia, ” ucap Dea mengakhiri percakapan.
Barjo dan Dea memang berpisah baik-baik. Dea yang tinggal di Bandung dan berprofesi sebagai seorang psikolog sangat memahami situasi yang terjadi. Ia pun menerima semuanya dengan bijak dan sikap dewasa.
***
“Maliiiikkkk…” suara Riri tiba-tiba terdengar dari arah kamar. Barjo bergegas untuk melihat istrinya yang sejak kemarin demam tinggi.
“Ri, kamu kenapa?”
Riri langsung terbangun ia melihat wajah pria di depannya yang menatap penuh rasa khawatir.
“Kamu mau aku buatin sesuatu? Kamu belom makan dari kemarin,” ucap Barjo lembut sembari mengusap rambut istrinya.
“Aku cuma mau Maliiik, dia mati gara-gara akuuuu, akuu salaaaah,” gumam Riri sembari menangis.
“Ri, itu bukan salah kamu. Itu sudah takdir, kita hanya bisa mendoakannya semoga dia tenang di sisi Allah. Kamu harus ikhlas ya..,”
Riri akhirnya tertidur lagi setelah setengah mati Barjo berusaha menenangkannya.
Barjo pun menyelimuti tubuh istrinya sebelum akhirnya mencoba tidur. Tubuhnya terasa letih luar biasa.
***
Suara ayam berkokok membangunkan Barjo.
“Jam berapa sekarang?” serunya sembari terlonjak. Barjo kaget saat matanya mendapati istrinya sudah mandi dan tengah menyisir rambutnya di depan meja rias.
” Kamu udah mandi?” tanya Barjo.
Riri hanya tersenyum datar tanpa menjawab.
Usai sarapan, Riri, Barjo dan orangtuanya berbincang sembari menikmati kopi panas.
“Aku balik Jakarta sore nanti, pak” ucap Barjo sembari menyeruput kopi gula aren favoritnya.
“Gak bisa diperpanjang cutinya?”
“Banyak yang harus diselesaikan, Pak” jawab Barjo.
“Istrimu gimana? Riri, kamu ikut suamimu, kan?”














Saat ini belum ada komentar