Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu, Lima Abad Jadi Pusat Pendidikan Islam
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 2 Apr 2023
- visibility 4.245
- comment 0 komentar

Asrama panggung masih dipertahankan di Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu. (Foto: Istimewa)
Gus Afif yang memimpin pesantren itu sejak tahun 1992-1993 tersebut awalnya mendirikan SMK Al Kahfi tahun 1995 dan sekarang berkembang memiliki 12 kelas. Sukses mendirikan SMK, tahun 2003 disusul mendirikan SMP Al Kahfi yang kini memiliki Sembilan kelas. Baru setelah itu dirikan SMA Al Kahfi yang baru memiliki tiga kelas. Sebagian siswa sekolah tersebut sembari mondok di pesantren, dan sebagian lagi siswa dari sekitar pesantren.
“Untuk SMA baru tiga kali meluluskan,” ujar Gus Afif seraya bercita-cita mendirikan sebuah perguruan tinggi.
Selain menjadi pusat ilmu keislaman untuk sehingga menelurkan sejumlah ahli agama yang tersebar di penjuru Nusantara, Pesantren Al Kahfi masih menyimpan kekayaan sejarah yang luar biasa. Selain bangunan berupa masjid yang menjadi salah satu cagar budaya, para pendiri Pesantren itu mewariskan berbagai manuskrip dan kitab-kitab kuno serta risalah sejarah.
Berbagai Manuskrip Kuno Tersimpan di Pondok Pesantren

Gedung perkuliahan di Akademi Komunitas Al Kahfi Somalangu. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
Berbagai manuskrip yang berumur ratusan tahun itu masih tersimpan di sebuah tempat khusus di dalam pesantren. Kitab-kitab kuno dan manuskrip itu jumlahnya ribuan. Baru sebagian kecil telah dibaca dan dipelajari oleh ahli dari dinas kepurbakalaan Jateng. Karena itu dibutuhkan tempat sekaligus sistem perawatan naskah-naskah kuno yang erat dengan tinggalan sejarah itu demi kepentingan ilmiah, wisata serta rekonstruksi sejarah.
“Dalam satu manuskrip kuno terdapat dokumen kesepakatan untuk tidak saling menganggu antara pengasuh pondok dengan seorang resi di wilayah Borobudur. Artinya masa itu telah mengenal konsep toleransi,” ujar Gus Afif.
Pondok Somalangu juga masih menyimpan tanda kenang-kenangan dari Hang Tuah, tokoh ulama keturunan Cina Melayu yang pernah datang ke Somalangu. Yang jelas masih banyak sejarah belum tersibak dari manuskrip dan kitab-kitab kuno yang diwariskan para leluhur Pondok Somalangu.
Atas dasar banyaknya peninggalan sejarah dan budaya di pesantren itu, sejak kepemimpinan Bupati Dra Hj Rustriningsih MSi digagas Pesantren Somalangu berikut peninggalannya dijadikan cagar budaya religius. Awalnya muncul pemikiran untuk mendirikan perpustakaan dan museum.
Baca Juga: Tanpa Dukungan Konkrit Pemerintah, Jangan Paksakan Normal Baru di Pesantren
Namun melihat aset budaya dan sejarah yang tersisa, mulai kitab-kitab lama, bangunan masjid tua, kawasan pondok, ada yoni dan lingga, serta perkampungan dengan rumah-rumah penduduk berarsitektur lama, kawasan Somalangu layak menjadi cagar budaya religius.
Namun hingga setelah Rustriningsih menjabat sebagai wakil gubernur Jateng, dan jabatan dipegang KH Nashiruddin Al Mansyur kemudian berganti dipimpin oleh H Buyar Winarso SE, H Mohammad Yahya Fuad SE, KH Yazid Mahfudz, hingga Bupati saat ini H Arif Sugiyanto SH rencana tersebut tidak lagi terdengar kabarnya beritanya.
“Pergantian pejabat mulai dari pemerintah kabupaten hingga pemerintah desa, membuat pejabat sekarang ahistoris dengan rencana yang disusun dahulu,” ujarnya. (Supriyanto-91)
Sumber: Suara Merdeka via kebumenkab.go.id)







Saat ini belum ada komentar